Kisah Hian Tjen, Andreas Odang, Mel Ahyar, dan Yogie Pratama Hadapi “Krisis” Fashion di Era Pandemi

Fashion16 September 2020

By Novita Angelina

Kisah Hian Tjen, Andreas Odang, Mel Ahyar, dan Yogie Pratama Hadapi “Krisis” Fashion di Era Pandemi

Selama seluruh dunia masih berjuang memerangi pandemi yang tengah berlangsung, kelesuan ekonomi dan ancaman kesehatan menjadi sumber kecemasan global. Dunia fesyen yang hingar-bingar bukanlah pengecualian dalam hal ini.


Namun, layaknya sektor-sektor lainnya, pada akhirnya dunia fesyen mesti bertahan dan perlahan bangkit di antara kepungan ancaman yang ada. Pandemi merupakan waktu bagi dunia fesyen untuk berbenah, memberikan yang terbaik untuk lingkungannya, dan terus menemukan inovasi.

Begitu pun yang terjadi pada desainer mode Indonesia. Misalnya, pada awal tahun ini ketika pandemi baru mulai melanda Indonesia, desainer yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) ramai-ramai mengalihfungsikan pabrik mereka untuk memproduksi APD dan masker untuk memenuhi permintaan nasional.

BACA JUGA: Ketika Perancang Mode Indonesia Bersatu Lawan Virus Corona

Setiap perancang memiliki kisah dan caranya sendiri untuk berbagi, bertahan, dan bangkit untuk terus berkarya di dunia fashion. Pada Edisi Fashion yang terbit bulan September 2020 ini, HighEnd berbincang dengan Hian Tjen, Andreas Odang, Mel Ahyar, dan Yogie Pratama terkait perjalanan karir mereka selama pandemi masih berlangsung.

HIAN TJEN

Berkarir di dunia mode lebih dari 10 tahun, Hian Tjen tetap berusaha mengekspresikan kreativitasnya dengan tanpa kompromi walau di keadaan sulit seperti sekarang ini.

Belum lama ini Hian baru saja mempresentasikan Koleksi Busana “Perfection” di Milan Fashion Week Fall/Winter 2020. Sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat tradisional Amish, Ia merancang desain dengan pilihan warna-warna tanah yang menggabungkan berbagai elemen dan simbol, termasuk hewan dan tumbuhan, serta berbagai teknik seperti sulaman, quilting, dan manik-manik.

Lewat beragam koleksi yang Ia ciptakan, Hian ingin menunjukkan para pecinta koleksinya untuk tetap kreatif dalam mengekspresikan diri pada kondisi apapun.
Ia pun merilis sebuah campaign di media sosial dengan sejumlah selebriti dan influencer mode yang mengenakan kreasi masker wajah eksklusif Hian yang bermotif flora dan fauna, berbahan sutra, dan lengkap dengan aksen kristal Swarovski, payet, hingga sulaman yang glamor. Hian berhasil membuktikan bagaimana kreativitas dapat dan akan terus berkembang di tengah masa sulit.

ANDREAS ODANG

Mencoba untuk bertahan di masa pandemi ini, Andreas Odang kembali dengan semangat positif dan ide-ide baru yang fresh dengan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi.

Musim ini Andreas kembali meluncurkan koleksi busana Spring /Summer terbaru bertemakan “Survivor” yang terinspirasi dari hasil koleksi foto fashion Irving Penn pada periode 1940-an - 1950-an.

Ia berusaha menunjukkan bahwa kreativitas desainer Indonesia tidak akan pernah habis, terlepas dari segala larangan terkait pandemi. “Saat ini, saya merasa lebih dewasa dalam mendesain karena desain signature saya mewakili feminitas, melankolis, dan androgini yang terlihat di seluruh koleksinya,” ungkapnya.

Desainer ini menjelaskan bagaimana tantangan yang dihadapi pada proses perancangan di masa pandemi ini, dimulai dengan menghubungi pemasok material melalui platform digital dan membagi shift kerja antara staf penjahitnya.

Pada fase awal pandemi, Andreas bekerja sama dengan sesama desainer untuk membuat masker untuk maskeruntuk.id dan menjahit jas hazmat untuk disumbangkan kepada tenaga medis.

MEL AHYAR

Bahkan sebelum virus Corona menyerang, Mel Ahyar berusaha mengikuti perkembangan teknologi terkini dan peralihan dari pasar offline ke online. Ia menemukan cara untuk tetap eksis dan relevan di industri mode, serta mendukung dan menunjukkan kebanggaan atas produk buatan lokal.

Melihat masker sebagai suatu hal yang paling esensial sebagai salah satu bentuk pertahanan utama terhadap pandemi, Mel berusaha mendesain beberapa desain masker berbahan premium. Beberapa di antaranya dihias dengan ornamen sulam yang penuh warna. Terdapat pula desain topeng lainnya yaitu “Visage” dengan motif bibir yang sengaja dibuat untuk mendukung gerakan “Ayo Pakai Masker” bekerja sama dengan media lokal.

Meskipun mengalami tantangan dalam aspek produksi dalam proses perancangannya, Mel terus maju dengan rancangan busananya, sambil mempertahankan protokol kesehatan di seluruh rutinitasnya.

Mel mengungkapkan bahwa untuk koleksi selanjutnya Ia bekerjasama dengan pengrajin batik gedog Tuban, yang hasilnya akan dipertunjukan secara virtual sekitar bulan September atau Oktober tahun ini.

YOGIE PRATAMA

Sejak mendirikan rumah mode pertamanya pada tahun 2009, Yogie berusaha untuk mendengar suara perempuan Indonesia dan mengubahnya menjadi sebuah kreasi seni sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada setiap perempuan di bumi.

Ketika dihadapkan pada tantangan di masa pandemi ini, Ia memanfaatkan talenta yang Ia miliki untuk menolong sesama dengan caranya sendiri. Yogie berusaha menciptakan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan, sambil juga membantu para garda depan medis dengan memproduksi setelan Alat Pelindung Diri (APD) untuk dipakai oleh dokter dan perawat serta tenaga medis lainnya yang bekerja tanpa lelah untuk mencegah atau menyembuhkan mereka yang tertular virus.

“Sebagai manusia, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu orang lain. Ketika rekan-rekan saya berperang, dan saya juga memilih untuk tetap berdiri dan bertarung,” ungkapnya.


Baca lebih banyak di Edisi Fashion HighEnd Magazine, tersedia di toko buku pada bulan September 2020. Kontak ke sini untuk layanan pesan antar.