Mengenal Istilah Breadcrumbing, Perhatian yang Berujung Ketidakpastian
Dewi Anggriani Siregar
02 March 2022

Mendapat banyak perhatian memang sebuah hal yang menyenangkan, namun apa jadinya apabila perhatian dan janji-janji manis yang diberikan hanyalah trik dan gombalan belaka yang berujung pelarian dan ketidakpastian?


Ghosting dan gaslighting tentu merupakan istilah yang sudah tidak asing di telinga kita, khususnya di kalangan aplikasi kencan online akhir-akhir ini. Namun pernahkan Anda mendengar istilah breadcrumbing?

Kelly Campbell, Ph.D., Profesor Psikologi di California State University, San Bernardino mengatakan kepada Byrdies bahwa breadcrumbing mengarahkan seseorang secara romantis dan bahkan tidak pernah berniat untuk terlibat secara romantis.

Singkatnya, breadcrumbing adalah kondisi mempermainkan atau memanipulasi sisi emosial seseorang dengan memberikan harapan-harapan palsu tanpa kepastian yang jelas dalam suatu hubungan. Hal ini sengaja dilakukan untuk membuat seseorang memiliki rasa ketergantungan.

Pelaku breadcrumbing ini biasanya tidak akan segan-segan untuk menghantui kita melalui pesan singkat pada aplikasi apapun yang terhubung dengan Anda. Tidak hanya itu, pelaku breadcrumbing ini juga biasanya akan sangat rajin memberikan respon atau me-reply Instagram Stories, memberi like dan komentar pada setiap postingan.

Meski sepintas mungkin terlihat menyenangkan, Anda jangan sampai tertipu. Sebab hal-hal yang ia lakukan semata-mata hanyalah untuk menggoda dan menarik perhatian kita. Pelaku breadcrumbing biasanya selalu menggoda targetnya hanya melalui sosial media dan menolak untuk bertemu di kehidupan nyata. Breadcrumbing ini tentu sangat melelahkan, membingungkan, dan membuang-buang waktu Anda.

Alasan yang mendasari seseorang melakukan breadcrumbing ini biasanya ialah karena seseorang tersebut memiliki perasaan suka atau ketertarikan terhadap kita, tetapi tidak mau terikat dalam suatu komitmen. Alasan lain terjadinya breadcrumbing ini juga disebabkan seseorang merasa kesepian, akan tetapi mereka takut dan tidak siap untuk menghadapi kehilangan atau mengucapkan selamat tinggal dalam suatu hubungan. Breadcrumbing kemudian dijadikan sebagai salah satu alat pemenuh kebutuhan sosial seseorang.

Lebih parahnya lagi, pelaku breadcrumbing juga bisa menjadikan Anda bahan pelarian atau rencana cadangan ketika hubungan mereka dengan pasangannya tidak berhasil dan tidak berjalan baik. Agar tidak menjadi korban, berikut beberapa hal yang harus Anda ketahui untuk menghadapi fenomena breadcrumbing.

1. Know Your Worth

Sebagai seseorang yang paling mengenal diri sendiri, kita harus mengetahui apa yang sebenarnya kita butuhkan dalam suatu hubungan. Ketahui apa yang pantas untuk Anda pertahankan, dan apa yang pantas untuk Anda tinggalkan. Jika seseorang tampak hanya membuat kita membuang-buang waktu tanpa adanya suatu komitmen dan hubungan yang jelas, tentu hal tersebut tidak sepadan dengan waktu dan diri Anda yang berharga.

2. Sampaikan Secara Langsung

Jika ada hal yang membuat Anda risih, tidak nyaman dan membingungkan, tanyakan hal tersebut secara langsung agar semua hal menjadi jelas. Jika mereka tidak bisa menghargai batasan-batasan yang ada pada diri kita, mereka mungkin juga tidak tertarik untuk membangun hubungan yang sehat ke depannya.

3. Jangan biarkan mereka berlaku defensif, membuat Anda merasa bersalah, atau membuat Anda merasa bertanggung jawab atas perbuatan mereka sendiri

Hancurkan pola yang tidak sehat sebelum pola tersebut mulai berjalan. Hal ini akan mengarahkan Anda pada kemajuan dalam suatu hubungan. Apabila tidak berjalan sebagaimana mestinya, setidaknya Anda masih punya pilihan untuk mengambil keputusan.

4. Putuskan Apa yang Anda Inginkan

Setelah Anda mengetahui apa yang terjadi, Anda-lah yang paling tahu dan dapat memutuskan untuk melanjutkan hubungan tersebut atau tidak.