Dari Flights to Nowhere sampai Jual Gorengan, Cara Kreatif Airline Berjuang Untuk Bertahan

Travel04 December 2020

By Annisa Laksmintari

Dari Flights to Nowhere sampai Jual Gorengan, Cara Kreatif Airline Berjuang Untuk Bertahan

Perusahaan-perusahaan penerbangan di dunia terus berjuang untuk bertahan dari kebangkrutan di tengan pandemic global ini. Karena berbagai keterbatasan, banyak orang memilih untuk tidak traveling dan tidak terbang dengan pesawat di masa yang tidak menentu ini.


Dengan semakin menurunnya pemasukan dari penjualan tiket penerbangan, perusahaan-perusahaan airline, dari yang kecil sampai yang besar, semua memutar otak untuk tetap mencari sumber pemasukan untuk perusahaan. Begitu kreatifnya sampai netizen pun terkesima melihat upaya dan ulah mereka.

Restoran ala Pesawat

Thai Airways membuka sebuah restoran pop-up di kantor utamanya di Bangkok, Thailand, dengan nuansa pesawat pada awal September lalu. Di restoran yang telah disulap sehingga mirip dengan interior pesawat ini (lengkap dengan pramugarinya!), pengunjung dapat menikmati hidangan sambil duduk di kursi asli dari pesawat, dengan meja yang dibuat dari bagian mesin pesawat yang sudah tidak digunakan. Sajiannya berupa hidangan yang dihidangkan pada menu internasional, lengkap dengan nampan dan peralatan makan persis seperti di pesawat.

Jika Thai Airways menawarkan suasana pesawat, Singapore Airlines benar-benar menyajikan sebuah pengalaman langka dengan kesempatan menyantap makanan di dalam salah satu dari dua Airbus A380 yang diparkir di bandara Changi, layaknya berada dalam sebuah penerbangan airline berkelas ini. Restaurant A380 @Changi ini menyajikan sebuah menu Peranakan istimewa yang didisain oleh chef asal Singapura, Shermay Lee. Saat di-launch di bulan September lalu, semua tiket untuk acara ini langsung ludes terbeli dalam 30 menit saja.

Flights to Nowhere

Untuk mengobati rasa kerinduan pada perjalanan dengan penerbangan serta segala keseruan di bandara, beberapa airline mulai menawarkan ‘flights to nowhere’, yaitu penerbangan dengan titik berangkat dan ketibaan yang sama.

BACA JUGA: ‘Flight to Nowhere’, Cara Maskapai Penerbangan Siasati Traveling Saat Pandemi

Ada juga penerbangan ‘flight to nowhere’ dengan suatu tema, seperti “Magical Flying Experience” dari Thai Airways yang akan membawa rombongan relijius mengudara diatas 99 landmark Buddhist yang sakral, ditemani dengan seorang pemuka agama yang menuntun doa-doa.

Makanan di Supermarket

Bagi penumpang Finnair di Finlandia yang kangen dengan makanan pesawat airline tersebut, hidangan Business Class Finnair kini tersedia di supermarket K-Citymarket di daera Vantaa Tammisto, dekat dengan Bandara Helsinki. Menu siap-saji yang ditawarkan antara lain bakso reindeer, arctic char, dan daging sapi teriyaki, dan dibanderol €10 sampai €13 (sekitar Rp 171 ribu sampai Rp 223 ribu). Saking larisnya, Finnair baru-baru ini mengekspansi dagangannya via supermarket dengan memasarkan jus blueberry yang cukup diminati banyak penumpang Finnair.

Amenity Kit

Tak hanya hidangan khas penerbangan di pesawat yang dirindukan oleh para penumpang, ternyata banyak juga yang ingin menggunakan amenity kit yang disediakan oleh pesawat pada penerbangan panjang. Penerbangan asal Australia, Qantas, beberapa waktu lalu menjual ‘care kits’ yang berisi piyama khas Business Class, produk skincare merk ASPAR, beserta Tim Tam dan cemilan mewah lainnya. Kit ini dijual seharga $25 termasuk biaya pengantaran dimana saja di Australia.

Pecah Belah

Kini, pengalaman menyantap hidangan di First Class British Airways bisa diciptakan di rumah. Perusahaan penerbangan asal Inggris tersebut menjual berbagai pecah belah yang biasanya digunakan untuk servis di penerbangan kelas First Class, seperti piring, mangkok, gelas, bahkan wadah mentega keramik merk William Edwards yang eksklusif. Selain itu, peralatan makan dari Business Class pun turut dijual, beserta perlengkapan umum seperti troli makanan.

Gorengan

Untuk ide-ide out-of-the-box, sungguh Thai Airways menjadi salah satu pelopornya. Perusahaan penerbangan ini mulai menjual gorengan ‘pa tong go’ (mirip cakwe) di beberapa lokasi di Bangkok bulan Oktober lalu. Uniknya, gorengan ala Thai Airways ini laris manis dan mendatangkan 400 ribu-an baht per hari (setara dengan Rp 187 juta). Spektakuler, ya!