De Tiger hadir dengan tradisi speakeasy, sebuah ruang rahasia tempat percakapan intim, dengan mengambil inspirasi dari kehidupan malam kota pelabuhan kuno dan sejarah Sunda Kelapa. Setiap gelas yang disajikan membuka narasi lama yang sempat terkubur.
Di balik dinding warisan kolonial House of Tugu Old Town Jakarta, tersembunyi De Tiger, sebuah Far East speakeasy bar yang kini telah membuka pintunya di Kali Besar Barat, Kota Tua, yang menghidupkan kembali Batavia Lama. Bukan hanya sebuah bar, tempat ini berdiri di atas tanah yang lebih dari satu abad lalu menjadi saksi bisu kisah seekor harimau Jawa bermata satu bernama Si Merem yang dibebaskan, disembuhkan, dan tak pernah dilupakan.

Kisah De Tiger berakar kuat pada dedikasi mendalam dari keluarga pendirinya. Selama lebih dari empat dekade, Anhar Setjadibrata menjelajahi Nusantara untuk mengumpulkan objek dan narasi yang menghubungkan Jawa, Batavia, dan dunia maritim.
House of Tugu Old Town Jakarta sendiri dibangun di atas lahan sejarah tempat sang harimau legendaris dahulu dirawat dengan pulih. Cerita itu dikisahkan kembali oleh Lucienne Anhar, Co-Owner dari Tugu Hotels and Restaurants.
Nama De Tiger diambil dari kisah nyata Merem, seekor harimau Jawa bermata satu yang ditangkap di dekat perkebunan kopi di Kawisari di Blitar dan dijadwalkan untuk menjadi tontonan publik pada awal abad kedua puluh. Mendengar nasib malang sang harimau, Raden Adjeng Kasinem, istri pertama Oei Tiong Ham yang merupakan salah satu pengusaha paling berpengaruh di Asia Tenggara saat itu, mengutus asisten kepercayaannya untuk membeli kebebasan sang harimau dengan harga seatus karung biji kopi.
Merem kemudian dibawa ke Batavia untuk menerima perawatan dari dokter hewan terbaik di Hindia Belanda dan ditempatkan di sebuah gudang besar di sepanjang Kali Besar Barat, gedung yang kini bertransformasi menjadi House of Tugu Old Town Jakarta.
Setelah pulih, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan damai di taman kediaman Oei Tiong Ham di Semarang. Lebih dari sekadar maskot, Merem adalah simbol kebebasan, ketangguhan, dan sejarah yang terus hidup di dalam dinding-dinding ini.
Menu Koktail di De Tiger, House of Tugu Old Town Jakarta

Program minuman di De Tiger dibagi menjadi tiga babak narasi: The Journey of Merem, The Trader’s Table, dan The Spice Market. Kreasi ikonis seperti 100 Karung Kopi dan Taman Merem memberi penghormatan langsung pada aksi penyelamatan dramatis sang harimau Jawa dan kedamaian masa tuanya, sementara racikan eksotis seperti Siam menangkap esensi perjalanan melampaui kepulauan Nusantara. Dari rute rempah global, eliksir konseptual seperti Gujarat, Hadrami, dan Nagasaki menghormati para saudagar lintas bangsa di Sunda Kelapa, memadukan infusi tak terduga yang anggun untuk menjembatani sejarah maritim masa lalu dengan kehidupan malam kontemporer.

Warisan Gastronomi yang Lahir di Sunda Kelapa:
Sisi kuliner De Tiger merayakan Sunda Kelapa sebagai titik temu rasa dunia, tempat tradisi Asia, Timur Tengah, dan Eropa melebur menjadi identitas Batavia. Malam terbaik dimulai dengan Saudagar's Platter, sebuah piringan kurasi berisi kroket kepiting, bakwan jagung manis,
dan sate lilit kakap mini yang disajikan artistik untuk menggambarkan cara pedagang kuno menyeimbangkan peruntungan mereka.




