Terinspirasi dari kekayaan hidangan tradisional Indonesia yang masih jarang disorot, TAMU memperkenalkan “Cerita Baru di Meja Tamu” yang menampilkan 18 menu baru yang familiar dengan kreasi modern.
Indonesia memiliki cita rasa Nusantara dan tradisi yang kaya namun banyak yang masih jarang mendapat sorotan. Oleh karena itu, TAMU memperkenalkan kampanye bertajuk “Cerita Baru di Meja TAMU” melalui peluncuran 18 menu baru yang terinspirasi dari resep dan teknik memasak tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.
Koleksi terbaru ini merangkum berbagai cerita kuliner Nusantara, mulai dari hidangan-hidangan yang telah menjadi keseharian masyarakat Indonesia, hingga resep-resep khas daerah yang jarang hadir di restoran-restoran di Jakarta. Menu baru ini mencakup hidangan pembuka hingga hidangan penutup dari Sumatera, Jawa, Bali, hingga Lombok. Tidak hanya oleh karena cita rasanya, seluruh hidangan TAMU dipilih karena kisah, tradisi, dan identitas budaya yang dibawanya.
Berikut adalah beberapa dari 18 menu baru yang dihadirkan oleh TAMU:
Saksang Sapi Masak di Buluh
Salah satu menu yang paling merepresentasikan “Cerita Baru di Meja TAMU” adalah Saksang Sapi Masak di Buluh yang terinspirasi dari teknik memasak tradisional masyarakat Batak yang menggunakan bambu sebagai media memasak. Daging sapi dan jamur dimasak bersama bumbu rajang khas Sumatera Utara di dalam buluh bambu yang dibakar di atas bara api. Kelapa sangrai yang digoreng hingga berwarna coklat memberikan kedalaman rasa yang kaya, sementara andaliman menghadirkan aroma floral dan sensasi khas yang menjadi identitas kuliner Batak.
Puyuh Tangkap
Menu ini menjadi interpretasi baru dari hidangan legendaris Aceh, ayam tangkap. Di TAMU, puyuh dipilih karena dagingnya yang cukup gurih dan tidak terlalu berlemak jika dibandingkan dengan ayam. Disajikan bersama kelapa sangrai dan sambal pop, menu ini menghadirkan pengalaman baru terhadap salah satu hidangan paling ikonik dari Aceh.
Sate Tutut Bulayak
Sate yang menggunakan keong sawah (tutut) ini menjadi salah satu hidangan yang paling mencuri perhatian karena menghadirkan bahan pangan yang selama ini lebih sering ditemukan di dapur rumahan atau daerah asalnya dibandingkan di restoran Indonesia modern. Terinspirasi dari tradisi kuliner Lombok, sate tutut ini disajikan bersama saus Bulayak berbasis rembiga santan yang kaya rempah, creamy, dan gurih.
Bebek Bumbu Rajang
Terinspirasi dari tradisi Bebek Betutu khas Bali, hidangan ini menghadirkan bebek yang dibumbui dengan bumbu rajang kaya rempah, kemudian dibungkus daun pisang dan dimasak perlahan hingga empuk. Teknik memasak ini menghasilkan daging yang lembut, tidak amis, dengan profil rasa yang hangat dan kompleks tanpa dominasi rasa pedas. Disajikan bersama daun singkong, urap sayur, sambal matah, dan sambal embe, menu ini menghadirkan pengalaman menikmati hidangan Bali yang lengkap dalam satu sajian.
Sate Padang
Dalam satu sajian, sate Padang versi ini menghadirkan kombinasi lidah sapi dan sengkel sapi yang memberikan tekstur berbeda namun saling melengkapi. Sate ini kemudian disiram dengan saus kari Minang yang kaya rempah dan disajikan bersama lontong sayur dan kerupuk jangek.
Pisang Kepik
Untuk hidangan penutup, TAMU menghadirkan Pisang Kepik, sebuah interpretasi modern dari Pisang Kapik yang populer di Sumatera Barat. Alih-alih membakar pisang yang dijepit, Pisang Kepik TAMU terdiri dari kombinasi pisang bakar, bolu pisang, unti kelapa, santan, dan es krim vanilla. Perpaduan berbagai tekstur dan temperatur menciptakan pengalaman yang familiar namun tetap menghadirkan kejutan di setiap suapan.
Selain enam hidangan unggulan tersebut, TAMU juga menghadirkan berbagai hidangan baru lainnya yang terinspirasi dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Cakalang Pao, Jamur Tiram Goreng, Tempe Mendoan, Kerupuk Kuning Asinan, Tuna Santan Segar, Urutan Sapi Asap, Tahu Gejrot, Asinan Sayur, Soto Betawi, Ikan Pesmol, Mie Goreng Se'i Sapi, dan Tumis Kangkung Tutut.
Melalui peluncuran 18 menu baru ini, TAMU berharap dapat membuka lebih banyak percakapan mengenai kekayaan kuliner Indonesia yang belum banyak tereksplorasi, sekaligus mengajak masyarakat Jakarta untuk mengenal Indonesia melalui rasa, tradisi, dan pengalaman makan bersama.



