SKYE resmi membuka kembali di Level 56 Menara BCA dengan interior baru, konsep Western Contemporary Grill, dan pengalaman rooftop ikonik yang lebih hangat, personal, dan berkarakter.
Setelah lebih dari satu dekade menjadi saksi berbagai perayaan, pertemuan, dan momen jeda dari dinamika Jakarta, SKYE resmi membuka kembali pintunya di Level 56 Menara BCA. Pembukaan ini menandai babak baru bagi rooftop pertama dan paling ikonik di ibu kota—sebuah evolusi yang tidak menghapus identitas lamanya, melainkan memperdalam karakter yang telah lama dicintai banyak orang.
Selama satu tahun terakhir, SKYE menjalani proses transformasi yang dilakukan dengan penuh perhatian. Hasilnya adalah ruang yang kini hadir dengan nuansa lebih hangat, personal, dan percaya diri. Same SKYE, better everything bukan sekadar slogan, melainkan semangat yang langsung terasa sejak langkah pertama memasuki ruangannya.

Transformasi visual SKYE dirancang oleh Willis Kusuma, salah satu arsitek terkemuka Indonesia. Interior barunya memadukan kehangatan dan modernitas melalui penggunaan tekstur natural, garis-garis lembut, sentuhan logam matte, serta palet warna yang mengikuti perubahan suasana Jakarta dari siang hingga malam. Alur ruang mengalir mulus, dari area dining indoor yang nyaman menuju teras terbuka dengan panorama kota yang luas. Kehadiran dua private room untuk perayaan yang lebih personal serta dua bar yang ditempatkan strategis semakin menegaskan posisi SKYE sebagai ruang untuk terhubung, bukan sekadar tempat bersantap.

Di balik wajah barunya, SKYE memperkenalkan pendekatan kuliner Western Contemporary Grill—sebuah filosofi yang berakar pada kesederhanaan, kualitas bahan terbaik, dan konsistensi teknik. Di sinilah peran Adam Rizal, Cluster Executive Chef SKYE, menjadi sentral. Dengan pengalaman internasional yang membentang dari Malaysia, Timur Tengah, hingga Asia Timur, Adam membawa perspektif global yang diterjemahkan secara relevan untuk selera Jakarta.

“Bagi saya, kunci utama selalu kembali ke dasar,” ujar Adam Rizal. “Kami tidak ingin menyajikan menu yang terlalu rumit. Fokus kami adalah menghadirkan bahan premium dengan teknik modern, sambil tetap menghormati karakter asli dari setiap hidangan.” Pendekatan ini tercermin jelas dalam menu SKYE yang terasa familiar, namun dieksekusi dengan presisi dan kualitas yang lebih tinggi.

Salah satu sorotan utama adalah Sir Harry Orange-Fed Wagyu Steak, wagyu asal Australia yang diberi pakan berbasis gandum dan jeruk. Proses ini menghasilkan daging dengan tekstur lembut, marbling yang kaya, serta sentuhan citrus yang halus. Daging tersebut kemudian melalui proses aging tambahan menggunakan beef tallow yang dipadukan dengan elemen jeruk selama 30 hari untuk memperkaya kedalaman rasa. “Hasil akhirnya adalah steak dengan karakter rasa yang lebih bold, namun tetap seimbang,” jelas Adam.
Menu unggulan lainnya seperti Aburi Miyazaki Wagyu, Bone Marrow Escargot, hingga Braised Short Ribs menunjukkan perhatian mendalam pada detail dan teknik. Sementara itu, hidangan yang lebih ringan dan menenangkan seperti Cappellini Vongole dan Bone Marrow Butter Pappardelle mencerminkan filosofi SKYE dalam menghadirkan rasa nyaman tanpa kehilangan kompleksitas. “Kami ingin tamu merasa akrab dengan apa yang mereka santap, namun tetap merasakan kualitas dan craftsmanship di balik setiap hidangan,” tambahnya.

Konsistensi menjadi nilai yang terus dijaga di dapur SKYE. Di tengah dinamika dunia kuliner Jakarta yang bergerak cepat, Adam percaya bahwa standar rasa yang terjaga adalah fondasi utama untuk tetap relevan. “Banyak restoran bisa menyajikan potongan daging yang sama. Namun yang membedakan adalah konsistensi rasa dan kualitas pelayanan. Itulah yang membuat tamu ingin kembali,” tuturnya.
Pengalaman di SKYE tidak berhenti pada makanan. Melalui The Chamber, SKYE memperkenalkan pengalaman House Bubbles, memungkinkan tamu menikmati prosecco hingga champagne by the glass. Dengan koleksi sekitar 300 botol wine dan sparkling yang dikurasi secara cermat, pengalaman ini terasa personal dan inklusif—didukung oleh tim wine expert yang siap berbagi cerita di balik setiap pilihan.

Pada akhirnya, SKYE ingin meninggalkan kesan yang sederhana namun mendalam. “Saya ingin tamu merasa seperti di rumah,” pungkas Adam Rizal. “Dari mereka datang hingga pulang, semuanya terasa hangat—makanannya, pelayanannya, dan suasananya. Bukan sekadar datang, makan, lalu pergi, tetapi benar-benar mengalami SKYE.”

Lebih dari sekadar pembukaan kembali, transformasi ini menandai evolusi SKYE sebagai ikon yang terus bertumbuh seiring zamannya. Berada di tempat yang sama, dengan standar yang kini lebih tinggi, SKYE membuktikan bahwa sebuah ikon tak perlu mengubah arah untuk tetap relevan—cukup berkembang dengan keyakinan pada identitasnya sendiri.





