Melalui sepiring makanan, resep yang dibagikan, atau momen sederhana, Chef Dinda memiliki suatu cita-cita yang mulia: menghadirkan cita rasa Indonesia kepada dunia, lengkap dengan cerita di baliknya.
Chef, pemilik bisnis, sekaligus content creator Dinda Alamanda selalu berkarya dari hati, yang senantiasa terasa dalam masakannya dan dalam cara ia membangun narasi melalui makanan. Ia menjadi bagian dari generasi baru kreator kuliner Indonesia yang berkarya dengan kehangatan, niat, dan rasa yang personal.
Perjalanannya dimulai dari MasterChef Indonesia Season 9. Untuk audisi online, ia menghadirkan Gulai Rebung Kepala Kakap, sementara di audisi on-air ia menyajikan Ayam Lahat, terinspirasi dari kampung halamannya di Sumatera Selatan. Ia pun meraih persetujuan penuh dari Chef Juna Rorimpandey, Chef Renatta Moeloek, dan Chef Arnold Poernomo, menjadikannya salah satu dari tiga kontestan yang langsung mendapatkan apron putih tanpa melalui tahapan Bootcamp.
Sejak itu, langkahnya meluas ke ruang digital. Melalui @dindaalamanda_ dan @aladinda_cookery, ia membagikan keseharian, perjalanan, serta resep yang menarik dan mudah diikuti. Kehadiran suami dan keempat anaknya memperlihatkan satu hal yang konsisten: makanan menjadi suatu jembatan yang menyatukan keluarga.
Inti dari semua yang ia lakukan tak jauh akarnya dari perannya sebagai ibu. “Motherhood membuat aku lebih kuat, lebih sabar, dan lebih tangguh,” ujarnya. Ia percaya energi seorang ibu membentuk suasana dalam rumah. “Apapun kondisinya, kita harus tetap positif.”
Nilai itu membentuk cara ia berkarya. “Aku jadi lebih hati-hati, lebih maksimal, dan lebih cekatan karena harus menyelesaikan banyak hal dalam satu waktu,” katanya. Dalam berkarya, ia juga berusaha agar genuine dan apa adanya. “Kuncinya, jangan haus pengakuan. Kalau tidak mengejar pujian, kita jadi lebih percaya diri,” jelasnya. Baginya, proses kreatif adalah sesuatu yang lahir dari hati, dengan satu tujuan: “Mengharapkan rida Allah dan melakukan hal-hal baik.”
Lebih dari sekadar berbagi resep, Chef Dinda ingin memberi dampak kepada audiensnya. “Harapannya mereka jadi lebih positif, lebih bahagia, dan lebih bersyukur,” katanya. Ia juga berharap ilmunya terus hidup dan bermanfaat. “Kalau apa yang aku bagikan dipakai, semoga jadi pahala, bahkan saat aku sudah tidak ada.”
Kini, Chef Dinda semakin selektif memusatkan waktu pada keluarga. Namun justru di fase ini, kreativitasnya terasa semakin dalam. Dalam setiap hidangan dan cerita, ia tidak hanya berbagi rasa, tetapi juga meninggalkan jejak makna yang hangat kepada yang melihatnya.




