Share
Tehillim: Angel Pieters Menyuarakan Doa, Luka, dan Harapan Lewat Musik Worship
Putrika Annaya Salsabila
05 June 2026

Angel Pieters membagikan perjalanan spiritualnya melalui musik worship yang lahir dari pengalaman hidup, iman, dan kejujuran emosional.


Seiring bertambahnya usia, Angel Pieters semakin menyadari bahwa kekuatan musik tidak hanya terletak pada teknik atau panggung yang megah, tetapi pada pengalaman hidup, iman, dan ketulusan yang menyertainya. Di fase hidupnya saat ini, Angel tidak hanya dikenal sebagai penyanyi, tetapi juga seorang ibu yang tengah menjalani perjalanan baru dalam memahami makna karya, tujuan, dan kehidupan.

Bergabung di industri hiburan sejak usia delapan tahun, Angel tumbuh di tengah sorotan publik. Dalam perjalanan panjang itu, ia mengakui bahwa dulu musik lebih ia lihat sebagai ruang untuk meraih pencapaian dan pengakuan. Namun seiring waktu, perspektif tersebut berubah. Pengalaman hidup membawanya pada pemahaman bahwa musik tidak selalu tentang menjadi yang paling terdengar, tetapi tentang menyampaikan sesuatu yang benar-benar berarti.

Kini, prioritasnya bergeser. Musik bukan lagi sekadar soal prestasi, melainkan tentang menciptakan karya yang jujur, bermakna, dan bertahan lama. Lebih dari itu, ia ingin setiap karya yang ia hasilkan dapat menjadi sesuatu yang kelak bisa dibanggakan oleh anaknya.

Perjalanan emosional tersebut kini menemukan bentuk baru melalui keterlibatannya dalam proyek musik worship yang ditulis oleh Ibu Liliana Tanoesoedibjo. Dalam album ini, Angel berpartisipasi bersama sejumlah penyanyi Indonesia lainnya dengan membawakan dua lagu, yakni “Doa Bapa Kami – The Lord’s Prayer” bersama Maria Shandi serta “Ku Perlu Engkau Tuhan”.

Bagi Angel, kedua lagu ini bukan sekadar bagian dari karya musik, tetapi juga representasi dari perjalanan spiritual yang penuh penyerahan diri dan kejujuran emosional. Ia meyakini bahwa musik worship memiliki kekuatan yang berbeda, terutama ketika seseorang berada dalam kondisi terendah dan kesulitan untuk mengungkapkan perasaan melalui kata-kata biasa.

angel pieters

“Kadang kita ada di titik down, desperate, dan hanya ingin mendengar kata-kata yang menguatkan,” ungkap Angel. “Tapi worship itu sangat powerful. Tuhan tahu segalanya. Tuhan tahu hati kita, Tuhan tahu masalah kita. Kadang kita hanya perlu meluapkannya lewat worship.”

Menurutnya, worship bukan hanya tentang melodi atau lirik, tetapi tentang membuka hati sepenuhnya di hadapan Tuhan. Dalam momen-momen sulit, ia melihat worship sebagai ruang untuk melepaskan beban, menemukan ketenangan, dan kembali terhubung secara spiritual.

Pesan tersebut juga akan dihadirkan dalam panggung “Tehillim: The Heart of Worship”, konser worship sinematik pertama di Indonesia yang akan digelar pada 6 Juni 2026 di Jakarta Concert Hall. Konser ini menghadirkan deretan musisi seperti Judika, Lyodra, Anneth Delliecia, Faith, Samuel Cipta, Kris Tomahu, hingga Gery & Gany, dengan konsep pertunjukan yang memadukan orkestra, visual sinematik, dan storytelling spiritual.

Di tengah proses persiapan yang meliputi workshop, rekaman, hingga sesi kreatif, Angel menjalani setiap proses dengan rasa syukur dan antusiasme. Namun di luar seluruh produksi dan panggung, satu hal yang tetap menjadi fokus utamanya adalah menghadirkan musik yang dapat menguatkan hati orang lain dan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan.

Di balik perjalanan panjang dan pencapaiannya di dunia hiburan, Angel Pieters kini memperlihatkan sisi yang lebih dalam: seorang musisi yang menemukan bahwa karya paling bermakna lahir dari iman, ketulusan, dan perjalanan hidup yang sesungguhnya.