Jakarta, 8 Februari 2026 — Art Jakarta usai menggelar perhelatan perdana Art Jakarta Papers 2026 di City Hall, Pondok Indah Mall 3. Pekan seni ini menghadirkan 28 galeri seni yang seluruhnya memamerkan karya seni kertas selama empat hari berturut-turut, pada 5 hingga 8 Februari 2026 lalu. Art Jakarta Papers juga menampilkan sejumlah presentasi tunggal seniman Indonesia, presentasi kolaborasi dengan mitra, serta rangkaian program publik yang turut menyorot medium kertas pada praktik seni rupa lokal.
Edisi perdana Art Jakarta Papers dikunjungi sebanyak 9,289 pengunjung, angka yang mencerminkan konsistensi minat masyarakat terhadap acara dan pekan seni lokal. Meski berada di tengah situasi ekonomi yang kian tak pasti, Art Jakarta Papers tetap melihat dukungan teguh dari kolektor dan komunitas seni lokal. Hadir dalam format yang baru dan segar, pekan seni ini juga menyaksikan sejumlah kolektor dan penikmat seni baru yang turut menikmati suguhan karya seni kertas yang membawa kebaruan format dan bentuk.


Selain presentasi karya seni, pengunjung juga menikmati karya instalasi patung Iwan Effendi yang monumental, sebuah boneka yang terbuat dari kertas dengan tinggi hingga 2.5 meter. Karya ini mengundang banyak perhatian bagi pengunjung dari berbagai usia.
Kolektif Ruang MES 56 membawakan lokakarya fotogram cyanotype yang tak kalah menarik bagi pengunjung Art Jakarta Papers. Alhasil, pengunjung dengan antusias
bereksperimen dengan teknik foto-cahaya dan komposisi bentuk pada kertas bersama para fasilitator dari anggota kolektif.
Pada hari Sabtu dan Minggu, 7 dan 8 Februari 2026, pekan seni ini membawa program AJ Talks dalam tema yang khusus membahas tentang kertas dalam dunia seni rupa kontemporer. Tema diskusi mengangkat berbagai seluk beluk seputar posisi karya kertas dalam ekosistem seni rupa, tantangan konservasi karya kertas dalam konteks iklim tropis, peluang pasar internasional untuk seniman kertas Indonesia, evolusi karya kertas, kertas sebagai ruang eksperimen, dan restorasi kertas. Rangkaian diskusi melibatkan berbagai pemain dalam industri seni rupa, mulai dari seniman, kurator, galeri, kolektor, dan konservator serta mendapat minat yang cukup antusias dari pengunjung. Selain diskusi, program publik Art Jakarta Papers juga dilengkapi oleh lokakarya dari Krack! Printmaking Collective asal Yogyakarta yang memperkenalkan teknik cetak saring kepada pengunjung.

Kehadiran myBCA Space di Art Jakarta Papers membawakan suatu presentasi monolitik karya seniman Rudy Atjeh. Instalasi karya yang dibuat dari susunan potongan kertas ini membentuk suatu pohon sebagai metafora pertumbuhan hidup manusia. Pengunjung diajak untuk masuk ke dalam suatu instalasi kubus dengan dinding semi-transparan dan berinteraksi dengan karya sang seniman dengan menggantungkan origami kertas pada langit-langit kubus. Elemen interaktif pada presentasi ini menarik antusias publik untuk mengamati karya seni Rudy Atjeh lebih seksama sekaligus memahami konsep yang dihadirkan myBCA.

Sucor Asset Management menghadirkan Sucor AM Corner, ruang interaktif yang melibatkan seniman Naufal Abshar dalam menginterpretasikan enam pion catur ke dalam karakter patung papier-mâché. Tema strategi investasi muncul dalam metafora permainan catur yang disajikan dalam tiga tingkat kesulitan yang telah dikemas dengan apik, menyesuaikan dengan selera investasi masyarakat. Ruang ini mengajak pengunjung untuk berinteraksi satu sama lain dan juga dengan perwakilan dari Sucor AM untuk bermain catur, menghasilkan suatu interaksi yang bermakna sembari mengenal produk dan nilai yang ditawarkan Sucor AM.
Tahun ini, Art Jakarta menghadirkan rangkaian program yang mencakup Art Jakarta Papers; Art Jakarta Gardens yang tahun ini memasuki edisi kelima akan diselenggarakan di Hutan Kota by Plataran pada 5–10 Mei 2026; kemudian puncaknya adalah Art Jakarta sebagai program unggulan yang akan berlangsung di JIExpo Kemayoran pada 2–4 Oktober 2026. Melalui rangkaian ini, Art Jakarta menegaskan posisinya sebagai platform berkelanjutan yang memperkuat ekosistem seni rupa di Indonesia, sekaligus membuka ruang dialog dan pertukaran praktik seni rupa kontemporer di tingkat regional.
“Bagi Nadi, pengalaman pertama kami ternyata membuahkan hasil yang positif. Kami bertemu dengan kolektor-kolektor baru. Antusiasme yang besar dari pengunjung terlihat dari banyaknya orang yang datang selama periode art fair. Karakter kertas yang ringan membuat masyarakat yang baru mengenal dunia seni tidak terlalu ragu untuk memulai percakapan dengan kami.”
- Dhira Dwinanda, Direktur Galeri, Nadi Gallery
“Edisi perdana Art Jakarta Papers telah membuktikan komitmen penyelenggara dalam mengembangkan ekosistem seni Indonesia. Diskusi serta respons hangat yang kami terima terhadap karya-karya yang kami pamerkan—termasuk karya seniman muda yang sedang berkembang hingga karya berskala besar dengan medium kertas—menjadi indikator kuat atas upaya dan keseriusan yang dicurahkan dalam proses persiapan menuju pameran ini.”
- Megan Arlin, Direktur, ara contemporary
“Art Jakarta Papers 2026 menyoroti bagaimana kertas dapat berfungsi lebih dari sekadar medium bagi seniman, tetapi juga sebagai ruang bagi gagasan dan eksperimen. Kami terdorong oleh rasa ingin tahu pengunjung serta keterbukaan mereka untuk terlibat dengan karya-karya yang membutuhkan waktu, kedekatan, dan percakapan. Kami mengapresiasi platform yang terfokus ini serta kesempatan untuk memperkenalkan praktik para seniman kami kepada audiens yang bersedia meluangkan waktu untuk terlibat, bertanya, dan merefleksikan karya-karya tersebut.”
- Orton Huang, Direktur, YIRI ARTS




