The Met Tunjukkan Perkembangan Fesyen Melalui Pameran About Time: Fashion and Duration
Rizka Putri Sonia
03 November 2020

150 tahun berdiri, The Metropolitan Museum of Art, New York, merayakan hari jadinya dengan menghadirkan pameran busana bertajuk "About Time: Fashion and Duration".


150 tahun bukanlah waktu yang sebentar ketika kembali menilik pada perkembangan gaya fesyen yang dikenakan orang dari waktu ke waktu. 1,5 abad berlalu, tidak hanya teknik pembuatan busana yang berubah seiring dengan perkembangan teknologi; corak, bahan dasar, hingga bentuk juga berkembang secara dinamis.

Pergi kembali pada tahun 1870 ketika baju bergaya celemek, kerutan rempel, serta lekuk balon pada kedua lengan menjadi tren, tentunya kita semua tahu bahwa gaya tersebut tidak lagi menjadi pakaian yang digemari generasi saat ini. Meski demikian, nyatanya pakaian-pakaian masa kini masih banyak mengadaptasi busana masa lalu yang kemudian dirombak kembali ke dalam bentuk yang lebih modern.

Hal inilah yang kemudian dicoba untuk diperlihatkan oleh The Metropolitan Museum of Art atau The Met dalam pameran fesyen bertajuk "About Time: Fashion and Duration". Dalam rangka perayaan ulang tahunnya yang ke-150 tahun, museum seni terbesar di New York ini yang dibantu oleh desainer set Es Davlin menciptakan dua ruang galeri yang membandingkan desain fesyen dari tahun 1870 hingga saat ini.

The Met's Costume Institute membuka pameran ini dari 29 Oktober 2020 hingga 7 Februari 2021 di Museum Fifth Avenue, New York. Sebenarnya, pameran ini semula direncanakan untuk dibuka pada Mei lalu, namun ditunda karena pandemi virus corona. Hal tersebut lantas membuat The Met menutup gedung utamanya di Fifth Avenue, serta lokasi Met Breuer dan Met Cloisters pada awal Maret sehingga rencana pembukaan pameran ini pun juga harus ditunda.

Sebagai gantinya, maka The Met menyelenggarakan pameran bertajuk perkembangan desain 150 tahun ini yang juga sekaligus dari pameran tahunan The Met's Costume yang selalu diselenggarakan setiap musim semi. Mengantisipasi situasi pandemi yang juga masih melanda saat ini, The Met membuat versi virtual tour pameran About Time yang mereka unggah di YouTube.

Pameran About Time ini didasarkan pada gagasan filsuf Prancis abad ke-20 Henri Bergson mengenai waktu sebagai la durée atau durasi; sesuatu yang dapat diukur melalui gambar tetapi tidak pernah dirasakan secara keseluruhan.

"About Time: Fashion and Duration mempertimbangkan sifat fana dari mode, menggunakan kilas balik dan maju untuk mengungkapkan bahwa hal itu (fesyen) bisa menjadi linier sekaligus siklus," ujar direktur The Met, Max Hollein.

Alih-alih menghadirkan perkembangan desain dalam busana secara kronologis, tema ini diangkat dengan memadukan garis waktu untuk membandingkan sifat siklus fesyen selama bertahun-tahun.

Pameran tersebut terletak di dua galeri Iris dan B Gerald Cantor Exhibition Hall dengan lokasi yang dibentuk menyerupai angka 6 dan 0 sebagai representasi waktu 60 menit dalam 1 jam yang masing-masing galerinya diatur dengan dua waktu yang berbeda.

Galeri pertama berisi 60 set busana yang ditunjukkan secara kronologis mulai dari tahun 1870 hingga saat ini. Tujuannya adalah untuk menampilkan proses perubahan gaya desain busana yang bersifat kebaruan, cepat berubah, dan kekunoannya.

Galeri kedua berisi 60 set busana lainnya yang menunjukkan perubahan gaya dari galeri lini waktu pertama, baik waktu sebelum atau sesudahnya, yang dibandingkan berdasarkan bentuk, motif, bahan, teknik, dan dekorasi pada bajunya. Seluruh busana yang ditampilkan pada kedua galeri mayoritas diperlihatkan dengan warna hitam untuk menekankan perubahan pada desainnya.

Pada lantai pameran tersebut juga terdapat garis-garis putih (layaknya garis pada jam analog) yang menjadi tanda pembagi galeri tersebut menjadi 60 segmen (atau 60 menit). Setiap "menit" menampilkan dua pakaian; busana bagian depan diurutkan secara kronologis sedangkan bagian belakangnya menampilkan persamaan atau perbedaan dalam bentuk pakaian dari busana di depan tanpa terikat oleh urutan waktu secara kronologis.

Contoh saja, adanya gaun dengan princess line yang dibuat tanpa jahitan pinggang milik Charles Frederick Worth tahun 1876 yang dikomparasikan dengan rok Alexander McQueen tahun 1995 yang dibuat mengikuti desain princess line.

Ada 125 model busana yang dipamerkan dari koleksi The Costume Insitute. Koleksi ini mencakup karya dari desainer dan merek kontemporer dan bersejarah terkenal seperti Virgil Abloh, Azzedine Alaïa, Jonathan Anderson, Iris van Herpen, Karl Lagerfeld dan Vivienne Westwood.

"Fashion berhubungan erat dengan waktu," kata Andrew Bolton, kurator dari The Costume Institute. "Mereka tidak hanya mencerminkan dan mewakili semangat dari tiap zamannya, tetapi juga berubah dan berkembang seiring waktu, dan berfungsi sebagai penunjuk waktu yang sangat sensitif dan akurat."