Share
TERASI 2026 Merayakan Indonesia Lewat Karya Ilustrasi
Patricia Rosina
18 August 2026

Lewat tema “Rumahku Indonesia”, TERASI 2026 mengajak publik merayakan kemerdekaan melalui ilustrasi, kreativitas, dan karya 60 ilustrator lokal.


Ada banyak cara untuk merayakan Indonesia. Tahun ini, TERASI (Teras Inspirasi) 2026 memilih seni, ilustrasi, dan cerita dari para kreator lokal sebagai salah satunya.

Memasuki tahun ketiga, festival yang diinisiasi SOVLO ini kembali hadir pada 13–17 Agustus 2026 di Agora Mall, Thamrin Nine, Jakarta. Skalanya pun semakin besar. Sebanyak 60 ilustrator lokal terpilih dari lebih dari 2.000 karya yang masuk, membawa perspektif mereka tentang Indonesia ke tengah publik.

Tahun ini, “Rumahku Indonesia” dipilih sebagai tema utama. Sebuah tema yang terasa sederhana, tetapi justru membuka begitu banyak cerita. Indonesia diterjemahkan melalui keberagaman budaya, tradisi, keseharian, hingga hal-hal kecil yang membuat sebuah tempat terasa seperti rumah. Melalui karya para ilustrator, perayaan kemerdekaan tidak hanya hadir dalam bentuk seremoni. Ia bisa dilihat, dirasakan, dikenakan, bahkan dibawa pulang.

Itulah yang membuat TERASI terasa berbeda. Seni tidak ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh atau hanya bisa dinikmati di ruang galeri. Pengunjung dapat menemukan wearable art, art print, trinket, hingga art toys yang memungkinkan karya ilustrator menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bagi Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, kehadiran ruang seperti TERASI penting untuk memastikan talenta kreatif Indonesia memiliki tempat untuk berkembang.

“Melalui SOVLO, kami berharap Jakarta dapat terus berkembang sebagai pusat ekonomi kreatif yang memberi ruang bagi lahirnya talenta-talenta baru. Kehadiran platform seperti TERASI penting bukan hanya sebagai tempat berkumpul dan berkarya, tetapi juga sebagai ruang inspirasi yang memperkuat ekosistem ilustrasi Indonesia,” ujar Irene.

TERASI 2026

Ia juga melihat potensi ilustrator Indonesia untuk tidak hanya berkembang di pasar nasional, tetapi juga menembus pasar global. Menurutnya, yang dibangun bukan sekadar panggung untuk menampilkan karya, melainkan ruang yang inklusif dan berkelanjutan, sehingga ilustrasi dapat diterjemahkan menjadi produk dengan nilai ekonomi yang nyata.

Semangat tersebut sebenarnya sudah menjadi bagian dari perjalanan SOVLO. Sejak Maret 2021, SOVLO telah menyalurkan Rp4,3 miliar dalam bentuk bagi hasil kepada ilustrator lokal melalui monetisasi karya dalam berbagai produk dan kolaborasi. Dengan demikian, TERASI bukan hanya menjadi tempat karya dipamerkan, tetapi juga titik temu antara kreativitas dan peluang ekonomi.

Selama lima hari penyelenggaraan, pengunjung dapat menikmati instalasi karya 60 ilustrator lokal, Immersive Wall Painting, TERASI Art Market, Creative Workshop & Inspiring Talk, Illustrator Meet & Greet, hingga Drawing Competition dan final competition SOVLO Goes to School.

Suasananya pun dibuat tidak kaku. Pertunjukan musik, karaoke bersama, kelas tari tradisional, area kuliner, serta berbagai instalasi interaktif turut melengkapi pengalaman. Pengunjung tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi diajak ikut menjadi bagian dari perayaan kreativitas tersebut.

Ada satu hal lain yang membuat TERASI tahun ini terasa semakin berarti: inklusivitas.

SOVLO melanjutkan kolaborasinya dengan Ikatan Sindroma Down Indonesia (ISDI) dan memperluas kolaborasi bersama Yayasan Kanker Anak Indonesia (YKAI). Karya para seniman dengan sindrom Down serta anak-anak penyintas kanker hadir dalam koleksi wearable art eksklusif. Sebelumnya, melalui kolaborasi dengan ISDI, SOVLO telah menyalurkan lebih dari Rp130 juta dalam bentuk bagi hasil pada tahun pertama.

TERASI 2026

Bagi seniman dan ilustrator Indonesia Mohammad Taufiq atau yang lebih dikenal sebagai Emte, konsep “rumah” juga memiliki makna yang lebih dalam.

“SOVLO bisa menjadi ‘rumah’. Bukan sekadar tempat untuk berteduh, melainkan tempat lahirnya ide dan curahan kreativitas; ruang tempat berbagai gagasan tumbuh sekaligus menghadirkan harmoni antara produktivitas dan ketenangan batin,” ujarnya.

Mungkin di situlah kekuatan TERASI 2026. Ia tidak hanya berbicara tentang ilustrasi, tetapi tentang bagaimana sebuah ekosistem memberikan ruang kepada orang-orang di dalamnya untuk tumbuh.

Ada kreator yang ingin karyanya dikenal lebih luas. Ada publik yang ingin menemukan karya baru. Ada industri yang membutuhkan ide segar. Ada pula komunitas yang membutuhkan tempat untuk bertemu dan berkolaborasi. Semua bertemu dalam satu ruang yang sama.

Dengan target lebih dari 35.000 pengunjung tahun ini, TERASI melanjutkan pertumbuhan dari penyelenggaraan sebelumnya yang berhasil mendatangkan lebih dari 24.000 pengunjung dalam empat hari.

Pada akhirnya, “Rumahku Indonesia” bukan hanya sebuah tema. Ia menjadi cara untuk melihat Indonesia melalui banyak mata dan banyak cerita.

Lewat ilustrasi, Indonesia hadir dalam bentuk yang lebih dekat dengan generasi hari ini.

Dan mungkin, merayakan kemerdekaan tidak selalu harus dengan sesuatu yang besar. Bisa juga dengan memilih mengenal karya anak bangsa, membawa pulang sesuatu yang dibuat oleh kreator lokal, atau sekadar memberi apresiasi pada sebuah ide.

Karena sebuah rumah menjadi berarti bukan hanya karena tempatnya, tetapi karena cerita dan orang-orang yang membuatnya hidup.

Di TERASI 2026, cerita itu datang dari 60 ilustrator lokal. Dan untuk lima hari, Jakarta menjadi salah satu ruang tempat cerita tentang Indonesia tersebut dirayakan bersama.