Dari lebih dari 400 pendaftar di 43 negara, J+ Art Awards 2026 memilih karya-karya yang mempertanyakan realitas, menelusuri ingatan budaya, dan menguji hubungan manusia dengan teknologi.
Mengusung tema “MIRAGE”, J+ Art Awards 2026 menghadirkan karya-karya seni kontemporer yang mengajak publik melihat kembali batas antara ilusi dan realitas. Diselenggarakan oleh Connected Art Platform (CAP), ajang ini memasuki tahun ketiganya dengan visi membuka ruang bagi seniman dari berbagai latar belakang dan memperkenalkan talenta-talenta baru di luar arus utama.
Sejak pertama kali digelar pada 2024, J+ Art Awards menggunakan mekanisme open call untuk menjangkau seniman lintas disiplin dan memberi mereka kesempatan memperoleh eksposur serta terhubung dengan ekosistem seni yang lebih luas. Pada edisi tahun ini, ajang tersebut menerima lebih dari 400 pendaftaran dari 43 negara, yang kemudian melalui proses seleksi hingga menghasilkan 25 finalis dan 9 peserta Student Category.

Rangkaian J+ Art Awards 2026 mencapai puncaknya melalui Awarding Week di RUCI Art Space, Jakarta. Pada 10 Oktober 2026, lima penghargaan diumumkan berdasarkan penilaian panel juri lintas negara yang terdiri dari Dr. Aisha Almisnad, Prof. Noboru Tsubaki, Flora Miranda, M. Ilham Samudra, dan Mona Liem. Keragaman latar belakang para juri, mulai dari akademik, kuratorial, praktik seni, hingga teknologi, turut menghadirkan perspektif yang beragam dalam proses penilaian.
Berikut karya-karya yang terpilih dalam J+ Art Awards 2026.
1. J+ Grand Prize: Mira Rizki

Mira Rizki meraih J+ Grand Prize melalui “PAK! PAK!”, sebuah karya yang mengeksplorasi hubungan antara suara sebagai representasi kekuasaan dan janji pembangunan. Dalam prosesnya, potongan audio dari pidato mengenai proyek strategis nasional diolah dan diputar berulang kali hingga getarannya menggerakkan tanah yang diletakkan di atas speaker.
Gerakan tanah tersebut kemudian ditangkap menggunakan pine rosin dan dibentuk menjadi objek-objek transparan. Melalui proses ini, suara yang semula hadir sebagai retorika pembangunan diterjemahkan menjadi bentuk fisik yang dapat diamati.
2. Impact Award: Dwiky Aditya

Dwiky Aditya menerima Impact Award melalui “Sésa Raga”, karya yang mengangkat wastra sebagai bagian dari identitas dan pengetahuan leluhur. Karya ini menyoroti bagaimana warisan budaya perlahan kehilangan konteks dan maknanya.
Dengan memadukan teknik, material, dan motif tradisional, Dwiky menghadirkan warisan budaya yang masih bertahan, tetapi perlahan kehilangan suaranya. Karya tersebut menempatkan wastra sebagai pengingat akan pengetahuan leluhur yang terus hidup di tengah perubahan zaman.
3. Innovation Award: Thalia Halim dan Samuel Alexander

Thalia Halim dan Samuel Alexander meraih Innovation Award melalui “RoboPainting – Flowers”, instalasi kinetik interdisipliner yang mempertemukan lukisan, robotika, mekanisme cetak 3D, dan edge AI.
Karya ini merespons kehadiran pengunjung melalui perubahan fisik, dari kondisi awal yang tertutup dan minimal menuju bagian dalam yang lebih luas dan atraktif. Perpaduan ekspresi artistik dengan logika mesin kemudian mengajak pengunjung merefleksikan dorongan dan pilihan yang tersembunyi dalam diri mereka.
4. Student Award: Aldric Saverio Akmal

Aldric Saverio Akmal menerima Student Award melalui “The Different World”, karya yang menggambarkan perjalanan seorang anak memasuki dunia asing, tempat aturan yang selama ini dikenalnya tidak lagi berlaku.
Di tengah makhluk-makhluk aneh, struktur yang melayang, dan bentuk-bentuk yang saling terhubung, sosok kecil sang anak tampak kontras dengan dunia luas yang dihadapinya. Karya ini mengeksplorasi rasa ingin tahu, ketidakpastian, dan keberanian dalam menghadapi sesuatu yang belum dikenal.
5. Honorary Mention: Andreas Lutz

Andreas Lutz menerima Honorary Mention melalui “Capture / Resemble”, karya interaktif yang mengeksplorasi hubungan antara manusia, gerak, dan kecerdasan buatan.
Karya ini menangkap karakteristik individu serta ekspresi wajah pengunjung, lalu menerjemahkannya menjadi gerakan abstrak yang terus berkembang melalui proses pembelajaran dan adaptasi. Setiap interaksi diolah dan dihubungkan dengan data sebelumnya, sehingga membentuk kosakata gerak yang mempertemukan perilaku manusia dan mesin dalam sebuah eksplorasi koreografi universal.
Melalui lima karya terpilih, J+ Art Awards 2026 mengangkat tema “MIRAGE” untuk menelusuri bagaimana realitas dibentuk dan dipersepsikan, mulai dari retorika sosial-politik dan ingatan tradisi hingga hubungan manusia dengan teknologi serta ambivalensi antara spiritualitas dan industri ekstraktif. Beragam eksplorasi tersebut dapat disaksikan secara langsung dalam pameran J+ Art Awards 2026 yang masih berlangsung di RUCI Art Space, Jakarta, hingga 25 Oktober 2026. Pengunjung dapat melihat karya-karya terpilih dari para seniman lintas negara sekaligus mengenal beragam pendekatan dalam seni kontemporer yang dihadirkan pada edisi tahun ini.





