Menjelang pementasan di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, para cast Jersey Boys The Musical membagikan proses mendalami karakter, membangun chemistry, dan menghidupkan kisah legendaris Frankie Valli & The Four Seasons.
Menjelang pementasannya pada 27–28 Juni 2026 di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jersey Boys The Musical semakin memperlihatkan keseriusannya dalam menghadirkan kisah legendaris Frankie Valli & The Four Seasons kepada penonton Indonesia. Dalam konferensi pers terbaru, para pemain membagikan pengalaman mereka dalam mendalami karakter sekaligus membangun chemistry yang menjadi fondasi utama pertunjukan ini.
Memerankan Frankie Valli bukanlah tugas yang ringan. Andikara mengungkapkan bahwa prosesnya dimulai dari riset mendalam mengenai kehidupan sang legenda musik, termasuk mempelajari bagaimana band tersebut terbentuk dan bagaimana karakter Frankie berkembang dari remaja pemalu menjadi sosok yang lebih percaya diri.
“Untuk mendalami karakter, saya sempat mencari banyak referensi tentang tahun 60-an, baik di Amerika maupun Indonesia. Dari bahasa, gaya berpakaian, sampai desain visual pada masa itu. Tapi yang paling saya coba gali adalah pembawaannya sebagai Frankie Valli,” ujarnya.
Sementara itu, Ray Paulus mengungkapkan bahwa tantangan terbesar terletak pada bagaimana menghadirkan perjalanan emosional Frankie di atas panggung. Sebagai seorang penyanyi, ia juga harus menyesuaikan karakter vokalnya agar mendekati sosok asli Frankie Valli.
“Tantangan utamanya adalah menyesuaikan suara Frankie Valli sekaligus membawakan perjalanan hidupnya dari remaja, dewasa, hingga menjadi superstar. Setiap adegan memiliki emosi dan pembawaan yang berbeda,” kata Ray.
Meski mendalami karakter terasa cukup natural, Ray mengakui bahwa membangun chemistry sebagai sebuah band membutuhkan waktu dan proses tersendiri.

“Untuk masuk ke dalam karakter sebenarnya lebih mudah. Tantangan lainnya justru membentuk chemistry sebagai band. Tapi karena kami sering latihan bersama dan bonding di luar latihan, semuanya jadi semakin terasa menyatu,” tambahnya.
Sebagai Tommy DeVito, Nabil Pawaka melihat karakternya sebagai sosok yang sangat manusiawi—karismatik, lucu, percaya diri, tetapi juga impulsif dalam mengambil keputusan besar yang memengaruhi perjalanan band.
“Saya harus mencari keseimbangan antara sisi Tommy yang menyenangkan dan sisi tegasnya saat mengambil keputusan. Itu yang membuat karakter ini menarik untuk dimainkan,” jelas Nabil.
Ia juga mengenang momen yang membuatnya sadar bahwa perjalanan produksi ini sudah berjalan begitu jauh. “Ada satu momen ketika saya ingat baru selesai audisi, lalu tiba-tiba sudah berada di konferensi pers. Saat itu saya merasa, ternyata perjalanan kami sudah sejauh ini,” katanya.
Bagi Gathfaan Rifqi yang memerankan Bob Gaudio, tantangan terbesar adalah memahami cara berpikir seorang musisi muda yang telah menciptakan lagu-lagu hit sejak usia 15 tahun. “Saya mencoba memahami bagaimana Bob Gaudio berpikir dan mencari hal-hal yang bisa saya relasikan dengan kehidupan saya sendiri. Dari situ prosesnya berkembang bersama karakter ini,” ujarnya.
Andikara juga membagikan salah satu momen paling berkesan selama proses latihan.
“Ada satu latihan ketika semua cast berkumpul dalam satu lagu. Saat melihat ke cermin dan melihat semua orang tampil bersama, saya langsung berpikir, ‘Wow, this is happening.’ Energi yang muncul saat latihan bersama benar-benar terasa,” ungkapnya.
Kembali ke panggung teater besar setelah 11 tahun, Agatha Pricilla mengaku menikmati setiap tahap persiapan menuju hari pertunjukan. Pemeran Mary Delgado ini melihat karakternya sebagai sosok perempuan yang setia dan penuh empati.
“Mary adalah perempuan yang sangat manusiawi. Dia konsisten menemani orang yang ia cintai, tetapi di saat yang sama memiliki spektrum emosi yang luas. Itu yang membuat karakter ini menarik,” tutur Agatha.
Ia pun mengaku tidak sabar melihat hasil dari seluruh proses latihan yang telah dijalani. “Setelah melewati semua latihan vokal, koreografi, dan adegan, saya sudah tidak sabar membawanya ke panggung yang lebih besar,” katanya.
Sementara itu, Jeje Soekarno dan Royyan Sungkar menjalani debut musikal mereka melalui produksi ini. Jeje yang memerankan Bob Crewe mengaku menikmati kesempatan untuk mengeksplorasi karakter yang kreatif dan penuh ide di luar kebiasaan. “Ini musikal pertama saya dan saya sangat menikmatinya. Bob Crewe adalah sosok yang kreatif, luar biasa, dan selalu berpikir out of the box,” ujarnya.
Royyan Sungkar yang berperan sebagai Norman Waxman juga menyebut pengalaman ini sebagai mimpi yang menjadi kenyataan. “Sejak kecil saya suka menonton musikal. Sekarang bisa berada di sini bersama para pemain yang sudah berpengalaman adalah sesuatu yang sangat saya syukuri,” kata Royyan.
Dengan hitungan hari menuju pertunjukan, para pemain sepakat bahwa proses latihan yang panjang telah membentuk ikatan yang kuat di antara mereka. Lebih dari sekadar mempelajari dialog dan lagu, Jersey Boys The Musical menjadi perjalanan kolektif untuk menghidupkan kembali kisah persahabatan, ambisi, dan musik yang menjadikan Frankie Valli & The Four Seasons sebagai salah satu grup paling berpengaruh dalam sejarah musik populer.



