Share
IBW 2026: Ranty Maria dan Esensi Menjadi Diri Sendiri dalam Definisi Cantik Modern
Marwah Kollin
21 April 2026

Bukan tentang mengikuti definisi, melainkan menemukan makna. Ranty Maria merayakan kecantikan sebagai perjalanan kembali pada dirinya sendiri.


Dalam dunia yang terus mendefinisikan ulang arti kecantikan, Ranty Maria justru memilih untuk tidak mengikuti arus, melainkan menciptakan definisinya sendiri. Bagi aktris dan model berdarah Korea–Minahasa ini, cantik bukan sesuatu yang perlu dikejar, melainkan sesuatu yang perlu dirangkul.

Lahir pada 26 April 1999, Ranty tumbuh sebagai anak kedua dari lima bersaudara. Dengan latar belakang budaya yang beragam dari sang ayah, Lee Ki Young, yang berasal dari Korea Selatan, dan ibunya, Joanita Kariso, berdarah Minahasa, ia membawa perspektif yang kaya—tidak hanya dalam karier, tetapi juga dalam cara ia memandang diri dan kehidupan.

Awal tahun 2026 menjadi babak baru yang penuh kebahagiaan bagi Ranty. Ia resmi menikah dengan aktor Rayn Wijaya dalam sebuah upacara pernikahan yang intim dan romantis di kawasan Nusa Dua. Nuansa hangat terasa sepanjang prosesi, mulai dari pemberkatan hingga resepsi yang digelar di hari yang sama.

Penampilannya di hari istimewa itu pun mencuri perhatian. Ia mengenakan gaun putih klasik rancangan Hian Tjen saat pemberkatan, dilanjutkan dengan cheongsam elegan karya Gabriella Vania untuk tea ceremony, dan ditutup dengan ballgown strapless berwarna champagne gold yang memancarkan kesan mewah sekaligus anggun saat resepsi malam.

Namun, di balik seluruh sorotan tersebut, ada pemahaman yang jauh lebih dalam tentang makna cantik. Bagi Ranty, “beautiful” berakar dari keberanian untuk menjadi diri sendiri sepenuhnya, tanpa kompromi. Ia percaya bahwa setiap perempuan memiliki keunikan yang tidak dapat dibandingkan satu sama lain.

“Setiap perempuan itu cantik dengan caranya masing-masing—melalui autentisitas, nilai, dan siapa dirinya sebenarnya.”

Di tengah ritme kehidupan yang dinamis, Ranty menyadari pentingnya kembali pada diri sendiri. Self-love baginya bukan sekadar tren, melainkan praktik yang dijalani dengan kesadaran. Merawat tubuh, menjaga pikiran tetap jernih, dan menenangkan hati menjadi bagian dari kesehariannya. Ia juga memberi ruang untuk jeda—melalui olahraga maupun perjalanan singkat yang mampu menyegarkan perspektif.

Ranty Maria

“Jaga tubuhmu, pikiranmu, dan hatimu dan jangan pernah biarkan siapa pun mendefinisikan dirimu.”

Lebih dari itu, fondasi yang menjaga keseimbangan hidupnya adalah rasa syukur dan koneksi spiritual. Dalam momen-momen hening, ia menemukan pengingat bahwa dirinya berharga, tanpa perlu validasi dari orang lain.

Sebagai bagian dari Indonesia’s Beautiful Women, suara Ranty hadir dengan lembut namun tegas. Ia tidak menawarkan definisi baru tentang kecantikan, melainkan mengajak untuk kembali pada diri sendiri, bahwa rasa “berharga” bukan sesuatu yang harus dibuktikan, tetapi sudah dimiliki sejak awal.

“Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain—itu tidak akan pernah ada habisnya. Kepercayaan diri datang ketika kamu belajar mencintai dirimu sendiri.”

Salah satu momen yang paling merepresentasikan arti cantik baginya adalah hari pernikahannya. Bukan sekadar tentang tampilan, melainkan tentang perasaan utuh: bahagia, dicintai, dan penuh rasa syukur. Di momen itu, ia memilih untuk melepaskan ekspektasi luar dan hadir sepenuhnya sebagai dirinya sendiri.

“Momen itu, aku memilih untuk bahagia. Aku merasa dicintai, diberkati—dan benar-benar cantik.”

Pada akhirnya, mungkin di situlah esensinya. Bahwa kecantikan bukan selalu tentang apa yang terlihat, tetapi tentang apa yang dirasakan. Tentang kedamaian dalam menerima diri, dan keberanian untuk menjalani hidup dengan cara sendiri.

Ranty Maria tidak sedang mengejar definisi apa pun. Ia hanya menjalani hidup dengan elegansi, kesadaran, dan keyakinan bahwa menjadi diri sendiri adalah bentuk kecantikan yang paling autentik