Share
Dikta Buka Sisi Paling Jujur dan Personal Lewat EP “Unapologetic”
Marwah Kollin
19 May 2026

Lewat EP terbaru “Unapologetic”, Dikta menghadirkan eksplorasi musik paling personal dalam perjalanan kariernya—mulai dari self-love, hubungan, keluarga, hingga keresahan terhadap lingkungan, dibalut dalam enam lagu yang jujur dan emosional.


Setelah cukup lama tidak merilis proyek besar, Dikta akhirnya kembali memperkenalkan EP terbaru bertajuk “Unapologetic”, sebuah proyek musik yang menjadi penanda arah baru dalam perjalanan bermusiknya. Dirilis pada Mei 2026, EP ini terasa jauh lebih personal, detail, dan emosional dibanding karya-karya sebelumnya. Menariknya, seluruh proses pengerjaan “Unapologetic” rampung hanya dalam waktu dua bulan—sebuah proses yang cepat, intens, namun penuh eksplorasi kreatif.

Bagi Dikta, “Unapologetic” bukan hanya sekadar judul, tetapi juga representasi dirinya saat ini. Ia mengaku ingin membuat musik yang lebih sederhana, jujur, dan sesuai dengan karakter musik yang benar-benar ia sukai.

Saya suka musik yang lurus, jelas, bagannya jelas, nyanyinya juga nggak dimacem-macemin,” ungkapnya.

Dikta Unapologetic



Ia bahkan menyebut EP ini sebagai proyek paling detail yang pernah ia kerjakan. Lewat “Unapologetic”, Dikta ingin memperlihatkan perubahan arah musikalitasnya—lebih matang, lebih sederhana, namun tetap kuat secara emosi.

Dari enam lagu yang ada di dalam EP ini, “Stop Bilang Iya” dipilih sebagai fokus utama. Lagu tersebut mengangkat tema tentang self-love dan keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri. Lewat lagu ini, Dikta mencoba menyampaikan bahwa tidak semua hal harus selalu dijawab dengan “iya”.

Sementara itu, lagu “Aku, Kamu, Kita” lahir dari cerita orang terdekat yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah narasi yang terasa dekat dengan realita banyak orang. Menurut Dikta, kisah seperti ini sering terjadi, namun belum banyak diangkat secara jujur ke dalam lagu.

Nuansa emosional juga terasa kuat di lagu “Kita Cari Cara”, yang menggambarkan hubungan di ambang kehancuran namun masih berusaha dipertahankan. Dalam visualisasinya, hubungan tersebut digambarkan seperti wahana dunia yang rusak, tetapi kedua orang di dalamnya tetap memilih bertahan bersama.

Secara lirik benar-benar dipikirkan supaya emosinya sampai dan tetap terasa seperti pasangan yang sedang fight buat bertahan.

Di antara seluruh lagu dalam EP ini, “Papa Tenang Aja” menjadi salah satu lagu paling personal bagi Dikta. Lagu tersebut ditulis sebagai ungkapan rindunya kepada sang ayah dan menjadi ruang emosional yang selama ini ingin ia sampaikan.

Ia mengaku proses rekaman lagu ini menjadi salah satu yang paling sulit, baik secara teknis maupun emosional. Lagu tersebut lahir di fase ketika dirinya sedang merasa lelah dan merindukan sosok ayahnya.

Sekarang udah nggak bisa ngobrol lagi sama papa. Lagu ini kayak mau ngasih tahu kalau semuanya udah baik-baik aja.”

Tak hanya berbicara tentang hubungan personal, Dikta juga menghadirkan keresahannya terhadap lingkungan lewat lagu “Hujan”. Lagu tersebut menjadi sindiran terhadap manusia yang sering merasa paling benar, namun justru merusak bumi.
“Ini sebenarnya lagu cinta buat bumi.”

Nuansa personal kembali hadir di lagu “Goda-Godaan”, sebuah remake yang juga menjadi tribute untuk sang ibu, Endang Pratiwi. Nama sang ibu bahkan ditulis langsung di dalam lirik lagu tersebut.

Meski dikerjakan dalam waktu singkat dengan tim inti yang hanya terdiri dari lima orang, Dikta merasa seluruh proses di balik “Unapologetic” dilakukan secara maksimal. Ia berharap EP ini bisa diterima dan dinikmati oleh banyak orang.

“Semoga dengan album ini, kita bisa lebih happy lagi dan hidup jadi lebih harmonis sama diri sendiri, lingkungan, dan keluarga.” Ungkap Dikta.

Lewat “Unapologetic”, Dikta tidak hanya menghadirkan comeback, tetapi juga memperlihatkan transformasi dirinya sebagai musisi yang lebih jujur, lebih tenang, dan semakin mengenal arah musik yang ingin ia jalani.