Surat Untuk Masa Mudaku resmi menjadi rilis terbaru sutradara Sim F. sekaligus menjadi debut perdana aktor muda Millo Taslim.
Surat Untuk Masa Mudaku menjadi salah satu rilisan terbaru yang membuka musim perfilman tahun ini. Film yang resmi tayang pada 29 Januari 2026 ini juga menandai kembalinya sutradara Sim F. setelah enam tahun tidak merilis karya layar lebar.
Film ini mengikuti keseharian Kefas, seorang yatim piatu yang harus tinggal di panti asuhan dan menyimpan dendam terhadap para pengurus yang pernah bekerja di sana. Hidupnya mulai berubah ketika ia bertemu Pak Simon, pengurus baru yang merupakan seorang pensiunan dan memilih tetap bekerja demi menopang kehidupannya di masa tua.
Dalam konferensi pers, Sim F. membagikan latar belakang ide di balik film tersebut. “Ceritanya terinspirasi dari kehidupan nyata di panti asuhan, seperti apa perjuangan anak-anak di sana, rasa sedih mereka ditinggal, sekaligus bagaimana mereka memiliki harapan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa meskipun mengambil inspirasi dari pengalaman pribadi, film ini bukanlah biografi. “Saya dan penulis naskah Daud Sumolang meramu cerita-cerita dari kehidupan nyata di panti asuhan menjadi satu tema, yaitu rasa kehilangan, yang dirasakan oleh karakter Kefas remaja, Kefas dewasa, sampai Pak Simon.”
Pemilihan nama karakter juga dilakukan secara sadar, dengan referensi yang diambil dari Alkitab untuk menggambarkan keterkaitan antarfigur. “Gimana saya mencari nama-nama karakter yang bisa diartikan sebagai satu orang? Karena aku Kristen, jadi aku tahu nih kalau ada (Simon) yang namanya sama (Kefas),” ujarnya.
Tantangan Baru bagi Millo Taslim dan Sim F.
Bagi Theo Camillo Taslim, atau yang akrab disapa Millo Taslim, film ini menjadi langkah penting dalam kariernya. Aktor muda tersebut menghadapi tantangan tersendiri saat menjalani debut sebagai pemeran utama.

Sebagai keponakan aktor laga Joe Taslim, Millo mengaku mendapat banyak arahan dari sang paman. “Aku tentunya ada berdiskusi dan bertanya-tanya, karena (Joe) lebih profesional, dan saya juga banyak bertanya agar saya bisa memerankan karakter Kefas lebih mendalam.”
Untuk mendalami perannya sebagai Kefas remaja, Millo bahkan melakukan observasi langsung ke panti asuhan. “Saya mempersiapkan peran ini dengan memahami latar belakang karakter serta banyak bertanya dan berdiskusi dengan sutradara dan kemudian dibawa ke sebuah panti asuhan untuk mengobservasi kehidupan di sana.”
Di sisi lain, Sim F. mengakui bahwa bekerja dengan aktor anak menghadirkan tantangan tersendiri, termasuk dengan Millo Taslim, Aqila Herby, Cleo Hanura Nazhifa, dan Halim Latuconsina. “Sebenarnya menantang, tapi seru bagi saya. Hampir sebagian belum pernah bermain film, tapi menariknya mereka tuh aktif, jadi tidak sulit untuk saya melakukan bonding.”

Sim juga menekankan bahwa rumah produksi Buddy-Buddy Pictures berkomitmen menjaga keseimbangan antara pendidikan dan pekerjaan bagi para pemain muda.
"Kalau dengan anak-anak, kami punya jam kerja sendiri, memang dari aturannya sendiri ada jam kerja buat anak-anak, ada guru (teacher) on set," kata Sim F.
Produser Wilza Lubis turut mengungkap proses panjang di balik produksi film ini. “Sim adalah sutradara yang sangat mendetail dan salah satu tantangannya adalah set up di masa lalu sehingga kami butuh riset-riset tertentu dan mencari pemain-pemain muda. Misalnya Millo sampai menjalani proses casting tiga kali dan setelah itu tantangan berikutnya adalah mencari pemeran Kefas dewasa. Itu adalah perjalanan yang selalu menarik dari sebuah film, dan kami selalu percaya ada blessing in disguise bahwa orang yang tepat akan hadir.”





