Share
Dinzzur: Bertahan Jadi Beauty Content Creator dengan Membagikan Konten Jujur dan Tanpa Drama
Annisa Laksmi
24 July 2026

Dengan lebih dari 267 ribu pengikut di Instagram dan 527,3 ribu pengikut di TikTok, kreator konten kecantikan ini menjadi salah satu suara yang berpengaruh di dunia kecantikan Indonesia.


Dinda Azzura, yang dikenal luas sebagai Dinzzur, tidak menyangka akan menjadi salah satu suara kecantikan paling terpercaya di Indonesia. Keberadaannya dalam dunia pembuatan konten, katanya, hampir tidak sengaja. Pada tahun 2018, dia memulai dengan membuat tutorial, didorong oleh pertanyaan sederhana dari suaminya: mengapa terus berlatih makeup di rumah, malam-malam, tidak memanfaatkan skill yang ia punya. “Semuanya dimulai dengan YouTube,” kenangnya. “Cerita lucunya adalah bulan madu terus kadonya adalah dibeliin kamera second untuk mulai Youtube. Saya langsung nyebur (ke dunia konten),” ungkapnya.

Kini, Dinzzur dikenal karena ulasan jujurnya, terutama untuk kulit berminyak dan bertekstur. Kontennya cukup mengena dengan banyak followers-nya karena terasa jelas, praktis, dan nyata. Salah satu kontennya yang cukup menonjol adalah #sdkecantikandinzzur, sebuah seri konten edukasi kecantikan dalam format video singkat, yang mudah dipahami di seluruh platform media sosialnya.

Konsep ini tumbuh dari pengalamannya sendiri. “Saya belajar sendiri,” jelasnya. “Awalnya, saya belajar dari satu video YouTube ke video lainnya. Kemudian saya pernah menerima beasiswa dari sebuah giveaway, dan keterampilan saya meningkat. Tetapi saya menyadari ada begitu banyak orang di luar sana yang juga belajar sendiri.” Meskipun pengetahuan sudah ada, formatnya tidak selalu sesuai dengan cara orang mengonsumsinya. “Semuanya ada di YouTube,” katanya. “Tetapi orang-orang mengonsumsi konten pendek di TikTok dan Instagram. Jadi saya menerjemahkannya ke dalam bahasa itu.”

Perjalanannya tidak selalu lurus. “Saya telah mencoba berbagai niche,” akunya. “Saya pernah membuat makeup art, tetapi itu tidak memuaskan saya. Rasanya seperti saya hanya memenuhi permintaan pasar.” Akhirnya, dia kembali ke konten kecantikan, yang lebih dia sukai. “Sekarang saya lebih tenang. Saya hanya melakukan apa yang ingin saya lakukan. Saya tidak terlalu memikirkan algoritma lagi. Bahkan, saya bisa menghasilkan lebih banyak konten sekarang,” katanya sambil tertawa kecil. “Saya sangat nyaman di depan kamera.”

Terlepas dari pendekatannya yang santai, ada prinsip-prinsip yang tidak ingin dia kompromikan. “Drama, saya ngga pernah drama,” tegasnya. “Black campaign. Mengatakan sesuatu cocok padahal tidak. Itu tidak bisa dinegosiasikan.” Meskipun industri ini diukur berdasarkan tren dan berbagai metrik media sosial, dia bertekad untuk mengambil sikap yang tulus. “Saya sudah bersyukur bisa bertahan selama ini di industri kecantikan. Orang-orang datang dan pergi.”

Seiring waktu, definisi kesuksesannya pun turut berubah. “Saya tidak merasa harus mengejar sesuatu secara intens lagi. Mungkin karena ini perjalanan yang panjang,” renungnya. “Bagi saya, keistimewaannya adalah bisa bekerja dari rumah, melakukan apa yang saya sukai, dan tetap menghabiskan waktu bersama keluarga saya.”

Selama delapan tahun terakhir, perubahan paling signifikan bukanlah pada kontennya, tetapi pada dirinya sendiri. “Saya telah belajar menerima perubahan,” ujarnya. “Saya jadi lebih memahami diri saya sekarang. Saya tahu apa yang cocok untuk saya dan apa yang tidak. Sekarang juga sudah menemukan keseimbangan, bisa membedakan mana ambisi yang sehat dan apa yang tidak. Jadi lebih mindful.”

Ia juga berbagi persepsi yang lebih mendalam mengenai industri kreator. “Orang mungkin berpikir menjadi content creator ini easy money,” katanya. “Mungkin untuk sebagian orang. Tapi tidak untuk semua orang.” Bagi Dinzzur, pada akhirnya semuanya bermuara pada prinsip. “Kalau semua tawaran diterima, mungkin akan lebih cepat menerima uang banyak,” katanya dengan penuh pertimbangan. “Tapi filterisasi itu sih yang sebenarnya akhirnya menunjukkan value seseorang content creator, kalau menurut saya.”