Bagaimana Bisnis High Fashion Runtuh dan Bangkit Melawan Pandemi

Fashion11 May 2020

By Grisselda Pherry

 Bagaimana Bisnis High Fashion Runtuh dan Bangkit Melawan Pandemi

Ancaman dari pandemi COVID-19 terus berkembang dan mengejar industri high fashion dari Milan ke Paris dan di seluruh dunia. Krisis nyata tampak bagi para desainer dan ritel.


Sektor penjualan ritel mewah mungkin telah kehilangan miliaran dolar di tengah wabah COVID-19, tetapi itu tidak menghentikan mayoritas nama-nama terkemuka di industri mode untuk membantu dengan cara yang mereka bisa, mulai dari memproduksi kebutuhan medis hingga menyumbangkan sejumlah uang.

Untuk menjaga keselamatan pekerja kesehatan di garda depan penanganan COVID-19, Kate Spade New York Foundation menyumbangkan $100.000 kepada mitra mereka Crisis Text Line, sebuah program yang menyediakan konseling kesehatan mental dan dukungan emosional kepada dokter dan perawat selama mereka bergulat dengan krisis kesehatan yang berlangsung.

Tiffany & Co. Foundation mengumumkan sumbangan sebesar $1 juta untuk upaya bantuan COVID-19 di mana $750.000 di antaranya akan disumbangkan ke COVID-19 Solidarity Response Fund untuk organisasi kesehatan, dan $250.000 lainnya akan diberikan kepada The New York Community Trust NYC untuk COVID-19 Response & Impact Fund. “Kami bangga dapat mendukung organisasi yang memberikan bantuan segera bagi masyarakat yang terkena dampak pandemi global, termasuk kota asal kami,” kata ketua dan presiden The Tiffany & Co. Foundation.

Ketika penyebaran virus semakin meningkat, Chanel telah berjanji untuk memproduksi lebih dari 50.000 masker wajah dan APD untuk petugas kesehatan, polisi, dan petugas penting lainnya di Perancis. Mereka juga berkontribusi sebesar €1,2 juta untuk layanan darurat Prancis.

Grup Armani telah mengalihfungsikan semua pabrik produksinya di Italia untuk memproduksi APD sekali pakai bagi para pekerja kesehatan yang terlibat dalam perang melawan COVID-19. Selain itu, perancang busana juga berkontribusi total €2 juta kepada Departemen Perlindungan Sipil Nasional, srumah sakit di Milan, dan banyak lagi.

Pada tahap awal wabah global, LVMH sebagai grup luxury terbesar dunia mengumumkan sumbangan sebesar €2,2 juta kepada The Red Cross Society of China. Sejak itu, LVMH juga telah mengalihfungsikan pabrik-pabrik parfumnya menjadi produsen pembersih tangan dan berjanji untuk mengirim 40 juta masker wajah yang dipesan dari Cina ke Prancis untuk membantu meringankan kekurangan pasokan medis Prancis.

Di Italia, Versace telah menyumbangkan total $500.000 ke Rumah Sakit San Raffaele di Segrate dan National Chamber of Italian Fashion. Angka ini belum termasuk sumbangan sebesar €1 juta ke Yayasan Palang Merah Tiongkok pada bulan Februari lalu dan sumbangan pribadi Donatella Versace dan Allegra Versace Beck sebesar €200.000 ke unit perawatan intensif Rumah Sakit San Raffaele.

Banyak merek besar lainnya telah menyumbangkan dan berkontribusi apa pun yang mereka bisa. Sebagai individu kita dapat berkontribusi dengan mempraktikkan jarak sosial dan kebersihan yang ketat dalam upaya untuk meratakan kurva tingkat infeksi.