“Percayalah pada dirimu sendiri. Saat kamu bersyukur atas apa yang kamu miliki, hidup terasa lebih tenang, dan kamu bisa terus tumbuh menjadi versi terbaik dari dirimu.” – Tissa Biani
Di usia ketika banyak orang masih mencari arah, Tissa Biani justru sudah mengukir namanya dalam sejarah perfilman Indonesia. Tiga filmnya berhasil menembus jajaran prestisius “10 Million Club”, sementara media menjulukinya sebagai “Box Office Queen”—sebuah pencapaian yang sulit diabaikan.
Meski namanya begitu dikenal, Tissa menjalaninya dengan ringan. Baginya, pencapaian bukanlah tujuan akhir, melainkan hasil indah dari melakukan hal yang ia cintai. “Setiap pencapaian terasa seperti bonus,” ujarnya. “Sejak awal, aku hanya ingin membahagiakan diri sendiri dan orang-orang di sekitarku.”
Cara pandang tersebut secara alami membentuk bagaimana ia memilih proyek. Daripada mengejar angka atau popularitas, ia lebih mengandalkan insting. “Aku tidak pernah mengambil proyek hanya demi menjangkau penonton yang banyak,” jelasnya. “Kalau aku berpikir seperti itu, justru bisa jadi bumerang. Yang paling penting adalah aku menikmati prosesnya, dan ketika hasilnya bagus, tentu aku senang. Sesederhana itu.”
Sikap yang membumi ini juga tercermin dalam cara ia memaknai kecantikan. Bagi Tissa, kecantikan tidak berhenti pada penampilan fisik. “Perempuan yang cantik tidak dimulai dari bagaimana ia terlihat,” refleksinya. “Semuanya berawal dari hati; bagaimana ia memperlakukan orang lain, menciptakan ketenangan, dan membawa kebahagiaan dalam sebuah ruang.” Baginya, kebahagiaan adalah bentuk kecantikan paling autentik—sesuatu yang terpancar alami, bukan dibuat-buat.
Keaslian itu terus berlanjut di luar sorotan kamera. Walaupun citra publiknya sering terlihat rapi dan modis, Tissa mendeskripsikan dirinya jauh lebih santai dalam kehidupan nyata. Ia merasa nyaman mengenakan kaus oblong, jins, dan sandal, sama halnya saat ia berada di atas karpet merah. “Aku sebenarnya lebih percaya diri saat menjadi diri sendiri daripada memaksakan diri untuk menjadi seperti orang lain,” katanya.

Perkembangannya sebagai seorang seniman dan perempuan juga banyak dipengaruhi oleh peran-peran yang ia pilih, terutama yang menantang secara emosional. Salah satu proyek yang ia anggap sebagai titik balik adalah Norma: Antara Mertua dan Menantu. Memerankan karakter yang terluka oleh keluarganya sendiri membuatnya merenung tentang ketangguhan dan arti menjadi perempuan. “Film itu membuatku berpikir tentang perempuan seperti apa yang ingin aku jadi saat menghadapi tantangan,” ujarnya. “Saat disakiti, apakah kita melawan, memaafkan, atau menjadikannya motivasi untuk menjadi lebih kuat dan lebih sabar?”
Meski telah mencapai banyak hal, Tissa masih menyimpan ambisi. Salah satunya adalah membintangi film action di Indonesia, sesuatu yang ia lihat sebagai peluang untuk keluar dari citra "manis" yang selama ini melekat padanya. "Orang bilang wajah aku tidak cukup terlihat tangguh," katanya. Namun, ia tidak menganggapnya sebagai batasan, melainkan sebagai tantangan—yang tampaknya sudah sangat siap ia hadapi.
Di luar akting, musik menjadi ruang ekspresi yang lebih personal baginya. Bagi Tissa, keduanya tidak terpisahkan. Akting membantunya menghidupkan emosi di balik sebuah lagu, sementara bernyanyi melatih kontrol suara dan napas yang memperkaya penampilannya di layar. “Keduanya saling melengkapi,” katanya.
Ke depan, ia berharap industri film Indonesia terus berkembang, tidak hanya dari segi skala tetapi juga kualitas—dengan cerita yang lebih membumi, peluang lebih besar bagi penonton muda, serta ruang yang semakin terbuka bagi talenta baru di balik layar.
Di tengah semua itu, Tissa tetap berpegang pada hal yang paling penting baginya. “Aku ingin dikenal sebagai seorang seniman yang selalu menempatkan karya di atas segalanya,” ujarnya. “Aku ingin anak-anakku nanti melihat bahwa ibunya bekerja di industri yang benar-benar ia cintai; film dan musik. Itulah warisan yang ingin aku tinggalkan.”




