Autumn Durald Arkapaw dikaruniai penghargaan Oscar ke-98 untuk kategori Best Cinematography untuk film Sinners. Ia menjadi perempuan pertama yang berhasil mendapatkan penghargaan tersebut.
Kemenangan bersejarah Autumn Durald Arkapaw di Penghargaan Academy ke-98 untuk kategori Best Cinematography atas film Sinners karya Ryan Coogler bukan hanya sebuah pencapaian pribadi, tetapi juga momen bersejarah bagi para perempuan di industri film—terutama perempuan kulit hitam.

Arkapaw, yang memiliki latar belakang keturunan Kreol-Filipina berkulit hitam, dengan sempurna menerjemahkan visi Coogler tentang Clarksdale, Mississippi, tahun 1932, di jantung Delta Mississippi selama era Jim Crow ke dalam layar. Ia menangkap deretan tanaman yang tak berujung di mana kerja paksa yang melelahkan menjadi cara hidup yang dipaksakan, gereja berruang tunggal di mana suara pendeta berfungsi sebagai jalur utama menuju surga, serta bar musik yang berdebu yang mengangkat semangat—baik yang baik maupun yang buruk. Kisah gotik tentang vampir, musik blues, serta pencurian dan ketangguhan seni kulit hitam menuntut seorang sinematografer yang memahami horor dan sejarah.

Gaya penceritaan visual Arkapaw dalam film Sinners telah membawa medium ini ke level yang lebih tinggi, baik secara kreatif maupun teknis. Ia menjadi wanita pertama yang menggarap syuting menggunakan format IMAX 65mm dan Ultra Panavision yang sangat besar, sebuah prestasi yang menempatkannya di jajaran sinematografer paling ambisius secara teknis di era kini. Karyanya berhasil memperkuat atmosfer yang menghantui dalam film tersebut, dengan memanfaatkan skala, bayangan, dan tekstur untuk membenamkan penonton dalam dunia yang dibentuk oleh penindasan, spiritualitas, dan perjuangan artistik. Kemenangan Arkapaw kini menandai babak baru—di mana perempuan kulit hitam tidak hanya berkecimpung di bidang-bidang teknis, tetapi juga memimpinnya.

Dalam pidato penerimaannya, Arkapaw memuji upaya kolektif para perempuan di industri ini. Ia mengajak para perempuan di antara hadirin untuk berdiri, mengakui bahwa prestasinya dibangun atas kerja keras dan ketekunan banyak orang lain yang berjuang untuk mendapatkan tempat di bidang yang secara historis didominasi oleh pria kulit putih. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada industri film yang pada saat yang sama pernah mendiskriminasinya. Namun, kata-katanya ditujukan pada sesuatu yang lebih besar. “Saya sungguh berharap saya akan selalu menjadi kebanggaan bagi ras saya dan industri perfilman,” katanya, berdiri di hadapan ruangan yang dipenuhi orang-orang yang sama yang melarangnya menghadiri pemutaran perdana film yang membuatnya meraih penghargaan tersebut.





