MRCCC Siloam Semanggi Gelar Penyuluhan, Berikan Pemahaman tentang Kanker Payudara
Hanna Christi Dwimei
29 October 2026

Kanker payudara menjadi kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan Indonesia. Mulai dari perawatan hingga perjalanan pascakanker, telusuri bagaimana kanker bukan sebatas akhir dari sebuah kehidupan.


Kanker payudara menjadi salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan Indonesia. Namun apakah didiagnosis kanker payudara menjadi halaman terakhir dalam hidup? Melalui gathering bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters”, MRCCC Siloam Semanggi mengajak masyarakat untuk mengenal lebih jauh tentang kanker payudara, sehingga dapat mengetahui bahwa terdapat halaman selanjutnya setelah diagnosis tersebut.

Dalam kasus kanker payudara, penting untuk melakukan deteksi dini agar proses pengobatan dapat berjalan dengan baik, hal itu dapat dilakukan dengan melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri (Sadari). Bersama dengan Direktorat Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, MRCCC Semanggi menghimbau pentingnya bagi perempuan Indonesia untuk melakukan Sadari sebagai langkah awal pengobatan kanker payudara.

MRCCC Siloam Semanggi

Dalam mendukung proses deteksi dini kanker payudara, Kemenkes RI melalui dr. Uswatun Hasanah, M. Epid menjelaskan bahwa deteksi dini dapat dilakukan di Puskesmas melalui Cek Kesehatan Gratis, sehingga jika ditemukan kasus yang cenderung abnormal akan segera dirujuk ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Lanjut (FPKTL).

“Kita semua perlu berkolaborasi menyampaikan bagaimana pentingnya deteksi dini kanker payudara. Deteksi kanker payudara bisa dilakukan di Puskesmas melalui Cek Kesehatan Gratis. Wanita usia 30—69 tahun akan mendapatkan skrining atau deteksi kanker payudara. Jika ditemukan kasus yang abnormal maka segera dirujuk ke FPKTL,” tutur dr. Uswatun.

Selanjutnya, agar seorang pasien mampu berjuang hingga akhir melawan kanker tentu diperlukan dukungan dari anggota keluarga. Namun yang tidak kalah penting adalah memberi waktu dan ruang bagi pasien untuk memproses keadaan, karena perjuangan melawan kanker merupakan perjuangan melawan waktu.

“Beri waktu saat seseorang sedang kalut. Kadang kita ingin beri semangat, tapi tanpa disadari malah menjatuhkan mental. Cukup kasih waktu dan temani dia,” ujar Dr. dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp. PD-KHOM, selaku Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik MRCCC Siloam Semanggi.

MRCCC Siloam Semanggi

Dalam kesempatan ini, dr. Jeffry turut menjelaskan bahwa setiap pasien memiliki journey-nya masing-masing, sehingga proses pengobatan tiap pasien tentu berbeda-beda. Ada yang melakukan mastektomi dahulu, ada pula yang melakukan kemoterapi terlebih dahulu. Hal itu secara keseluruhan berhubungan dengan kondisi pasien.

“Kita harus mengetahui apa jenisnya, lalu cek seluruh rumah apakah ada di bagian lain. Inilah penentuan stadium. Kalau belum ada penyebaran, benjolan kurang dari 2 cm, tidak dilakukan mastektomi di depan. Sekarang pengobatan dulu dengan kemoterapi misalnya, lalu operasi setelah tumor mengecil,” jelasnya.

Warta baiknya, pengobatan untuk pasien kanker, salah satunya kanker payudara turut mengalami perkembangan seiring teknologi yang kian berkembang. Oleh karena itu, pasien memiliki lebih banyak opsi terkait pengobatan yang dilakukan. Dengan beragamnya opsi tersebut, pasien akan tetap memiliki kualitas hidup yang baik.

“Perkembangan teknologi dan metode bedah memberikan lebih banyak pilihan penanganan. Kolaborasi dengan tim bedah plastik dan rekonstruksi juga penting untuk mempertimbangkan bentuk payudara dan kualitas hidup pasien setelah operasi,” ujar Dr. dr. Denni Joko Purwanto, Sp.B (K) Onk selaku Dokter Spesialis Bedah Onkologi MRCCC Siloam Semanggi.

MRCCC Siloam Semanggi

Sesudah itu, seperti yang telah diketahui, perjuangan melawan kanker adalah perjuangan melawan waktu. Untuk mempertahankan kualitas hidup dalam jangka waktu yang lebih panjang, pemulihan kondisi seorang pasien tentu menjadi salah satu aspek yang wajib untuk diperhatikan. Hal itu dapat dilakukan dengan rehabilitas medik pasca operasi, dengan tiga hal utama, yakni breathing, strengthening, serta endurance.

“Breathing training tujuannya untuk relaksasi. Tidak hanya untuk fisik, tapi juga pikiran. Strength training sangat penting untuk menjaga massa otot untuk mencegah sarcopenia dan frailty,” tutur dr. Anita Ratnawati, Sp.KFR (K) selaku Dokter Spesialis Rehabilitasi Medik (Subspesialis Kardiorespirasi) MRCCC Siloam Semanggi.

Oleh karena itu, bagi para pejuang kanker payudara, kehidupan setelah kanker payudara bukanlah hal yang mustahil, karena nyatanya kanker payudara merupakan salah satu fase hidup yang mampu dilewati. Bukti nyata itu dapat dilihat dari Flavia, penyintas kanker payudara yang masih terus berjuang melawan kanker.

“Jangan kehilangan harapan, sekecil apapun itu. Harapanlah yang membuat kita berani mengambil keputusan. Kanker bukanlah akhir dari chapter hidup kita,” ujar Flavia.

MRCCC Siloam Semanggi