Di ISMAYA Group, perempuan diberi ruang bukan hanya untuk berkembang, tetapi untuk memimpin.
Dunia Food & Beverage (F&B) dan lifestyle seringkali dipersepsikan sebagai industri yang didominasi oleh pria, terutama dalam ranah operasional yang intens dan jajaran petinggi di balik layar. Namun, ISMAYA Group mendobrak stigma tersebut dengan membuktikan bahwa kompetensi tidak mengenal gender.
Melalui visi "Work Where Women Thrive," ISMAYA Group menunjukkan transformasi luar biasa yang tercermin dari struktur organisasinya. Jika pada tahun 2021 hanya ada satu perempuan di level eksekutif, maka di tahun 2026, sekitar 80% posisi pimpinan kini diisi oleh perempuan. Bagi Rika S. Jatnikaningsih, HR Director ISMAYA, perubahan ini bukan soal mengejar angka, melainkan hasil dari sistem meritokrasi yang dijalankan secara konsisten. Kesempatan dibuka seluas-luasnya bagi siapa pun yang mampu membuktikan kualitas dan kontribusinya.
“Yang kami lihat adalah kompetensi, potensi, dan pengalaman,” ujarnya. Karena itu, setiap proses—mulai dari promosi hingga talent review dan assessment—didasarkan pada kualitas individu, bukan gender. Dari pendekatan inilah lahir lingkungan kerja yang tidak hanya setara, tetapi juga benar-benar mendorong setiap orang untuk berkembang berdasarkan kemampuan terbaiknya.
Perjalanan ini tercermin jelas dalam pengalaman President Director ISMAYA, Cendyarani. Ia mengingat bagaimana pada 2021 dirinya menjadi satu-satunya perempuan di jajaran eksekutif. Lima tahun kemudian, komposisinya berubah drastis. “Yang dinilai adalah kemampuan untuk berkarya dan berkontribusi,” katanya. Pernyataan ini menegaskan bahwa kesetaraan di ISMAYA bukan sekadar narasi, melainkan praktik yang hidup dalam keseharian organisasi.
Di sisi lain, ia juga menyoroti bagaimana pengalaman hidup perempuan, yang sering kali harus menjalankan berbagai peran sekaligus, membentuk perspektif kepemimpinan yang lebih luas. “Kami terbiasa melihat banyak sisi dalam satu waktu. Bisa tegas, tapi tetap punya empati. Keputusan tidak selalu hitam putih, karena kami memahami realitas yang dihadapi tim,” ungkapnya. Perpaduan antara ketegasan dan empati inilah yang melahirkan gaya kepemimpinan yang lebih inklusif dan manusiawi.
Perspektif tersebut terasa relevan ketika melihat bagaimana perempuan di ISMAYA memaknai peran mereka dalam membangun brand. Anggun Melati, Sr Vice President Marketing Lifestyle Concepts, menekankan bahwa perusahaan secara aktif membuka peluang bagi perempuan di berbagai peran, termasuk yang sebelumnya didominasi laki-laki. “Kami mendorong perempuan untuk mencoba apa pun yang mereka inginkan—mulai dari floor staff hingga bartender dan DJ. Kami tidak hanya memberi kesempatan, tapi juga dukungan agar mereka bisa berkembang,” jelasnya.
Lebih dari itu, ia melihat perempuan sebagai kekuatan utama dalam membentuk brand masa kini. “Perempuan hari ini bukan sekadar target market, tapi pembentuk kultur. Kami tidak membangun brand hanya untuk perempuan, tetapi bersama perempuan,” katanya. Dengan pendekatan ini, pengalaman yang dihadirkan ISMAYA tidak berhenti pada estetika atau tren semata, tetapi berangkat dari pemahaman yang lebih dalam terhadap gaya hidup dan kebutuhan perempuan modern.
Devleena Sashital, Director of Marketing Restaurant Concepts, melihat hal serupa dari sisi pengalaman pelanggan. Baginya, memahami konsumen memang tugas semua pemasar, bukan hanya perempuan. Namun, ia percaya bahwa perempuan sering membawa empati dan perhatian pada detail yang lebih tajam, sehingga mampu menangkap nuansa kecil yang membuat pelanggan merasa nyaman.
Ia mencontohkan Kitchenette sebagai ruang makan keluarga yang dirancang agar setiap orang punya pengalaman yang sesuai dengan kebutuhannya. “Ibu bisa pesan salad, anak-anak bisa makan pasta, ayah bisa makan steak, bahkan pengasuh pun tetap ada pilihan seperti nasi goreng,” ujarnya. Detail seperti inilah, menurutnya, yang membuat pengalaman di restoran terasa lebih hangat dan inklusif.
Sementara itu, di lini operasional, keseimbangan antara presisi dan koneksi menjadi kunci. Diana Abbas, Operations Director Lifestyle Concepts, menjelaskan bahwa operasional menuntut struktur, konsistensi, dan efisiensi yang tinggi. Namun di saat yang sama, ia menekankan pentingnya memahami sisi manusia di balik performa.
“Saya tidak hanya memperhatikan standar dan hasil, tetapi juga bagaimana tim berpikir, merasa, dan termotivasi,” katanya. Baginya, kemampuan menjaga performa sambil membangun koneksi membuat hasil kerja jadi lebih konsisten dan lebih bermakna. Ada keseimbangan antara ketegasan dan kedekatan, antara target dan manusia yang menjalankannya.
Meski demikian, perjalanan di industri F&B tentu tidak lepas dari tantangan. May Wiji Astuti, Sr Vice President Operations Resto, menekankan pentingnya kombinasi antara kompetensi, mental yang tangguh, dan dukungan yang kuat. “Perempuan perlu memiliki keahlian yang solid dan ketahanan menghadapi tekanan. Tapi yang tidak kalah penting adalah dukungan, baik dari organisasi maupun keluarga,” jelasnya. Dengan pondasi tersebut, ia percaya perempuan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga melangkah lebih jauh hingga memimpin.
Kekuatan ini juga terasa di lini supply chain, yang kerap menjadi tulang punggung bisnis namun jarang terlihat. Villisia Yolanda, Sr Vice President of Supply Chain, menilai bahwa perempuan memiliki keunggulan dalam mengelola kompleksitas. “Kami terbiasa menjalankan banyak peran sekaligus, jadi lebih detail, tangguh, dan adaptif,” katanya.
Dalam pandangannya, perhatian terhadap detail membantu meminimalkan risiko, sementara ketangguhan membuat seseorang tetap stabil di tengah perubahan dan persaingan. Ditambah empati, perempuan mampu memahami proses dan manusia di baliknya, baik internal maupun eksternal. Kombinasi itulah yang menurutnya menjadi kekuatan strategis dalam menghadapi tantangan supply chain.
Seiring ekspansi ISMAYA ke berbagai wilayah baru, dampaknya pun meluas. Martha M. Tambunan, Vice President Market Expansion, melihat bahwa pertumbuhan bisnis tidak hanya soal membuka gerai, tetapi juga menciptakan peluang. “Setiap kali ISMAYA hadir di lokasi baru, ada kesempatan bagi perempuan di daerah tersebut untuk ikut tumbuh dan berkontribusi,” ujarnya. Dengan demikian, ekspansi bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang memperluas dampak sosial dan ekonomi.
Jika dirangkai, seluruh perspektif ini membentuk satu benang merah yang kuat: ISMAYA tidak hanya berbicara tentang kesetaraan, tetapi membangun sistem yang memungkinkan hal tersebut terjadi. Dari rekrutmen hingga kepemimpinan, dari marketing hingga operasional, semuanya berpijak pada prinsip yang sama—bahwa kontribusi dinilai dari kualitas, bukan gender.

Pada akhirnya, ISMAYA bukan hanya sekadar tempat kerja, tetapi sebuah ekosistem di mana perempuan bisa tumbuh, memimpin, dan membentuk masa depan—bukan karena mereka perempuan, tetapi karena mereka mampu. Dan di situlah makna sebenarnya dari “Work Where Women Thrive” terasa hidup, yakni sebuah ruang dimana potensi dihargai, suara didengar, dan setiap individu diberi kesempatan untuk bersinar.
Venue: SKYE Rooftop Dining & Lounge
DESIGNER BRANDS:
Maison Obscura - @ms.quaintrlle
BLZR.ID
Shemade
SOLEK (@aakielaa)
Stylist: @zhalfakayla
Assist: @rafifdarin





