Berangkat dari naskah Babad Diponegoro, proyek 1830 Wearing Our Stories mengajak publik meninjau kembali warisan pemikiran pascakolonial yang masih membentuk cara masyarakat Indonesia memandang identitasnya. Melalui desain, dialog, dan imajinasi, Tulisan menciptakan ruang untuk menilik ulang sejarah.
Indonesia memiliki sejarah yang panjang dengan para penjajah. Dalam masanya, pemikiran menjadi salah satu aspek yang terdampak hingga saat ini. Melalui proyek 1830 Wearing Our Stories, Tulisan mengajak masyarakat untuk mendekonstruksi berbagai pemikiran pascakolonial yang masih melekat, sehingga dapat menceritakan kembali tentang identitas yang terpecah melalui desain, dialog, dan imajinasi.
Diadakan di Ruang Museum Koleksi, Taman Ismail Marzuki pada 5—9 Agustus 2026, 1830 menafsirkan ulang sejarah Jawa berteraskan naskah Babad Diponegoro ke dalam wujud desain sandang serta karya sastra yang mudah diakses. Kolaborasi antara Melissa Sunjaya dan Peter Carey, sejarawan asal Britania Raya penulis biografi Pangeran Diponegoro, menghasilkan buku 1830, koleksi Tulisan (Wearable artefacts), serta pameran. Dalam hal ini, Melissa menjelaskan bahwa proyek ini hadir atas keresahannya tentang pemikiran yang melekat pada masyarakat Indonesia.
“Dulu selama 15 tahun saya bekerja sebagai design brand strategis di luar negeri, seperti Nike dan Adidas. Itu semua dibuat di Indonesia, tapi not a single jenama atau brand dari Indonesia. So, why is that? What's the problem? Bukan karena kita tidak capable, tapi what’s the problem? Cara kita melihat diri kita sendiri ternyata,” jelas Melissa.
Dalam lanskap proyek ini, salah satu wearable art yang dihasilkan adalah kain hasil sablon tangan yang membutuhkan keterampilan dua hingga tiga pengrajin. Penggunaan metode sablon ini turut mengangkat kondisi para pengrajin sablon di Indonesia yang terjebak dalam warisan pemikiran kolonial.
“Artisan sablon sendiri mungkin hanya dibayar Rp800.000 per bulan, saya interview itu 1 tahun sebelum saya memulai Tulisan. Jadi cara melihatnya sebagai sesuatu yang mungkin rotten dan kita bisa meregenerasi itu menjadi sesuatu yang unik. Karena di luar negeri, sekali tarikan sablon bisa mencapai 100 EUR,” tutur Melissa.
Melissa juga menjelaskan bahwa seluruh karya yang ada tidak bertujuan untuk menjelaskan perihal originality, karena pada dasarnya desain dan ilustrasi dalam proyek ini berfungsi sebagai semiotik visual yang menyediakan ruang diskusi sejarah bagi masyarakat Indonesia.
“Semua yang ada di pameran ini, it's not about regionality, it's actually bukan tentang originality, tapi tentang regenerasi. Justru yang sulit adalah bagaimana kita meregenerasi sesuatu yang kita tidak pernah lihat menjadi sesuatu yang bisa kita pakai untuk solusi baru.”




