Di balik setiap desain NJS Gold, tersimpan cerita tentang dedikasi dan perjalanan hidup Naomi Julia Soegianto sebagai pemimpin dan ibu.
Emas tidak akan bersinar tanpa tekanan, begitu pula para wanita yang membangun kerajaan dari logam mulia ini. Hampir sembilan tahun lalu, Naomi Julia Soegianto memulai perjalanan yang kini dikenal sebagai NJS Gold; bukan dari dunia glamor, melainkan dari kerasnya industri manufaktur. Didirikan pada 2017, NJS bukanlah kisah sukses instan. Apa yang dimulai sebagai visi kecil, dibangun langkah demi langkah, kini tumbuh menjadi merek perhiasan skala industri, dibentuk bukan hanya oleh emas, tetapi oleh ketahanan, disiplin, dan tujuan yang tak tergoyahkan.

“Tidak semua orang memahami apa bisnis ini sebenarnya,” ujarnya. “Ini bisnis industri. Kita berbicara tentang manufaktur.” Berbeda dengan industri kreatif yang kadang cukup digerakkan oleh gairah, manufaktur menuntut daya tahan. Ia membutuhkan visi yang kokoh untuk bertahan, bukan hanya saat grafik naik, tetapi terutama ketika menghadapi ketidakpastian panjang. “Saat semuanya berjalan lancar, tentu menyenangkan. Tapi ketika turun, dibutuhkan semangat luar biasa untuk tetap melangkah. Dan itu bukan pilihan, itu keharusan bagi setiap CEO dan pendiri.”
Seiring pertumbuhan perusahaan, cara pandangnya tentang kepemimpinan pun berkembang. Bagi Naomi, kepemimpinan bukanlah status tetap, melainkan proses belajar tanpa henti. “Kepemimpinan itu sesuatu yang terus dipelajari. Tidak bisa berhenti,” katanya. Gelar, menurutnya, tak boleh menciptakan jarak. “Ketika seorang pemimpin berpikir, ‘Saya CEO, saya yang tertinggi,’ itu sudah tabu.”
Di awal perjalanan, ia mengandalkan pendekatan kekeluargaan yang hangat. Namun waktu mengajarkannya bahwa kelembutan saja tidak cukup. “Terlalu lembut juga tidak efektif,” refleksinya. “Harus ada keseimbangan.” Tegas tanpa kehilangan empati, itulah garis tipis yang kini ia jaga.

Menjadi perempuan di puncak industri manufaktur menghadirkan kompleksitas tersendiri. Naomi tak menutup mata bahwa gender memengaruhi persepsi. “Tentu gender penting,” ujarnya. “Saya sudah mengalaminya bahkan sebelum NJS berdiri.” Di industri yang masih didominasi pria, ia belajar memimpin dengan logika yang jernih. “Saya ingin dipandang setara. Tidak boleh ada budaya patriarki di sini. Saat saya menjadi CEO, kami berada di level yang sama.”
Namun tantangan kepemimpinan paling personal justru hadir di rumah—bekerja bersama anak-anaknya sendiri. Memimpin perusahaan satu hal; memimpin anak sendiri di dalamnya adalah hal yang sama sekali berbeda. “Itu tidak mudah untuk ibu mana pun, atau pemimpin mana pun,” akunya. Di kantor, ia adalah CEO. Di rumah, ia seorang ibu. Memisahkan dua peran itu menjadi salah satu pelajaran terberatnya. Bersama putranya, perdebatan di ruang kerja bisa intens namun rasional. Bersama putrinya, dinamika terasa lebih emosional dan berlapis. “Saya ingin mereka memahami, di kantor saya pemimpin. Di rumah, saya ibu mereka. Kadang mereka mengerti, kadang tidak.”

Ia mengakui, memimpin anak sendiri sering kali lebih menguras energi dibanding memimpin tim profesional. Konflik internal dan negosiasi emosional menuntut kesabaran yang jauh lebih dalam. “Memimpin orang lain lebih mudah,” ujarnya jujur. “Memimpin anak sendiri menciptakan konflik batin, dan itu butuh energi besar, terutama sebagai wanita.”
Meski demikian, Naomi terus belajar. “Saya merasa sudah belajar menempatkan diri,” katanya. “Tapi mereka juga masih tumbuh.” Dinamika gender, ia catat, muncul bahkan di sini. “Saat pria memimpin, anak sering lebih mudah menerima. Itu sesuatu yang saya rasakan sangat dalam.” Namun, ia memilih kesabaran daripada kontrol, dan keyakinan daripada frustrasi. “Saya terus belajar memahami mereka. Dan saya berdoa suatu hari mereka juga akan memahami saya.”

Dalam hal desain, Naomi berbicara dengan kepastian lebih besar. NJS Gold memiliki identitas kuat, yang ia bentuk langsung bersama putrinya, sementara putranya lebih fokus pada sisi profesional bisnis. “NJS punya karakter sendiri,” katanya. “Kalau sudah familiar dengan desain kami, pasti bisa dikenali. Sederhana. Tidak berlebihan.” Tren bisa memengaruhi pasar, tapi tidak pernah menghapus identitas. “Ada keseimbangan,” jelasnya. “Persentase mengikuti pasar, persentase menunjukkan siapa kita.”
Bagi Naomi, perhiasan bukan sekadar hiasan atau investasi, melainkan emosi. “Saat perempuan mengenakan perhiasan kami, harus terasa seperti pujian.” Karya NJS dirancang bukan sebagai deklarasi kemewahan yang lantang, melainkan pernyataan elegan yang memikat secara halus. “Orang harus bisa berkata, ‘Ini NJS.’”
Meski material alternatif semakin populer, Naomi tetap teguh pada emas. “Belum pernah ada logam lain yang melampaui emas,” katanya. Kepada pelanggan muda, ia selalu menekankan kesabaran dalam memilih, termasuk mempertimbangkan kadar emas yang seimbang antara ketahanan dan nilai. “Perhiasan itu investasi yang bisa dipakai. Terutama untuk wanita.”

Saat berbicara tentang masa depan, fokus Naomi bukan sekadar ekspansi atau pengakuan. Ia lebih memikirkan budaya yang akan ia tinggalkan. Ia ingin NJS Gold dikenal karena integritas dan persatuan. “Saya ingin tim yang solid,” katanya. “Dari manajemen puncak hingga lantai pabrik, kami satu.” Ia menerapkan aturan anti-gosip dan menumbuhkan lingkungan kerja yang positif. “Saat orang bekerja dengan hati ringan, semuanya berubah.”
Baginya, kerja keras adalah prinsip yang tak bisa ditawar. “Tidak ada yang datang dengan mudah. Semua harus bekerja keras, proaktif, berinovasi.” Namun di atas segalanya, ada satu nilai yang menjadi fondasi kepemimpinannya: “Kerja adalah ibadah.”
Perjalanan NJS Gold merefleksikan perjalanan Naomi sendiri—ditempa oleh disiplin, keberanian, dan proses belajar yang tak pernah usai. Ia memahami bahwa tekanan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan dirangkul, karena justru di sanalah karakter, seperti emas, menemukan kilaunya.





