Majukan Ekosistem Digital, Fintopia Indonesia Perluas Inklusi Keuangan
Dewi Anggriani Siregar
29 December 2022

Fintopia melanjutkan komitmen untuk memperkuat ekosistem digital Indonesia dengan memperkenalkan teknologi finansial berbasis machine learning dan AI.


Dalam rangka perayaan ulang tahun yang kelima, Fintopia Indonesia, sebagai perusahaan teknologi finansial (fintech) terdepan mengumumkan bahwa mereka telah melayani lebih dari 16 juta pengguna di tanah air. Dihadiri oleh sekitar 500 tamu undangan, acara yang berlangsung di hotel JW Marriott Jakarta itu mendapat sambutan positif atas kontribusi Fintopia untuk inklusi keuangan di Indonesia.

Sebagai platform kredit digital terdepan di Indonesia, Fintopia Indonesia terus berinovasi dan memberikan pelayanan produk serta keuangan terbaik melalui Easycash. Fintopia juga turut memajukan ekosistem digital Indonesia dengan menghadirkan teknologi finansial terkini serta menggandeng mitra-mitra strategis. Fintopia juga berkomitmen memperkuat ekosistem digital Indonesia dengan membina talenta-talenta muda agar meningkatkan penguasaan mereka terhadap teknologi.

“Selama lima tahun, Fintopia Indonesia menyaksikan pertumbuhan signifikan ekosistem digital Indonesia, termasuk industri teknologi finansial. Fintopia bangga telah berkontribusi ke pertumbuhan tersebut dengan menghadirkan produk dan layanan teknologi finansial yang tidak saja berdampak pada ekosistem, namun juga perluasan inklusi finansial di tengah masyarakat Indonesia. Sejak kehadirannya, Fintopia telah menggelontorkan total pinjaman sebesar Rp 19,7 triliun bagi 2,7 juta peminjam Easycash,” ujar Dr. Jonathan Chang, CEO Fintopia Indonesia.

Prestasi Fintopia tersebut turut menggenjot angka inklusi finansial tanah air. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa inklusi keuangan menyentuh 85,10% di 2022, naik dari angka 76,19% di 2019. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menunjukkan bahwa setiap tahun, Indonesia membutuhkan 600 ribu talenta digital yang akan menjadi motor penggerak ekosistem digital Indonesia.

“Kami mempekerjakan ratusan talenta muda Indonesia, dengan 58% pegawai kami adalah perempuan yang menempati berbagai posisi strategis. Partisipasi perempuan yang tinggi penting bagi diversitas bukan saja di Fintopia, namun industri digital Indonesia secara umum,” tambah Dr. Jonathan.

Fintopia Indonesia juga turut menggandeng berbagai institusi, termasuk OJK, AFPI, BINUS Business School, dan Universitas Padjajaran untuk memberi pelatihan inklusi digital bagi masyarakat umum dan mahasiswa. Telah mempekerjakan lebih dari 460 karyawan yang 99% diantaranya merupakan Warga Negara Indonesia (WNI), tim dari Fintopia didominasi oleh talenta muda dengan rata-rata umur 27 tahun.

Di tahun kelimanya ini, Fintopia kian memperkuat jajaran pemimpin dengan merekrut Jonathan Chang sebagai CEO baru, serta Duta Besar H.E. Nadjib Riphat Kesoema dan Jimmy Gani sebagai tim penasihat senior. Dr. Jonathan memiliki pengalaman bekerja di perusahaan teknologi global, seperti Google dan Shopify. Duta Besar Nadjib merupakan diplomat yang telah meraih penghargaan bergengsi dari Belgia serta pernah menjadi duta besar untuk Australia. Jimmy Gani sebelumnya pernah menjabat sebagai CEO di Sarinah dan IPMI International Business School. Dr. Jonathan juga menegaskan bahwa komitmen perusahaan dalam pemberdayaan ekosistem digital Indonesia dengan berkolaborasi bersama lebih banyak mitra bisnis, khususnya penyedia pinjaman.

Penerapan teknologi inovatif turut menjadi bagian fundamental dalam meningkatkan kualitas produk dan layanan. Oleh karena itu, Fintopia berencana untuk menyempurnakan teknologi machine learning dan AI di platform agar pinjaman dapat diproses dengan lebih cepat serta efisien.