Share
Eksplorasi Seni dan Perjalanan Karier Berkarya dalam Pameran Yunizar: Perspektif Baru
Dewi Anggriani Siregar
08 May 2024

Dalam rangka menyambut 20 tahun karya seniman terkemuka, Yunizar, Gajah Gallery mempersembahkan sebuah eksplorasi menyeluruh dalam sebuah pameran yang juga dirangkum dalam sebuah buku berjudul ‘Yunizar: New Perspective’.


Disunting oleh sejarawan terkemuka, T.K. Sabapathy, buku ini memuat beragam tulisan dari para akademisi dan budayawan berpengalaman. Buku ini telah diluncurkan di Singapura tahun lalu yang dan menandai perjalanan penting penghargaan dunia seni terhadap karya dan karir Yunizar. Peluncuran buku berbahasa Indonesia ini telah berlangsung pada hari Sabtu, 27 Januari 2024 lalu, di Gajah Gallery Jakarta.

YUNIZAR 3

Seiring meningkatnya momentum Yunizar di dunia seni, ia tetap menjadi bagian penting dalam sejarah seni kontemporer Indonesia. Perjalanan seninya dimulai pada akhir tahun 1990-an, tidak jauh dari periode kejatuhan Presiden Soeharto yang memicu maraknya isu-isu sosial-politik dalam dunia seni saat itu. Karya awal Yunizar yang terkesan menggentayangi, sebaliknya, tampil menantang kebisingan dan kecenderungan akan hegemoni seni politis. Ia memilih untuk fokus, bukan terhadap naratif yang besar dan heroik, tetapi terhadap kekayaan akan kehidupan sehari-hari.

YUNIZAR 2

Mulai dari buah jatuh, anjing gila, dan sosok-sosok terasing; subyek Yunizar terlihat biasa, tetapi lukisannya dipenuhi dengan ketegangan emosional dan makna berlapis. Dengan cara radikal, Yunizar menumbangkan gagasan keindahan yang konvensional, mengimbuhi kanvasnya dengan coretan, warna-warna bumi yang teduh; dan garis bentuk yang mentah dan sederhana. Kesederhanaan yang menipu dalam gaya Yunizar yang visceral, dipasangkan dengan kedalaman psikologis subjeknya yang sukar dipahami, adalah yang pada akhirnya membuat karya-karyanya menjadi amat kuat.

Karya-karya yang dipajang dalam pameran ini menangkap perjalanan unik dan tonggak-tonggak pencapaian karir Yunizar: mulai dari lukisan-lukisannya di akhir 90an yang menunjukkan sosok-sosok gelap yang penuh teka-teki diantara warna yang berkesan purba; seri Coretan yang menunjukkan irama dalam tulisan 'tidak terbaca', menarik perhatian kita pada kekuatan ekspresif teks; sampai kepada patung-patung perunggu lugas dan eksentrik yang ia olah sejak tahun 2010an. Di sisi lain, karya-karya terpilih ini juga mengungkap bagaimana evolusi seni Yunizar tidak berjalan secara linear. Bibit awal seri Coretan Yunizar dapat dilihat sejak tahun 1990-an, dan terus muncul dalam karya-karyanya hingga saat ini. Para kurator dan penulis memuji teks-teks impresionistik ini sebagai penolakan terhadap makna-makna konvensional yang baku; sebaliknya, mengungkapkan sejenis komunikasi yang lebih mendalam. Kompleksitas karya-karya ini dengan demikian merupakan bukti bahwa masih banyak yang harus dibongkar dalam karya-karya Yunizar—mendorong kebutuhan untuk terus mencari 'perspektif baru'.

YUNIZAR 5

Buku ini memberikan pembahasan menyeluruh mengenai implikasi yang lebih dalam dan lebih luas dari karya Yunizar. Aminudin T.H. Siregar mengkontekstualisasikan Yunizar dalam kelompok seni pelopor yaitu Kelompok Seni Rupa Jendela (KSR Jendela). Penulis menelusuri hubungan antar anggota KSR Jendela yang kaya akan sinergi; sebuah relasi yang menopang kepercayaan diri Yunizar sebagai seniman muda.

Aminudin T.H. Siregar menyoroti nuansa dalam evolusi Yunizar selama bertahun-tahun, dan menempatkan karyanya dalam konteks sejarah seni rupa Indonesia yang lebih luas. Wawancara Katherine Bruhn dengan Yunizar mengenai ingatan masa kecilnya di Talawi, Sumatera Barat, menawarkan kisah yang sangat terbuka tentang masa mudanya dan bagaimana ia muncul sebagai seniman dari warisan artistiknya yang unik di Sumatera Barat.

YUNIZAR 4

Menyoroti sebuah momen yang sangat penting dalam karier Yunizar, T.K. Sabapathy melacak jejak ekspansinya yang tak terduga ke dalam praktik seni trimatra–membongkar pengaruh karya lukisnya yang mendominasi perjalanan artistiknya dalam menghasilkan bentuk dan komposisi patung, dan menganalisis patung figur manusianya yang unik. Terakhir, Ahmad Mashadi menyajikan kisah historiografis yang menarik tentang perdebatan seputar signifikansi KSR Jendela—yang pada akhirnya meluncurkan diskusi kritis tentang bagaimana kemunculan kelompok tersebut membuka pintu masuk dinamis ke pemahaman yang lebih dalam tentang seni rupa modern dan kontemporer Indonesia.

Buku ini pada akhirnya menandai 15 tahun pengakuan kritis dan institusional untuk Yunizar, baik di Asia Tenggara maupun di seluruh dunia. Pada tahun 2007, ia menggelar pameran tunggal di National University of Singapore Museum (NUS Museum), Singapura. Karya-karyanya kini menjadi koleksi institusi seni besar, seperti Singapore Art Museum (SAM), Long Museum di Shanghai, dan Benesse Art Collection di Jepang. Baru-baru ini, pada tahun 2021, dia menjadi satu-satunya seniman Asia Tenggara yang terpilih untuk berpartisipasi dalam ajang Frieze Sculpture, London.