Melalui Aku Sebelum Aku, Gina S Noer mengajak penonton menelusuri jejak trauma antargenerasi yang dipengaruhi berbagai faktor. Tayang mulai 16 Juli 2026, film ini menawarkan rasa ingin tahu sebagai langkah untuk memutus rantai kekerasan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Hubungan orang tua dan anak kerap kali menghadirkan berbagai rasa yang tidak selalu terasa manis. Hal itu tentu dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari ekonomi, sosial, hingga politik. Melalui film Aku Sebelum Aku, Gina S Noer selaku penulis dan sutradara, membawa berbagai rasa yang terkadang dianggap tawar namun memengaruhi akar kehidupan.
Dalam film Aku Sebelum Aku yang akan tayang secara global pada 16 Juli 2026, Gina S Noer, tidak hanya menyajikan tentang kerumitan yang dialami dalam setiap rumah tangga. Lebih dari sekadar masalah perorangan, film ini menjelaskan bagaimana kondisi politik memberikan dampak pada pola asuh terhadap anak yang terus terjadi secara turun-menurun dan bagaimana memahami sejarah dapat mengubah hal itu.
“Kita bisa memutus rantai-rantai kekerasan yang ada dalam diri kita. Kita bisa melihat sejarah jauh lebih luas dari pada sekadar hafalan yang ada di sekolah-sekolah. Kita bisa pushing ourselves untuk menjadi keluarga besar yang saling menolong satu sama lain terutama di masa krisis seperti ini,” jelasnya.
Dilatarbelakangi proses seorang anak yang ingin keluar dari lingkaran yang mengekang dirinya, Jati yang diperankan oleh Bima Sena berusaha untuk menemukan jati dirinya termasuk mempertahankan hubungan dengan sang ayah yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman. Berlatar di Bandung, film ini berusaha untuk mempertahankan tonality yang ingin menghadirkan ketegangan namun tetap diwarnai keindahan.
“Saya terbayang film ini akan memiliki banyak perdebatan. Tapi yang sangat saya suka dari Sunda dan logatnya, karena seperti bernyanyi. Jadi selalu terbayang adegannya walaupun tegang tapi rasanya itu mengayun dan tetap indah. Sebenarnya penting sekali untuk menjaga tonality dari ceritanya, walaupun ada ketegangan tapi juga ada keindahan, dan kadang kita berdiri di antara area itu,” tutur Gina.
Tidak hanya itu, melalui Aku Sebelum Aku, Gina turut menuturkan bahwasannya rasa ingin tahu menjadi tahap awal membangun empati.
“Karena empati bukan hanya hadir karena kasih, tapi dari rasa ingin tahu kita.”




