Dari beberapa penelitian, disebutkan bahwa 90% orang yang mengalami melasma merupakan perempuan. Dalam rangka mengedukasi dan menangani melasma, para dokter ajak masyarakat untuk mengenal lebih jauh terkait kondisi hiperpigmentasi pada kulit ini.
Dalam rangka memperingati Melasma Awareness Month, PT Unison Medika Jaya mengajak dan mengedukasi masyarakat terkait melasma bersama dengan dokter spesialis kulit, dokter estetika, serta sahabat melasma pada 15 Juli 2026. Dalam acara ini, PT Unison Medika Jaya turut memberikan berbagai saran untuk mencegah dan menangani melasma yang lebih banyak terjadi pada perempuan usia produktif.
Melasma pada dasarnya merupakan kondisi kulit yang ditandai adanya bercak hiperpigmentasi berwarna cokelat. Kondisi ini bisa terjadi di seluruh kulit manusia, namun sering kali ditemukan di bagian kulit yang kerap terpapar sinar matahari, yakni wajah. Melalui dr. Stanley Setiawan, dokter spesialis kulit, ia menjelaskan bahwa terjadinya melasma dapat disebabkan oleh beberapa faktor.
“Pertama, pancaran sinar matahari; kedua, karena pengaruh radikal bebas; ketiga, karena hormonal faktor dan genetik; keempat, penggunaan beberapa bahan-bahan aktif yang tidak secara langsung menyebabkan melasma, tetapi bisa menyebabkan iritasi yang berkepanjangan. Akhirnya nanti bisa mencetus terjadinya melasma,” jelasnya.

Lebih jauh, dr. Stanley juga menjelaskan bahwa untuk menangani melasma, kita tidak sekadar menghilangkan warna kecokelatan dari kulit, namun membangun kesatuan sistem dalam tubuh dengan hidup sehat.
“Langkah yang perlu kita lakukan dalam menangani melasma, jangan hanya mengejar untuk menghilangkan warnanya, tetapi fokuskan bagaimana kita memperbaiki sebuah sistem kulit yang baik,” ujar dr. Stanley.
Namun perlu diketahui bahwa melasma tidak termasuk dalam kondisi yang mematikan. Kondisi ini pada umumnya hanya memberi dampak pada tampilan estetik pasien.
“Melasma bukan suatu kondisi yang mematikan atau membahayakan untuk keselamatan pasien, tapi lebih fokus terhadap tampilan estetik dan psikologis pasien,” tuturnya.
Selain itu, dr. Ratna Yuliarviana selaku dokter estetika turut menjelaskan bahwa keberhasilan terapi melasma memerlukan pendekatan yang komprehensif. Dalam hal ini, diperlukan pemahaman yang tepat agar tidak merusak skin barrier.
“Melasma memang bisa dikendalikan, tetapi membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Dalam praktik sehari-hari, saya menggunakan redermalisasi dengan Xela Rederm yang mengombinasikan Hyaluronic Acid dan Succinic Acid dengan Growth Factor untuk memperbaiki kualitas kulit dan mendukung regenerasi sel. Terapi ini perlu diimbangi dengan penggunaan tabir surya setiap hari agar hasilnya lebih optimal dan risiko kekambuhan dapat diminimalkan,” jelasnya.





