Perancang busana Indonesia Didit Hediprasetyo berkolaborasi dengan Leica Store Jakarta menghadirkan Leica D-Lux 8 Limited Edition, sebuah karya yang memadukan teknologi fotografi premium dengan warisan budaya Indonesia melalui interpretasi modern motif songket.
Didit Hediprasetyo kembali menunjukkan kemampuannya menjembatani tradisi dan inovasi melalui kolaborasi eksklusif bersama Leica Store Jakarta. Bertajuk Leica D-Lux 8 Limited Edition by Didit Hediprasetyo, kolaborasi ini menjadi bagian dari perayaan koleksi couture ke-33 Didit yang bertema Weaving Through a Traveller’s Eye.
Bagi Didit, perjalanan selalu menjadi sumber inspirasi yang memperkaya perspektif kreatifnya. Berbagai budaya yang ditemuinya selama bertahun-tahun telah membentuk bahasa desain yang khas, di mana elemen tradisional dari berbagai negara Asia diterjemahkan menjadi karya yang ringan, modern, dan universal. Dari kebaya Indonesia hingga hanbok Korea, setiap siluet diinterpretasikan ulang tanpa kehilangan akar budayanya.

Salah satu elemen yang paling melekat dalam karya Didit adalah motif herringbone, yang terinspirasi dari kemiripan pola geometris tersebut dengan tenunan songket Nusantara. Dalam berbagai koleksinya, Didit menjadikan motif ini sebagai simbol dialog antara warisan budaya Indonesia dan desain kontemporer. Songket, menurutnya, bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan medium hidup yang terus berkembang melalui interpretasi baru.
Untuk pertama kalinya, motif Herringbone Songket tersebut diaplikasikan pada bodi kamera Leica D-Lux 8. Kamera premium yang dikenal dengan desain ringkas dan performa tinggi ini mendapatkan sentuhan couture khas Didit, menjadikannya bukan hanya alat fotografi, tetapi juga sebuah objek koleksi bernilai seni tinggi. Hadir dalam pilihan warna hitam-putih dan hitam-perak, detail pada permukaan kamera merefleksikan tekstur dan karakter tenunan songket sekaligus tetap mempertahankan estetika minimalis khas Leica.

Kolaborasi ini mempertemukan dua dunia yang sama-sama menghargai presisi dan perhatian terhadap detail. Jika songket merangkai keindahan melalui benang emas dan perak, Leica menangkap keajaiban cahaya melalui teknologi lensa dan pencitraan yang telah diakui dunia. Sebagai penghormatan terhadap koleksi couture ke-33 Didit, kamera edisi spesial ini diproduksi sangat terbatas, hanya sebanyak 33 unit di seluruh dunia.
“Kolaborasi ini menjembatani teknologi modern dan kerajinan tradisional yang sama-sama didasari dedikasi terhadap detail dan pencarian kesempurnaan,” ujar Didit Hediprasetyo. Ia berharap motif songket dapat diperkenalkan kepada audiens yang lebih luas melalui medium yang modern dan relevan dengan era digital saat ini.
Melengkapi kolaborasi tersebut, Didit juga menghadirkan pouch songket bermotif herringbone yang dirancang sebagai karya seni sekaligus aksesori pendamping kamera. Tak hanya itu, peluncuran ini turut disertai film pendek berjudul Weaving Through the Lens of the Heart, yang disutradarai langsung oleh Didit bersama sinematografer Davy Linggar dan komposer Yovie Widianto. Film tersebut mengambil lokasi di Jakarta, Solo, dan Venesia, menampilkan perjalanan visual yang mencerminkan semangat eksplorasi budaya yang menjadi inti dari kolaborasi ini.
Melalui Weaving Through a Traveller’s Eye, Didit Hediprasetyo kembali menegaskan bahwa tradisi tidak pernah berhenti berkembang. Warisan budaya akan terus hidup ketika diberi ruang untuk bertransformasi, menemukan makna baru, dan hadir dalam bentuk yang relevan bagi generasi masa kini.





