Hari Anak Perempuan Sedunia, Berikut 4 Anak Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia

Profile13 October 2020

By Rizka Putri Sonia

Hari Anak Perempuan Sedunia, Berikut 4 Anak Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia

4 Anak Perempuan ini, dalam usia mudanya, berhasil memberi perubahan nyata pada dunia.


11 Oktober kemarin menjadi hari diperingatinya kemerdekaan anak perempuan di dunia dan dikenal dengan sebutan Girls International Day atau hari anak perempuan sedunia yang diresmikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PSBB) pada 2011 lalu.

Untuk tahun ini, UNICEF (United Nations Children's Fund) menggiring tema "My voice, our equal future" dengan tiga tuntutan khusus, yakni terbebas dari kekerasan berbasis gender, praktik-praktik berbahaya, serta HIV dan AIDS, mempelajari keterampilan-keterampilan baru sesuai masa depan yang mereka pilih dan memimpin sebagai generasi aktivis yang mempercepat perubahan sosial.

Sebagai bentuk peringatan dalam hari anak perempuan sedunia ini, berikut ini adalah empat perempuan muda berpengaruh di dunia sebagai inspirasi positif bagi generasi muda perempuan Indonesia.

1. Greta Thunberg

Greta Thunberg merupakan seorang aktivis lingkungan berusia 17 tahun asal Swedia. Ia menjadi sosok yang kerap mengampanyekan isu-isu terkait lingkungan, perubahan iklim, dan pemanasan global. Ia menjadi penerima hadiah nobel perdamaian tahun 2020.

Greta memulai aksinya pada 2018 dengan pemogokan sekolah demi memprotes pemerintah Swedia setelah gelombang panas dan kebakaran terjadi di negaranya kala itu. Ia menyuarakan tuntutannya kepada pemerintah Swedia untuk mengurangi emisi karbon sesuai Persetujuan Paris 2020 (The Paris Agreement).

Pada tahun yang sama, ia kemudian diundang menjadi pembicara dalam TEDxStockholm serta berpidato pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa di tahun setelahnya.

Atas aksinya tersebut, Greta masuk ke dalam daftar 100 wanita paling berpengaruh di dunia versi Forbes, serta menjadi satu-satunya perempuan yang berusia di bawah 30 tahun pada daftar tersebut.

2. Malala Yousafzai

Excited to announce that Zadie Smith's White Teeth is my first book club selection. This book, written 20 years ago when Smith was a college student, still captures the imagination of readers (and re-readers) around the world. Each of us can relate to Irie's struggle to define her own identity even as she honors her family history – and all of us can learn from the perspectives, people, traditions and religions represented by Smith's wonderful characters. Join my @literati book club today [link in bio] – every month you'll receive a book in the mail, along with a note from me. And you'll get access to a platform where you can discuss the book with me and other readers in our club. Looking forward to talking about White Teeth with you next month!

Sebuah kiriman dibagikan oleh Malala (@malala) pada

Malala Yousafzai adalah seorang pelajar serta aktivis pendidikan dan wanita dari Pakistan. Ia memperjuangkan pendikan serta hak-hak perempuan di Lembah Swat yang mana saat itu Taliban melarang gadis untuk bersekolah. Dia mulai bersuara di radio dan televisi pada tahun 2008, sebelum kemudian menuliskan cerita dan pendapatnya terkait pemerintahan Taliban dan hak pendidikan perempuan dengan nama samaran untuk BBC pada tahun 2009 ketika ia berusia 12 tahun.

Malala sempat menjadi korban upaya pembunuhan kelompok bersenjata dengan ditembak pada tahun 2012 akan aksinya. Syukurnya, ia masih dapat selamat dan tetap memperjuangkan keyakinannya.

Tahun 2014, Malala mendapatkan penghargaan Nobel dalam bidang perdamaian 2014 atas perjuangannya melawan penindasan anak-anak dan pemuda serta memperjuangkan hak pendidikan bagi mereka. Ia menjadi orang termuda pertama yang pernah meraih penghargaan tersebut di usia 17 tahun hingga kemudian mendirikan Malala Fund setelahnya.

3. Melati dan Isabel Wijsen

Kakak beradik asal Bali ini merupakan sosok asal Bali yang berhasil menggerakkan jutaan orang untuk tidak menggunakan plastik sekali pakai serta mulai menanggapi secara serius terkait isu perubahan iklim.

Melati dan Isabel memulai pergerakannya pada tahun 2013 dengan berdiri di tengah keramaian pengunjung pantai-pantai Bali untuk menyuarakan gerakan BBPB (Bye Bye Plastic Bag) yang mereka buat. BBPB merupakan gerakan BBPB merupakan gerakan yang mengajak wisatawan maupun orang lokal di Bali untuk bersih-bersih sampah plastik.

Mereka yang saat itu masih berusia 12 dan 10 tahun, telah berbicara dengan lebih dari 75.000 orang di seluruh dunia serta membuat dua buklet pendidikan yang digunakan di sekolah-sekolah pendidikan dasar di Indonesia. Keduanya juga berhasil menemui Gubernur Bali I Wayan Koster dengan hasil akhir diberlakukannya Peraturan Gubernur pada 1 Januari 2019 No.97 yang melarang penggunaan plastik sekali pakai di toko-toko retail Bali.

4. Marley Dias

Marley Dias adalah satu dari sekian banyak anak perempuan yang mengalami diskriminasi kulit hitam. Marley Dias mendapati banyaknya cerita yang tidak benar dan dibuat-buat terkait orang kulit hitam pada buku-buku di sekolahnya.

Karena hal itu, ia menyuarakan kampanye #1000BlackGirlBooks untuk mengumpulkan dan mendonasikan 1.000 buku berisi gadis kulit hitam protagonis. Dalam kurang dari satu bulan, ia berhasil mengumpulkan 9.000 buku yang kemudian didonasikan ke taman baca anak-anak di Jamaika. Dalam usia belia, saat berusia 13 tahun, ia pun berhasil menerbitkan bukunya sendiri dengan judul "Marley Diaz Gets It Done and So Can You".