Kisah Eksklusif William Wongso Soal Gordon Ramsay dan Masa Depan Kuliner Indonesia

Profile13 July 2020

By Larasati Oetomo

Kisah Eksklusif William Wongso Soal Gordon Ramsay dan Masa Depan Kuliner Indonesia

Ahli kuliner Indonesia, William Wongso menjadi tamu kedua dalam seri Instagram live “THE ALPHA LIVE” oleh HighEnd Magazine.


Setelah sebelumnya berbincang dengan pengusaha ritel luxury Irwan Mussry, HighEnd Magazine kembali dengan episode kedua dari seri Instagram live “THE ALPHA LIVE”. Sebagai bagian dari kampanye digital terintegrasi dari HighEnd, “THE ALPHA LIVE” menyajikan perbincangan penuh insight bersama tokoh-tokoh nasional di berbagai bidang mulai dari bisnis, seni, pemerintahan, dan lain-lain.

Pada episode kali ini, Tommy Tjokro (News Anchor – Seputar iNews RCTI) dan Lysia Jessica (Editor-in-Chief – HighEnd Magazine) kedatangan Bapak William Wongso selaku tamu spesial. Ahli kuliner dengan pengalaman lebih dari 6 dekade ini berbincang tentang masa depan perkembangan kuliner Indonesia dan suka duka beliau selama mempromosikan masakan Indonesia di mata dunia.

Baca juga: Curhat Irwan Mussry Soal Bisnis Luxury Selama Pandemi lewat Instagram Live bersama The Alpha

Bagi penulis buku kuliner Indonesia ini, Indonesia masih darurat tenaga pengajar untuk mengedukasi menu Indonesia. “Belajar masakan Indonesia itu mahal dan sulit dicari. Kebanyakan yang mampu mengambil program tersebut justru orang asing terkait bujet yang mahal tersebut. Di sisi lain, sulit untuk belajar keseluruhan kuliner Indonesia tanpa mencoba terlebih dahulu kearifan lokal dari setiap daerah,” jelasnya. “Kita perlu memiliki Indonesia Culinary Center di Jakarta.”

Bagi generasi muda yang ingin belajar menu Nusantara autentik, Wongso menyarankan pengetahuan tentang bumbu-bumbu dasar Indonesia terlebih dahulu. “Dengan satu jenis bumbu dasar kita bisa mengembangkan banyak menu; baik menu autentik atau pun menu rumahan hasil improvisasi sendiri,” ucap Wongso. Terkait bumbu, pria penerima penghargaan budaya ini juga melihat bumbu Indonesia sebagai kuncian penting diplomasi masakan Indonesia di mata dunia. “Sulit bersaing dengan membuat masakan atau restoran Indonesia terkenal di berbagai negara seperti Korea atau Jepang. Sementara itu, bahan-bahan untuk bumbu autentik menu Nusantara sulit ditemukan di negara lain.”

Melalui program “Indonesia Spice Up The World”, Wongso berniat untuk memopulerkan aplikasi bumbu ala Indonesia di Afrika. Terkait alasannya, ia berujar, “Afrika sudah familiar dengan ‘Indonesian instant noodle’. Selain itu, Afrika masih terbuka dengan kuliner dari luar, berbeda dengan Prancis, misalnya, yang amat mantap dengan tradisi kulinernya.”

Selain itu, pria bernama lengkap William Wirjaatmadja Wongso ini mengungkap kisah di balik perjalanan kulinernya bersama Gordon Ramsay di tanah Minang. Belum lama ini, beliau dipercaya oleh National Geographic untuk mementori pembawa acara “Uncharted” ini tentang resep rendang autentik.

“Terdapat proses yang panjang terkait episode tersebut sebelum proses shooting berlangsung pada Januari lalu,” ungkapnya. “Sebelumnya, mereka (National Geographic) ingin berkeliling Indonesia untuk menyicipi makanan Indonesia. Saya bilang, itu tidak mungkin—Indonesia terdiri dari 17.000 pulau dengan cita rasa yang amat beragam. Maka dari itu, saya memilih Sumatra Barat sebagai tuan rumah dari rendang, makanan yang sudah amat dikenal dunia.”

Terkait pendapat pribadinya tentang Gordon Ramsay, Wongso menangkap kesan ‘patuh’ dari chef yang dikenal galak tersebut. “Dia (Ramsay) punya etika—dia paham betul bahwa dia tidak mengerti apa-apa soal masakan Indonesia. Maka dari itu, dia amat patuh terhadap saya; mengikuti setiap arahan yang saya berikan. Ia boleh jadi bersikap keras di acara lain karena ia amat menguasai bidang tersebut, namun soal masakan Indonesia ia “manut”. Kalau saya arahkan dia cara yang salah pun, dia akan tetap patuh,” kelakarnya.

Ramsay, layaknya kebanyakan orang asing yang belajar masakan Indonesia, takjub akan cita rasa dari kombinasi bumbu ala Indonesia—dalam hal ini Minangkabau—yang terkenal kaya. “Bagi orang luar, bumbu masakan Indonesia itu banyak sekali. Dia (Ramsay) sudah kewalahan dengan menghapal bumbu, dan dia tidak percaya dengan hasil akhir dari percampuran bumbu sebanyak itu. Meski demikian, ia takjub dengan harmonisasi rasa dari bahan-bahan tersebut.”

Menutup perbincangan siang itu, William Wongso berbagi saran soal mengurangi food waste. Food waste merupakan isu kuliner global sementara rata-rata satu orang Indonesia ‘menghasilkan’ 400kg sampah makanan per tahun. “Kalau kita terus mengandalkan layanan pesan antar dan makanan jadi, tentu kita akan terus buang-buang makanan,” tegasnya. “Kalau kita memasak sendiri, kita bisa menakar porsi dan bahan sendiri. Makan secukupnya, daur ulang resep dari makanan sisa—itu kuncinya.”

Tonton episode kedua dari THE ALPHA LIVE bersama William Wongso di sini:

Foto YUDI P. PRATOMO