Share
Quiet Defiance, Tiga Suara Mode Indonesia di BRI JF3 Fashion Festival 2026
Annisa Laksmi
07 August 2026

Di tengah industri mode yang terus bergerak, keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk yang lantang. Terkadang, ia tumbuh melalui pilihan untuk tetap berkarya, menjaga nilai, dan menemukan cara baru untuk membawa identitas ke masa depan. Semangat inilah yang menjadi benang merah Quiet Defiance, fashion parade yang dipersembahkan Indonesian Fashion Chamber (IFC) dalam BRI JF3 Fashion Festival 2026.


Berlangsung pada 23 Juli 2026 di Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta, presentasi ini mempertemukan tiga desainer IFC dari tiga kota: Opie Ovie dari Jakarta, Weda Githa dari Denpasar, dan Rengganis dari Bandung. Meski datang dari latar kreatif yang berbeda, ketiganya memiliki cara masing-masing dalam menerjemahkan keteguhan melalui busana.



Partisipasi IFC menjadi bagian dari komitmennya untuk mendukung perkembangan ekosistem mode Indonesia sekaligus membuka ruang bagi desainer Tanah Air untuk membawa identitas lokal ke panggung yang lebih luas. Sejalan dengan tema BRI JF3 Fashion Festival tahun ini, “Recrafted: Shaping the Future,” karya yang ditampilkan menunjukkan bagaimana tradisi, kreativitas, dan inovasi dapat berjalan bersama.



Melalui koleksi Noblelitique, Opie Ovie melihat kembali batik nitik dengan pendekatan yang lebih modern. Motif geometris yang dikenal melalui proses pengerjaan penuh ketelitian diterjemahkan ke dalam busana urban dengan teknik seperti laser cut, 3D printing, serta bordir paillettes dan sequins. Siluet oversized, asimetris, dan palet monokrom membuat warisan budaya terasa lebih dekat dengan kebutuhan gaya hidup masa kini.


Sementara itu, Weda Githa menghadirkan Aeris Solenne Vol.2 melalui XANDER.G. Koleksi Spring/Summer 2027 ini mengeksplorasi pertemuan antara kelembutan dan struktur dengan pendekatan yang androgynous. Draperi lembut berpadu dengan tailoring tegas, menciptakan siluet yang fleksibel dan terbuka bagi ekspresi personal. Sebanyak 20 looks akan ditampilkan menggunakan material seperti wool, denim, dan linen, seluruhnya dibuat berdasarkan pesanan.




Berbeda dari keduanya, Rengganis membawa gagasan tentang merawat sebagai bentuk perlawanan melalui Midnight Garden. Terinspirasi dari bunga yang tumbuh dalam kegelapan, koleksi ini berbicara tentang kelelahan, penyembuhan, dan harapan. Serat alam, batik, lurik, dan endek dipadukan dengan bordir tangan yang rumit dalam palet warna bumi yang gelap. Kehadiran penyanyi Rahma Savitri turut memberi sentuhan khusus pada presentasi koleksi ini.


Ketiga desainer tersebut menunjukkan bahwa Quiet Defiance tidak memiliki satu bentuk. Ia dapat hadir melalui cara menjaga warisan, membuka ruang bagi kebebasan berekspresi, maupun merawat keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dari Jakarta, Denpasar, hingga Bandung, ketiganya membawa satu pesan yang sama: masa depan mode Indonesia terus tumbuh dari keberanian untuk tetap mencipta.