Indonesia Tourism Xchange 2026 resmi digelar untuk pertama kalinya, menghubungkan pemimpin dan pengambil keputusan di sektor pariwisata, perhotelan, dan pengembangan destinasi Indonesia.
Sektor hotel mewah Indonesia resmi kembali ke tingkat okupansi sebelum pandemi. Pencapaian ini melampaui semua kelas hotel lainnya dan menandakan babak baru permintaan perjalanan premium, tepat saat industri pariwisata nasional memasuki fase pertumbuhan berikutnya.
Pemulihan ini menjadi sorotan utama dalam Indonesia Tourism Xchange 2026 (ITX 2026) perdana yang digelar pada Selasa, 12 Mei 2026 di The Langham, Jakarta. Forum tersebut menghadirkan lebih dari 400 pemimpin industri dari sektor perhotelan, pariwisata, investasi, data, keberlanjutan, hingga real estat berlabel dagang.
ITX 2026 diorganisir oleh Horwath HTL, C9 Hotelworks, STR, QUO Global, Greenview, dan Delivering Asia, bermitra dengan Langham Hospitality Group. Acara ini didukung PHRI, Jakarta Hotels Association, dan Bali Hotels Association.
Mengusung tema “Reimagining Journeys”, forum membahas evolusi pariwisata Indonesia menjawab permintaan layanan mewah, kinerja hotel, branded residence, tren investasi, desain, teknologi, dan keberlanjutan.

“Wisatawan mewah yang datang ke Indonesia tidak mencari replika dari hotel global,” ujar Sherona Shng, Wakil Presiden Regional Operasional Asia, Langham Hospitality Group. "Mereka mencari makna, konteks, dan rasa tempat. Merek yang berhasil di sini adalah yang memahami kompleksitas budaya Indonesia dan menghadirkan pengalaman yang sangat personal, bukan yang distandardisasi.”
Menurut STR, divisi analitik hotel dari CoStar Group, okupansi hotel mewah di Indonesia untuk 12 bulan yang berakhir Maret 2026 telah kembali ke level sebelum pandemi. Angka ini mengungguli semua kelas hotel lain yang masih tertinggal 5,5 poin persentase.
Tarif hotel Indonesia juga naik lebih dari 40% sejak 2019. Kenaikan didorong oleh pasar yang semakin matang dan masuknya pasokan hotel kelas atas baru. Sejak 2023, hotel mewah memimpin pertumbuhan rata-rata tarif harian. Di Bali, segmen mewah terus mencatat pertumbuhan tarif kuat berkat permintaan internasional dan diversifikasi pasar asal.
Seiring pulihnya perjalanan mewah, ITX 2026 menyoroti lonjakan branded residence di Bali. Riset C9 Hotelworks mencatat pipeline branded residence Asia telah mencapai Rp707 triliun atau sekitar 40 miliar dolar AS untuk 50.025 unit, tumbuh 30,3% secara tahunan. Indonesia berkontribusi Rp24,7 triliun atau sekitar 1,4 miliar dolar AS untuk 1,145 unit yang sudah diluncurkan.
Bali kini menjadi pasar utama, menyumbang 25% nilai pasar branded residence Indonesia. Pulau ini memiliki lebih dari 70 pengembangan aktif yang dikelola perhotelan, dengan branded residence mengambil porsi sekitar 10% dari total pasokan aktif. Klaster terbesar ada di Canggu/Berawa dengan 1.703 unit di 25 properti, disusul Uluwatu, Seseh/Pererenan/Nyanyi, Seminyak, dan Sanur.
Sesi khusus branded residence dipandu Bill Barnett, Managing Director C9 Hotelworks, menghadirkan pembicara dari Harmoni Bali, Marriott International, dan Langham Hospitality Group.
“Residensi bermerek bukan lagi produk sekunder di Indonesia. Mereka menjadi pendorong utama permintaan properti mewah,” kata Bill Barnett. “Yang membuat Indonesia menarik adalah perpaduan kepercayaan pada merek, daya tarik destinasi, serta aspirasi gaya hidup. Tantangannya adalah menyelaraskan elemen tersebut di pasar yang beragam, terfragmentasi, dan bernuansa budaya.”





