Menyatu dengan Alam, Buahan, A Banyan Tree Escape Hadirkan Konsep “No Wall No Door” Resort
Novita Angelina
09 July 2022

Tidak seperti resor dan hotel mewah lainnya, Buahan, A Banyan Tree Escape menghadirkan sebuah pengalaman tak terlupakan yang membawa kita terhubung langsung dengan alam dan masyarakat lokal.


Bulan lalu, Majalah HighEnd menerima kesempatan istimewa untuk menjelajah dan menginap di Buahan, A Banyan Tree Escape. Terletak di tempat tertinggi di daerah Gianyar Bali, sekitar 40 menit berkendara dari utara Ubud, resor ini mengajak para tamu untuk bersantai dan berinteraksi langsung dengan alam sambil menikmati keindahannya. Mengusung konsep "No Walls, No Doors", resor ini memiliki 16 bale eksklusif dengan kolam renang pribadi untuk membawa para tamu dapat menikmati pemandangan hutan dengan privasi penuh. Villa seluas 165 meter persegi atau disebut bale sepenuhnya didekorasi dengan perabotan rotan dan kayu. Setiap bale menampilkan estetika gaya Bali yang terinspirasi oleh tempat tinggal tradisional masyarakatnya.

Pengunjung yang dibatasi hanya orang dewasa saja ini dapat melihat secara langsung panorama tujuh puncak gunung yang tak terputus melalui setiap balkon bale mereka. Mereka juga dapat mendengar suara santai Sungai Ayung yang mengalir di tepi resor dari kamar mereka. Bayangkan betapa menyegarkannya, bangun dengan perasaan damai ketika mendengarkan aliran air sungai atau kicauan burung serta dedaunan yang bergesekan ditiup angin.

Yang uniknya lagi, ketika Anda tiba di resor ini, Anda tidak akan menemukan meja resepsionis seperti yang biasanya Anda temukan di hotel pada umumnya. Ketika Anda tiba, Anda akan sampai di sebuah pos terbuka yang terdapat sebuah kentongan kayu besar, di mana setiap tamu yang datang wajib untuk mengetuk kentongan sebanyak tiga kali sebagai bentuk salam kedatangan Anda di sana. Setelah crew hotel menginformasikan nomor Bale, Anda kemudian akan dibawa menuju kamar. Mereka membagi setiap kamar ke dalam empat tingkat bukit.

Jika Anda ingin bercengkrama dengan pengunjung lain, Anda dapat berkunjung ke Paviliun komunal dengan dapur terbuka dan bar bertujuan untuk menciptakan rasa kebersamaan di antara para tamu. Buahan, A Banyan Tree Escape juga mengadakan berbagai aktivitas seperti pertunjukan wayang atau cerita menceritakan berbagai konsep masyarakat tradisional Bali dengan gaya yang menyenangkan dan sangat menghibur. Selain itu, terdapat juga berbagai aktivitas outdoor, seperti trekking, menjelajahi air terjun pribadi, yang menjadi tempat bertemu sungai Ayung dan sungai Santang.

Di pagi hari, Anda juga bisa mengikuti kelas yoga outdoor sambil menikmati pemandangan alam yang indah dan udara yang segar. Jika Anda merasa lelah, A Banyan Tree Escape juga menawarkan pengalaman spa yang akan membuat tubuh dan pikiran Anda rileks.

Naked Experience

Karena lokasi resort yang saling berjauhan di tengah perbukitan dan hutan, Anda akan mendapatkan privasi sekaligus menyatu dengan alam yang indah. Setiap pagi Anda akan mendapatkan pemandangan yang menakjubkan dari balkon kamar. Udara segar dan suara alam yang merdu akan menjernihkan pikiran Anda dari berbagai macam stres atau penat dalam hidup.

Buahan, A Banyan Tree Escape juga menyediakan berbagai fasilitas yang lengkap di dalam Bale, mulai dari kolam renang pribadi, bathtub, ruang tamu, mini bar dengan pilihan snack, kopi, teh, dan minuman tradisional Bali yang akan membuat Anda betah dan betah menghabiskan waktu. waktu sendirian atau dengan pasangan Anda di kamar, jauh. dari hiruk pikuk kota.

Hidup Berkelanjutan

Puspa Anggraeni, Executive Assistant Manager Buahan, a Banyan Tree Escape menjelaskan bahwa resor ini sangat mendukung konsep kehidupan yang berkelanjutan. Setiap ruangan di resor ini dibangun dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan yaitu menggunakan 80 persen kayu daur ulang yang sebelumnya digunakan di dermaga kapal dan dek kapal nelayan. Resort ini dibangun tanpa menggunakan alat berat.

Dharmali Kusumadi, sang Kepala Arsitektur Banyan Tree bekerja sama dengan arsitek bangunan berkelanjutan asal Bali, Gede Krisna dalam merancang setiap bale dengan konsep hidup indoor-outdoor yang berkelanjutan. Untuk lingkungan alam sekitar, mereka bahkan tidak menggunakan alat berat selama tahap konstruksi. Mereka juga bekerja sama dengan pengrajin lokal dan menggunakan teknik tradisional ketika membangun resort.

Untuk makanan, mereka bekerja sama dengan Chef Eka dalam menciptakan berbagai makanan berkelanjutan dengan menggunakan bahan-bahan organik yang disuplai oleh petani lokal. Dengan mengusung konsep “Zero Waste,” mereka sama sekali tidak membuang bahan makanan yang tidak terpakai namun mereka mengolahnya menjadi bahan pendukung dalam memasak, seperti minyak, selai atau bahan penyedap yang menghasilkan rasa umami yang sangat lezat dan tidak akan dapat Anda temukan di tempat lain. Mereka juga sering menggunakan tanaman liar yang ditemukan di hutan untuk dijadikan menu spesial.

Terinspirasi dari Noma, restoran bintang tiga Michelin yang dijalankan oleh chef René Redzepi di Kopenhagen, Denmark, Chef Eka mencoba mengajak tamunya untuk benar-benar memperhatikan makanan mereka sekaligus mencoba kreasi makanan super sehatnya yang sangat cocok dipadukan dengan koleksi anggur dan arak lokal Bali. Tidak hanya cantik, semua hidangannya juga sangat lezat. Jika pada malam hari, Anda akan diajak mencoba makanan barat, di siang hari Anda akan diajak mencoba makanan khas Bali, tentunya dengan teknik pengolahan makanan yang spesial.

Tri Hita Karana

Salah satu atraksi yang dapat Anda jalani ketika berada di A Banyan Tree Resort yaitu Tri Hita Kirana. Tri Hita Karana adalah filosofi asal sistem kepercayaan Bali, yang secara kasar berarti "tiga penyebab kesejahteraan" atau "tiga alasan kemakmuran. Ketiga penyebab tersebut mengacu pada keharmonisan dengan Tuhan, keharmonisan antar manusia, dan keharmonisan dengan alam.

Dipandu oleh Buahan, A Banyan Tree Escape dan I Wayan Wardika, para tamu ditawari kesempatan untuk mengunjungi desa Taro, yang merupakan banjar atau desa adat tertua di Bali yang dibangun oleh Maha Rsi Markandeya pada abad ke-8. Para tamu juga akan diajak merasakan secara langsung ketiga ritual tradisional masyarakat tersebut.

Pada awal perjalanan, mereka akan diajak menyatu dengan sang pencipta atau harmoni dengan Tuhan, yang dibantu oleh pendeta di Pura Sabang Daat, Desa Adat Puakan. Pura yang berada di tengah hutan ini tidak memiliki bangunan pelinggih batu atau paras seperti Pura lainnya. Di sana hanya terdapat pohon besar yang menutup kain putih kuning dan tempat-tempat sesajen.

Setelah itu para tamu akan diajak menjelajah perkebunan dan persawahan di Bali untuk menyatu dengan alam atau harmoni dengan alam. Di sesi terakhir, Anda dapat bercengkrama dengan peserta lainnya atau harmoni di antara orang-orang sambil merasakan sensasi makan di tengah hutan dan menikmati makanan buatan Chef Eka dan tim.