Mount Elizabeth Hospital di Singapura belum lama ini menghadirkan wajah baru melalui Project Renaissance, sebuah transformasi besar yang memadukan kecanggihan medis, kenyamanan layaknya hotel mewah, serta pendekatan yang semakin personal bagi pasien internasional, termasuk pasien dari Indonesia.
Di dunia kesehatan modern yang berkembang sangat pesat akhir-akhir ini, pengalaman rawat jalan atau rawat inap pasien kini menjadi perhatian yang sama pentingnya dengan kualitas perawatan medis itu sendiri. Hal inilah yang melandasi transformasi besar-besaran yang dilakukan Mount Elizabeth Hospital melalui Project Renaissance, sebuah program renovasi selama tiga tahun yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman perawatan di rumah sakit yang lebih nyaman, hangat, dan berorientasi pada kebutuhan pasien masa kini.
HighEnd mendapat kesempatan eksklusif untuk melihat langsung hasil transformasi tersebut sekaligus menghadiri seminar bertajuk Lessons for Life: Cancer Care Conversations. Dalam kunjungan HighEnd tersebut, terlihat jelas bagaimana rumah sakit swasta legendaris di Singapura ini berupaya mendefinisikan ulang arti pelayanan kesehatan modern.

Menurut COO IHH Healthcare Singapore sekaligus CEO Mount Elizabeth Hospital, Mr. Yong Yih Ming, Project Renaissance lahir dari pemahaman bahwa rumah sakit tidak lagi harus terasa dingin atau menegangkan. Sebaliknya, lingkungan medis seharusnya mampu memberikan rasa tenang, privasi, dan kenyamanan emosional bagi pasien maupun keluarga yang mendampingi.
Transformasi ini mencakup 56 kamar single baru, area ruang operasi terintegrasi, kompleks radiologi yang telah diperbarui, 14 lift baru, hingga penerapan desain ramah lingkungan dan juga hemat energi. Saat memasuki area rumah sakit, nuansa yang terasa justru menyerupai hotel mewah dengan pencahayaan hangat, interior elegan, serta detail-detail yang dirancang untuk menjaga kenyamanan dan martabat pasien.
Namun, lebih dari sekadar tampilan baru, Mount Elizabeth juga memperkuat fokusnya pada layanan kesehatan perempuan. Mr. Yong menjelaskan bahwa kebutuhan kesehatan wanita saat ini jauh lebih kompleks dibanding beberapa dekade lalu karena semakin banyak pilihan perawatan dan solusi medis yang tersedia.

Salah satu fokus utama rumah sakit adalah preventive healthcare dan longevity program. Tidak hanya sebatas medical check-up biasa, Mount Elizabeth kini menekankan pemeriksaan genomik dan personalized preventive care untuk membantu pasien memahami risiko genetik, riwayat keluarga, hingga pengelolaan kesehatan jangka panjang. Kesadaran mengenai pemeriksaan kolonoskopi juga terus didorong, mengingat kanker kolorektal masih menjadi salah satu kanker dengan angka kasus tertinggi secara global.
Dalam bidang kesehatan payudara, Mount Elizabeth memiliki spesialis seperti Dr. Sabrina Ngaserin, seorang dokter bedah payudara perempuan yang cukup dikenal di kalangan pasien Indonesia. Ada pula Dr. Ma Li yang menangani endometriosis dengan teknik robotik yang meminimalisir proses pembedahan sehingga pasien tidak mendapatkan luka operasi yang besar dan proses pemulihan yang lebih cepat. Sementara itu, layanan gynecologic oncology hingga maternity care juga diperkuat melalui dokter-dokter seperti Dr. Felicia Chin dan Dr. Claudia Chi yang banyak menangani pasien regional, termasuk dari Indonesia.
Hal lain yang menjadi perhatian Mount Elizabeth adalah bagaimana membangun kepercayaan bagi pasien internasional. Menurut Mr. Yong, trust-building tidak hanya bergantung pada teknologi medis atau nama besar dokter, tetapi juga pada kemampuan rumah sakit memahami budaya dan kenyamanan pasien.

Untuk pasien Indonesia, rumah sakit menyediakan ruang sholat, penunjuk arah kiblat di kamar rawat inap, ruang laktasi, hingga ruang tunggu khusus wanita di beberapa departemen demi menjaga privasi para pasien perempuan. Semua detail kecil tersebut dirancang agar pasien merasa lebih nyaman selama menjalani proses perawatan.
Kemudahan bahasa juga menjadi bagian penting dari strategi tersebut. Melalui International Patient Service Centre, tersedia penerjemah Bahasa Indonesia yang mendampingi pasien selama perjalanan medis mereka. Bahkan, sistem digital terbaru rumah sakit yang dinamakan LizWorld kini sudah dilengkapi fitur Bahasa Indonesia agar pasien dapat mengakses informasi medis dengan lebih mudah.
Menariknya lagi, perhatian terhadap kenyamanan pasien bahkan terasa hingga ke pengalaman bersantap. Selain menu standar rumah sakit, Mount Elizabeth juga memungkinkan personalisasi makanan sesuai preferensi budaya maupun kebutuhan diet pasien. HighEnd sendiri sempat mencicipi layanan makan pasien dan pengalaman tersebut terasa lebih menyerupai fine dining dibanding makanan rumah sakit pada umumnya.
Project Renaissance yang dijalankan oleh Mount Elizabeth bukan hanya soal renovasi fisik, melainkan gambaran bagaimana dunia kesehatan kini bergerak menuju pelayanan yang lebih manusiawi, personal, dan holistik. Dengan memadukan teknologi medis, hospitality, serta empati terhadap kebutuhan pasien, Mount Elizabeth Hospital tampaknya ingin menjadi lebih dari sekadar tempat berobat—tetapi juga partner kesehatan jangka panjang bagi para pasien.





