Menjadi Delegasi Tunggal Indonesia pada Milan Fashion Week, Berikut Fakta Koleksi Rancangan Maquinn

Fashion29 September 2020

By Rizka Putri Sonia

Menjadi Delegasi Tunggal Indonesia pada Milan Fashion Week, Berikut Fakta Koleksi Rancangan Maquinn

Brand fesyen asal Indonesia Maquinn Couture menjadi delegasi tunggal Indonesia yang menginjakkan kaki di Milan Fashion Week 2020/2021.


Berbicara mengenai fesyen Indonesia di tengah situasi pandemi, maka kebolehan Maquinn Couture di ajang Milan Fashion Week 2020/2021 patut diperbincangkan. Brand fesyen asal Indonesia ini berhasil menginjakkan kakinya di runway Milan Fashion Week yang dihelat pada 22-28 September dan menjadi satu-satunya delegasi Indonesia di sana.

1. Terdapat Motif Batik di Setiap Koleksinya

Melalui unggahan pada akun resmi Instagram-nya, Maquinn Couture memperlihatkan sejumlah koleksi yang ia tunjukkan pada pekan mode Milan Fashion Week di Palazzo Visconti, Modrone, Italia. Sebanyak 9 koleksi dengan berbagai model, brand fesyen asal Indonesia ini selalu menghadirkan corak batik dalam setiap busana rancangannya.

2. Mengusung Tema dari Hasil Akulturasi Budaya Indonesia dan Eropa

Creative Director Maquinn Couture Benita dan Janice Setiawan menghadirkan busana hasil representasi dari akulturasi budaya Indonesia-Eropa dengan tema "Pilgrimage". Mereka mengatakan bahwa keberagaman yang harmoni dari kehidupan leluhur di masa lampau menjadi salah satu inspirasi mereka dalam merancang koleksi busana terbarunya ini.

BACA JUGA: Inspirasi 4 Gaya Tampilan Baru di London Fashion Week untuk Musim Selanjutnya

Melalui koleksi terbarunya yang dipamerkan pada ajang Milan Fashion Week tersebut, sisi feminin yang luwes, indah dan segar, namun tetap kuat dan megah ingin ditonjolkan oleh Maquinn Couture. Hal tersebut kemudian diilustrasikan melalui rancangan busana mereka dalam gaya modern floral yang mengadaptasi corak batik serta unsur modern sebagai gaya busana khas Eropa.

3. Kain Tenun Sutra sebagai Bahan Utama

Untuk menghadirkan kesan yang ingin mereka tampilkan, Maquinn Couture menggunakan kain tenun sutra, tinta emas, dan kulit asli yang dipilih sebagai bahan yang mendominasi koleksi mereka. Di samping itu, penggunaan bahan berkualitas tinggi tersebut digunakan sebagai bentuk komitmen Maquinn Couture dalam menghasilkan busana Haute Couture.

4. Dibuat dengan Teknik Tradisional Indonesia dan Secara Handmade

Tidak hanya merepresentasikan warisan Indonesia melalui corak busananya, dalam prosesnya, Maquinn Couture juga menggunakan teknik tradisional Indonesia untuk menghasilkan seluruh koleksi mewahnya tersebut. Mulai dari penenunan kain sutra, penggambaran motif batik hingga menjadi kain batik yang siap diolah, Maquinn Couture menggunakan teknik tradisional secara handmade untuk mempertahankan orisinalitasnya.

Selain teknik lukis, motif batik pada koleksi mereka juga mengombinasikan teknik embroidery (sulam) dan beading. Kedua teknik ini dipilih untuk menghadirkan kesan tegas, elegan, dan detail pada busananya.

5. Menyiratkan Banyak Makna dalam Mengenai Indonesia dalam Koleksinya

Melalui sejumlah koleksi yang mereka tampilkan pada Milan Fashion Week 2020/2021, setiap rancangan yang dihadirkan menyiratkan makna-makna tertentu sebagai delegasi Indonesia. Contoh saja, pada salah satu koleksinya, terdapat ornamen busana dan aksesori kepala yang mengadaptasi bentuk ranting pada pohon. Tak hanya untuk unsur keindahan. Benita juga menjelaskan bahwa ornamen tersebut menyiratkan makna akan kekuatan Indonesia.

"Justru ranting yang berwujud getaslah yang mampu menahan beban daun, bunga, bahkan buah. Kami ingin mengesankan bahwa meski Indonesia bukanlah negara adidaya, walaupun terlihat kecil dan getas seperti ranting, nyatanya Indonesia kuat dan mampu menjaga dan meneruskan kebaikan leluhurnya, hingga generasi berikutnya mencapai tempat yang lebih tinggi,” ujarnya.

6. Emas Menjadi Warna yang Banyak Digunakan

Melihat setiap koleksi yang ditampilkan oleh Maquinn Couture, emas menjadi warna dominan yang terdapat pada busananya. Selain digunakan untuk menghadirkan kesan mewah dan megah, mimpi dari kedua desainer asal Indonesia ini diselipkan di sana.

Eksistensi batik ke depannya tidak bergantung pada legalitas yang dimiliki batik, melainkan pada kebanggaan bangsa Indonesia menggunakan batik. Kami bermimpi, kelak batik Indonesia meraih kemenangannya di dunia internasional dan menjadi kebanggaan dunia,” kata Janice.