Kunci Sukses Kemala Home Living dalam Membangun Bisnis Melalui Teknologi Digital
Dewi Anggriani Siregar
16 December 2022

Bergerak di bidang kriya dan aksesoris rumah, Kemala Home Living merupakan salah satu yang menerapkan prinsip berkelanjutan dalam praktik bisnis usahanya.


Didirikan pada tahun 2014 oleh Dian Elvira Rosa (Dian), nama Kemala Home Living terinspirasi dari nama nenek Dian, sosok perempuan tangguh yang juga sukses dalam menjalankan sebuah bisnis. Selain itu, nama Kemala juga dipilih karena memiliki nilai yang unik dan klasik.

Menurut Dian, sustainability merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh semua pelaku bisnis. Tidak hanya mengandalkan platform daring dalam melakukan penjualan, Kemala Home Living juga memiliki toko yang berlokasi di Jalan Benda No. 54 A, Kemang, Jakarta Selatan.

“Seiring bertumbuhnya bisnis, kesulitan dalam mengelola operasional juga meningkat. Untuk memudahkan operasional bisnis kami memilih untuk menggunakan aplikasi Moka yang tidak hanya memudahkan transaksi pelanggan, namun juga menyediakan laporan penjualan yang komprehensif. Setelah menggunakan Moka pada tahun 2018, omzet kami meningkat lebih dari 100% di tahun berikutnya,” jelas Dian.

Kemala Home Living yang saat ini tidak hanya melayani pelanggan lokal, namun juga melayani pesanan dari berbagai negara seperti Singapura, Brunei, Jepang, Australia dan beberapa negara benua Eropa.

Dalam mengembangkan produk-produk yang dijualnya, Dian selalu mengutamakan daya tahan dan kualitas produk sekaligus memilih material yang lebih ramah lingkungan. Saat ini produk-produk berbahan dasar kayu dari Kemala Home Living telah 100% menggunakan kayu Perhutani yang pengelolaan hutannya dijamin menggunakan sistem sustainable forest management dan telah tersertifikasi oleh Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK).

Tidak hanya berusaha meningkatkan kesadaran sustainability pada masyarakat, Dian juga berpendapat bahwa mengedukasi dan menanamkan nilai-nilai sustainability kepada karyawannya merupakan hal yang penting sekaligus menantang karena kesadaran sustainability tidak bisa dimiliki secara instan dan harus datang dari pribadi masing-masing.

“Menurut aku, mengedukasi sustainability ini harus terus-menerus supaya mereka tidak overwhelmed. Memang menanamkan nilai ini ke karyawan cukup sulit. Misalnya ketika berganti pengemasan untuk mengurangi pemakaian plastik, barang pecah belah menjadi lebih rentan pecah. Awalnya mereka keberatan karena tahu risiko kerusakan barang dalam pengiriman meningkat, tapi lambat laun tim bisa menerima. Buatku, hal ini sangat menarik karena nilai itu perlu diresapi setiap orang.” ujar Dian. Dian juga memberikan pesan bagi para pelaku usaha pemula yang ingin mengembangkan bisnis untuk mengerti betul nilai dari bisnis yang mereka jalankan.