Dari 1.412 peserta skrining EKG, 164 orang terdeteksi aritmia, menjadi pengingat pentingnya deteksi dini gangguan irama jantung.
Penyakit kardiovaskular masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat jumlah serangan jantung diperkirakan mendekati 700.000 kasus setiap tahun. Di tengah besarnya beban tersebut, gangguan irama jantung atau aritmia juga perlu dikenali sejak dini. Salah satu jenis yang paling umum adalah fibrilasi atrium atau Atrial Fibrillation (AF), dengan prevalensi 3,2% di Indonesia. Pada 2023, lebih dari 7 juta orang diperkirakan mengalami aritmia.
AF yang tidak terdeteksi dan tidak tertangani dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti stroke, gagal jantung, hingga kematian jantung mendadak atau sudden cardiac death.
Untuk mendorong edukasi dan deteksi dini, Siloam Hospitals TB Simatupang menggelar kampanye "Let's Check The Beat" sejak 5 Maret 2026. Kampanye ini bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS), serta mengajak masyarakat mengenali aritmia dan faktor risikonya melalui pemeriksaan elektrokardiogram (EKG).

Dalam rangka World Heart Day 2026, Siloam Hospitals TB Simatupang memaparkan hasil skrining EKG selama kampanye. Dari 1.412 peserta berusia 15–64 tahun yang diperiksa pada 5 Maret hingga 15 September 2026, sebanyak 164 orang (11,6%) terdeteksi mengalami aritmia. Artinya, sekitar satu dari sepuluh peserta menunjukkan indikasi gangguan ritme jantung, meski sebagian besar mungkin tidak menyadarinya.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menegaskan bahwa AF sering tidak bergejala, tetapi dapat berujung pada stroke, gagal jantung, hingga kematian jantung mendadak.
"Karena itu, deteksi dini sangat penting," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa skrining EKG juga tersedia di puskesmas lewat program Cek Kesehatan Gratis, terutama bagi usia 40 tahun ke atas dengan hipertensi dan/atau diabetes melitus. Hasil yang tidak normal perlu ditindaklanjuti di fasilitas kesehatan rujukan. Masyarakat juga diajak menerapkan gaya hidup sehat CERDIK: Cek kesehatan berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres.
Ketua InaHRS, dr. Erika Maharani, Sp.JP(K), menyebut insiden aritmia terus meningkat dari waktu ke waktu. Menurutnya, deteksi dini dan edukasi publik harus dijalankan konsisten, dan ia berharap kampanye ini berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.
Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Dewi Wiguna, M.Sc, menjelaskan bahwa peserta terbanyak berada di rentang usia 25–44 tahun, yaitu 51,82%. Namun, ia menekankan komposisi ini tidak membuktikan bahwa usia produktif berisiko lebih tinggi daripada usia lanjut. Peserta skrining mendapat edukasi dan rekomendasi langkah awal, termasuk konsultasi gratis dengan dokter spesialis jantung bagi yang terdeteksi aritmia.
"One small step today, for a healthier heart tomorrow," ujarnya.

Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, menyampaikan bahwa banyak orang yang belum teredukasi cenderung menunda ablasi kateter. Padahal, ablasi pada AF dini, yaitu kurang dari satu tahun, terbukti memperbaiki kualitas hidup, mencegah stroke, dan memperpanjang harapan hidup. Di Siloam Hospitals TB Simatupang, ablasi tersedia dengan teknologi Radiofrequency Ablation (RFA), Cryoballoon Ablation (CBA), dan Pulse Field Ablation (PFA) sesuai kebutuhan pasien.
Melalui kampanye ini, Siloam Hospitals TB Simatupang telah menjangkau ribuan orang lewat hampir 50 health talk dan pemeriksaan. Ke depan, rumah sakit akan terus memperkuat edukasi, akses deteksi dini, dan keahlian klinis dalam penanganan aritmia, agar masyarakat dapat mengenali gangguan irama jantung lebih awal dan mengambil langkah yang tepat.






