Kertas, ingatan, dan rasa takut bertemu di CLOSED, pameran solo Irfan Hendrian yang membongkar lapisan sejarah dan identitas lewat bentuk-bentuk yang selama ini kita anggap sebagai perlindungan.
Galeri ara contemporary membuka program perdananya di tahun 2026 lewat pameran tunggal bertajuk CLOSED, menampilkan karya terbaru seniman Irfan Hendrian. Pameran ini berlangsung dari 31 Januari hingga 17 Maret 2026, menghadirkan karya terbaru Hendrian berjudul Chinatown Window Sample di Main Gallery, serta presentasi studio bertajuk **OPEN di Focus Gallery yang menyoroti proses kerja dan riset berkelanjutan Hendrian.
Dalam *CLOSED*, Irfan Hendrian secara konsisten menggunakan kertas sebagai medium utama, bukan sekadar permukaan untuk menampilkan gambar, melainkan sebagai bahan produksi itu sendiri. Pendekatan ini membuka kemungkinan baru dalam melihat kertas sebagai material yang memiliki kualitas struktural, historis, dan politis.

Melalui karya-karyanya, Hendrian berupaya mengungkap apa yang ia sebut sebagai “sisi lain” dari bentuk—sebuah wilayah di mana material, ingatan, dan sejarah saling berkelindan. Gagasan ini hadir secara lebih personal sekaligus politis dalam pameran terbarunya.
Secara teknis, Hendrian menjelaskan bahwa karyanya terlebih dahulu dicetak menggunakan proses risografi, yakni teknik cetak dengan mesin risograf yang memungkinkan produksi dalam volume tinggi dengan biaya relatif rendah, kecepatan tinggi, serta menghasilkan estetika khas yang menyerupai cetak manual.
Lembaran-lembaran kertas hasil cetak tersebut kemudian dipotong dan dibelah menggunakan mesin, sebelum disusun menjadi struktur akhir karya. Pada tahap ini, hanya jejak tinta di bagian pinggiran kertas yang tampak, menyerupai cara sejarah hadir—bukan sebagai narasi utuh, melainkan sebagai lapisan-lapisan rapuh yang saling bertumpuk.

Secara visual, pameran ini didominasi bentuk-bentuk seperti pagar, teralis jendela, dan gembok pintu. Hendrian menyebutnya sebagai “arsitektur ketakutan”, yakni struktur yang memikul beban pengalaman personal sekaligus kolektif. Berangkat dari ingatan masa kecilnya sebagai bagian dari komunitas Tionghoa, Hendrian mengajak penonton melihat bagaimana bentuk-bentuk yang tampak protektif justru sering kali menandai batas, pengawasan, dan kerentanan. Dalam konteks ini, elemen keamanan yang berulang dalam karyanya merefleksikan rasa takut yang hidup dalam pengalaman komunitas Tionghoa di Indonesia.
Salah satu karya yang menonjol dalam pameran ini adalah Emas Beras, berupa tumpukan emas kertas yang merepresentasikan stereotip masyarakat non-Tionghoa terhadap kehidupan rumah tangga masyarakat Tionghoa. Karya ini merujuk pada anggapan lama tentang kebiasaan menimbun kekayaan. Hendrian menanggapi stigma tersebut secara kritis dengan menyatakan, “Banyak yang bilang orang Tionghoa suka menimbun emas dan beras. Memang orang Tionghoa punya kebiasaan menimbun emas, tapi tidak sebanyak ini,” ujarnya.

Sebagai seniman dan perupa grafis, Irfan Hendrian dikenal konsisten mengeksplorasi kualitas formal dan potensi skulptural kertas. Praktiknya berkembang dari memperlakukan kertas sebagai bidang dua dimensi menjadi material yang berfungsi sebagai pigmen sekaligus struktur. Pendekatan ini melahirkan objek dan instalasi dengan kompleksitas visual dan konseptual yang semakin kuat.
Rekam jejak pameran tunggal Hendrian mencakup Incognito, The Arts House, Singapura (2024); Incognito di Art Jakarta, Jakarta, Indonesia (2022); Constructed _scape di Sulivan+Strumpf Singapura (2020); Some Other Matter di Aloft at Hermes, Singapura (2019); SANS, di Sulivan+Strumpf Singapura (2018); dan Terenne di Jeonbuk Museum of Art, Korea Selatan (2016).





