Share
Perahu Kertas Berlayar Lagi: Kisah Kugy–Keenan Kini Hidup di Panggung Musikal
Farhan Nuzhadiwansyah
05 February 2026

Kisah Kugy dan Keenan kembali berlayar, kali ini di atas panggung musikal, merayakan mimpi, pilihan hidup, dan perjalanan yang terus bertumbuh lintas generasi.


Musikal Perahu Kertas resmi memasuki rangkaian pementasannya pada 30 Januari hingga 15 Februari 2026 dengan total 21 pertunjukan. Pementasan ini dipersembahkan oleh Indonesia Kaya dan Trinity Entertainment Network, berkolaborasi dengan Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST).

Dengan durasi sekitar tiga jam, musikal ini menjadi bentuk terbaru dari perjalanan panjang Perahu Kertas yang sebelumnya hadir sebagai novel dan film layar lebar.

Musikal Perahu Kertas

Mengusung tema Hidupkan Lagi Mimpi-Mimpi, musikal ini menjadi debut Trinity Entertainment Network di panggung musikal sekaligus menegaskan komitmen Indonesia Kaya dalam menghadirkan seni pertunjukan yang relevan dan bermakna lintas generasi.

Produser Eksekutif Musikal Perahu Kertas sekaligus CEO Trinity Entertainment Network, Yonathan Nugroho, menyampaikan jika penampilan tersebut merupakan upaya merawat sebuah kisah dan menjaga jiwa ceritanya tetap ada.

“Musikal ini merupakan wujud komitmen kami untuk mendukung industri pertunjukan Indonesia dan menghadirkan karya lokal yang relevan, jujur, dan berkualitas melalui kolaborasi para kreator terbaik. Kami mengapresiasi seluruh tim kreatif, pemeran, mitra dan semua yang terlibat dalam mewujudkan karya ini di atas panggung,” ucap Nugroho.

Kisah Friends to Lovers Kugy dan Keenan Hidup di Atas Panggung

Cerita berpusat pada Kugy, perempuan pengkhayal yang gemar mendongeng dan menulis surat kepada Dewa Neptunus yang dihanyutkan melalui perahu kertas. Ia meyakini dirinya sebagai agen Neptunus yang memantau dunia manusia lewat imajinasi. Di bangku kuliah, Kugy bertemu Keenan, pelukis berbakat yang terpaksa menempuh pendidikan bisnis atas keinginan ayahnya.

Kedekatan mereka tumbuh saat menjadi relawan di Sakola Alit, tempat dongeng Kugy dan lukisan Keenan saling menguatkan. Perselisihan yang kemudian terjadi dengan sang ayah membuat Keenan memilih pergi ke Bali untuk menemukan kembali semangat melukisnya, sementara Kugy menapaki jalannya sendiri sebagai copywriter di sebuah agensi iklan. Keduanya tumbuh, menjauh, dan mempertanyakan kembali pilihan hidup yang pernah diambil.

Pemeran Kugy, Alya Syahrani juga berharap agar penonton dapat melihat sosok Kugy sebagai karakter yang akan selalu tumbuh. “Kugy adalah karakter yang bertumbuh lewat pertemuannya dengan banyak orang dan berbagai pilihan hidup. Relasinya dengan Keenan, Remi, Noni, dan orang-orang disekitarnya mengajarkannya memahami mimpi, realita, dan dirinya sendiri,” ucap Syahrani

Sementara Dewara Zaqqi, pemeran Keenan, berharap jika kisah Perahu Kertas mencerminkan keseharian dan pengalamannya. “Cerita ini terasa begitu dekat dengan keseharianku dan aku bisa melihat banyak pengalaman hidupku tercermin dalam karakter Keenan,” ucap Zaqqi.

Musikal Perahu Kertas

Hasil Kerja Artistik dan Emosi Kolektif

Sejak awal, alur cerita berjalan runut dan mudah diikuti, baik bagi penonton lama maupun penonton baru. Dialog terasa dekat dengan keseharian, diselingi humor ringan yang mencairkan suasana tanpa memecah emosi cerita. Musik orisinil buatan Ifa Fachir dan Simhala Avadana menjadi musik yang mengikat rasa emosional sepanjang pertunjukan.

Disutradarai dan dikoreografikan oleh Venytha Yoshiantini, musikal ini mengandalkan kekuatan gerak dan ritme emosi sebagai bahasa panggung. Tata panggung, kostum, serta penggunaan tarian daerah dari berbagai wilayah Indonesia memberi warna visual yang dinamis dan menyatu dengan cerita. Perpindahan properti antaradegan berlangsung mulus, menggunakan platform berputar untuk menjaga alur tetap hidup tanpa jeda mengganggu.

Momen klimaks visual hadir menjelang akhir pertunjukan, ketika para pemain berkumpul di atas panggung sambil membawa perahu kertas yang perlahan menyala serempak. Cahaya kecil itu menciptakan hening sesaat sebelum disambut decak kagum penonton, meninggalkan kesan emosional yang kuat.

Musikal ini melibatkan lebih dari 250 orang, terdiri dari 38 pemeran, 20 tim inti kreatif, musisi, kru, dan tim produksi. Dari jajaran pemeran, 13 orang merupakan talenta muda dari program Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya dan tiga lainnya dari Trinity Inkubasi. Untuk menjaga stamina dan kualitas pertunjukan, sistem alternate cast diterapkan pada beberapa jadwal, dengan dukungan swing performer dari Swargaloka.

Menjadi Kisah Yang Akan Selalu Bertransformasi

Penulis novel Perahu Kertas, Dee Lestari, turut hadir dan berbagi perasaannya, “Perahu Kertas telah menempuh perjalanan yang sangat panjang, dari benak, ke halaman, ke layar, dan kini ke panggung musikal. Saya berharap versi musikal ini dapat menyentuh lebih banyak hati serta memantik para penonton untuk berani hidupkan lagi mimpi-mimpi.”

Produser Billy Gamaliel menegaskan, “Selain mengalihwahanakan novel populer menjadi karya teater musikal, karya ini mengangkat banyak imajinasi-imajinasi dan sajian yang memanjakan visual, telinga, dan terutama hati. Setelah melalui persiapan selama satu setengah tahun, kami berharap Musikal Perahu Kertas ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menumbuhkan apresiasi penonton terhadap seni pertunjukan.”