Share
Playvul NYRA Bawa Isu Sosial Indonesia ke Panggung Festival Film Dunia 
Ni Putu Swasti Utami
18 August 2026

Film pendek menjadi ruang bagi para kreator untuk mengangkat cerita yang dekat dengan realitas, sekaligus membuka percakapan mengenai persoalan sosial yang masih relevan. Melalui tiga karyanya, Playvul NYRA memperluas perjalanan film Indonesia dari panggung lokal menuju berbagai festival internasional.


Rumah produksi film Playvul NYRA mencatatkan perjalanan di kancah perfilman internasional melalui tiga film pendeknya, More Pain, More Gain, Ambang Batas, dan Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa. Ketiganya telah diputar dan berkompetisi di sejumlah festival film internasional, mulai dari Fantasia International Film Festival, Tampere Film Festival, Balinale, JAFF, hingga Short Shorts Film Festival & Asia di Tokyo.


Pencapaian tersebut menjadi bagian dari perjalanan Playvul NYRA dalam menghadirkan karya yang tidak hanya mengutamakan cerita, tetapi juga mengangkat berbagai isu sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Setelah melalui rangkaian festival internasional, Ambang Batas kini juga resmi tersedia melalui kanal YouTube Playvul NYRA sehingga dapat diakses secara gratis oleh masyarakat luas.


Pilihan untuk mengembangkan film pendek juga sejalan dengan semakin terbukanya ruang bagi karya Indonesia di festival internasional. Berdasarkan riset Cinema Poetica, jumlah film Indonesia yang diputar di festival internasional meningkat dari 73 judul pada 2023 menjadi 126 judul pada 2025. Dari 48 penghargaan internasional yang diraih film Indonesia, 23 di antaranya diberikan kepada film fiksi pendek.


Menurut Nadina Habsjah, Co-Director Playvul NYRA, film pendek memberikan ruang bagi kreator untuk menyampaikan gagasan secara lebih fokus sekaligus membuka pembicaraan mengenai isu yang mungkin belum memiliki banyak ruang dalam medium lain.

Playvul NYRA


“Medium ini memungkinkan kami menyampaikan keresahan secara lebih fokus dan dekat dengan penonton. Melihat semakin banyaknya film pendek Indonesia yang mendapat tempat di festival internasional, kami percaya ada ruang yang semakin besar bagi cerita-cerita yang berani dan relevan untuk didengar di tingkat global,” ujar Nadina.


Perjalanan ketiga film tersebut turut memperlihatkan keberagaman pendekatan kreatif Playvul NYRA. More Pain, More Gain meraih penghargaan Winner Short Film Competition di Stockholm International Fantastic Film Festival dan Monsters of Film 2024, serta menjadi Official Selection di Fantasia International Film Festival 2025, Fantaspoa 2025, dan Lift-Off Global Network Berlin 2025.


Sementara itu, Ambang Batas terpilih di Tampere Film Festival melalui kompetisi Generation XYZ dan Balinale, serta diputar di sejumlah festival internasional lainnya. Adapun Salam Dahsyat Fantastis Luar Biasa meraih penghargaan Winner 2026 Tapestry of Indonesia di Balinale dan masuk dalam kategori Live-Action Asia International Competition di Short Shorts Film Festival & Asia 2026 di Tokyo. Film tersebut juga turut diputar di JAFF.


Di balik perjalanan festival tersebut, ketiga karya Playvul NYRA berangkat dari kegelisahan para kreatornya terhadap persoalan yang kerap luput dari percakapan publik. Isu seperti toxic masculinity, dinamika kelompok, hingga kekerasan terhadap perempuan menjadi bagian dari cerita yang mereka eksplorasi melalui perspektif masing-masing.


Bagi Yusgunawan Marto, Co-Director Playvul NYRA, setiap karya berangkat dari keresahan nyata yang kemudian diterjemahkan menjadi cerita untuk mengajak penonton melihat kompleksitas manusia dari berbagai sudut pandang.


“Kami percaya film pendek memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi ide-ide yang belum memiliki ruang di medium lain. Karena itu, setiap karya yang kami buat selalu berangkat dari keresahan yang nyata, lalu diterjemahkan menjadi cerita yang mengajak penonton memahami kompleksitas manusia,” ujar Yusgunawan.

Playvul NYRA


Salah satu isu yang diangkat melalui karya Playvul NYRA adalah mengenai consent dan kekerasan seksual terhadap perempuan. Amanda Simandjuntak selaku penulis menilai bahwa proses riset dan diskusi menjadi bagian penting dalam membangun cerita agar tetap dekat dengan pengalaman manusia.


“Menulis cerita tentang consent dan kekerasan seksual bukan hal yang mudah. Saya ingin penonton merasa dipahami, bukan dihakimi,” ungkap Amanda.


Kini, setelah melalui berbagai panggung festival, Playvul NYRA membuka akses yang lebih luas terhadap salah satu karyanya. Ambang Batas telah tersedia melalui kanal YouTube Playvul NYRA secara gratis, memungkinkan masyarakat untuk mengenal lebih dekat karya dan perspektif yang ditawarkan rumah produksi tersebut.


Ke depan, Playvul NYRA berencana memperluas ruang kolaborasi bersama komunitas film Indonesia sekaligus mengembangkan karya dalam format yang lebih beragam, termasuk feature film dan series. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mereka untuk terus berkontribusi terhadap perkembangan ekosistem perfilman Indonesia sekaligus membawa cerita-cerita lokal ke audiens yang lebih luas.