Filosofi di Balik Makanan dan Tradisi Kuliner Khas Korea Selatan
Venisa Ruth
17 September 2021

Tradisi kuliner selalu mencerminkan budaya komunitas penyangganya. Hal ini berlaku tidak hanya bagi kuliner Nusantara yang memiliki aneka citarasa cukup kaya. Namun juga tampak dalam tradisi kuliner bangsa lain, termasuk Korea Selatan.


Kuliner Korea saat ini juga semakin terkenal dan banyak bermunculan hampir di setiap kota bahkan negara lain di luar Indonesia. Korea Selatan memang dikenal dengan ikon budaya pop yang kini banyak digemari oleh banyak orang. Namun dibalik semuanya itu, banyak yang belum mengetahui adalah bahwa negeri ginseng ini juga mempunyai tradisi kuliner yang tergolong unik dan menarik. Berikut beberapa filosofi dari tradisi kuliner asal Korea Selatan ini.

Jejak Budhisme dalam Tradisi Kuliner Korea Selatan

Makanan Korea adalah sumber energi yang baik. Bagi orang Korea. Energi tak semata berkaitan dengan kekuatan fisik, namun juga bertaut dengan kekuatan jiwa dan pikiran. Tak heran jika kearifan tradisional Korea mengatakan, “Masakan dan ilmu kedokteran tumbuh dari akar budaya yang sama.”

Oleh sebab itu mereka percaya bahwa tidak ada ilmu kedokteran yang lebih baik dari masakan. Kepercayaan tradisional lama ini menunjukkan pentingnya peran makanan bagi kesehatan fisik dan emosional bangsa Korea.

Filosofi Yin dan Yang dalam Tradisi Kuliner Korea Selatan

Sementara itu, masyarakat Korea Selatan mempercayai mengenai filosofi yang terkandung dalam prinsip yin dan yang. Filosofi ini menerangkan bagaimana semua hal di alam tumbuh dan berkembang berdasarkan hubungan saling menguntungkan satu sama lain.

Prinsip yin-yang, dijelaskan misalnya bagaimana Bumi dan langit dibentuk. Dua energi ini juga kemudian yang menciptakan lima unsur: tumbuhan, api, tanah, logam, dan air. Ada juga lima warna utama: biru, merah, kuning, putih, dan hitam, yang sejalan dengan kelima unsur dasar tersebut.

Bahan-bahan dengan warna tersebut dicampur untuk menghasilkan makanan yang memungkinkan tubuh menyerap nutrisi secara efisien. Juga membangkitkan selera melalui lima cita rasa esensial, yaitu asin, panas, manis, pahit, dan asam. Di sinilah tampak jejak Budhisme dalam kuliner Korea.

Sayuran Lebih Dominan

Beberapa makanan Korea diolah melalui proses fermentasi. Misalnya, kimchi yang selalu jadi menu utama, di mana bahan pokoknya adalah sawi putih. Fermentasi ini menjadi bagian paling menarik dalam mendiskusikan aspek ilmiah dari makanan Korea. Sebab, bakteri yang baik dari bahan-bahan alami membantu proses fermentasi menghasilkan kandungan nutrisi makanan yang tinggi.

Sayur-sayuran boleh dibilang hal yang wajib dalam masakan orang Korea. Hampir semua masakan selalu memakai sayur sebagai bahannya. Pola makan yang sehat ini tentunya menggambarkan gaya hidup yang sehat pula. Bagi Anda yang vegetarian, menyantap kuliner Korea bisa membangkitkan sensasi yang berbeda.

Apapun makanannya, kimchi akan selalu ada sebagai pendampingnya. Meskipun hanya terkesan sebagai pendamping, ternyata kimchi memiliki peranan penting. Setelah melalui proses fermentasi, kimchi mengandung jumlah bakteri baik untuk usus, lactobacillus. Selain itu capsaicin (komponen alami dalam cabe merah) juga dipercaya memiliki kemampuan untuk membakar lemak dan juga mengandung hormon endorfin yang dapat membuat bahagia.