Bertahun-tahun berkarir sebagai atlet tenis, perjalanan Yayuk Basuki tidak lepas dari berbagai pilihan sulit. Dalam kesempatan ini, Yayuk ceritakan pengalaman yang melekat dalam dirinya.
Dunia tenis Indonesia tentu tidak asing dengan nama Yayuk Basuki, atlet handal yang telah membanggakan Indonesia pada berbagai kesempatan yang hadir untuknya. Lewat perjalanan profesional, Yayuk sering menginspirasi atlet muda Indonesia untuk percaya pada kapasitas diri hingga mencapai puncak internasional. Rangkaian perjalanan tersebut, Yayuk bagikan lewat wawancara eksklusif bersama HighEnd Magazine.
Berbagai pertandingan yang telah dilalui Yayuk tentu memberi kesan yang berbeda-beda, mulai dari Asian Games hingga Turnamen Grand Slam. Namun dalam kesempatan kali ini, Yayuk mengungkapkan bahwa terdapat 2 pertandingan yang melekat lebih dalam di benaknya.
“Ada dua. Saat saya juara Asian Games di Bangkok, itu untuk sektor tunggal. Walaupun saya meraih medali emas Asian Games sebanyak empat kali, tapi saya menutup dunia tenis saya sebagai juara tunggal di Asian Games Bangkok tahun 1998. Lalu kalau di profesionalnya sendiri, saya memang masuk atau tembus quarter final di Wimbledon. Itu menurut saya memorable,” tuturnya.
Tidak hanya itu, ia juga bercerita bahwasannya pencapaian ini turut menjadi pengingat bagi atlet tenis Indonesia, bahwa mereka mampu berjuang di ranah internasional.
“Memorable tidak hanya untuk diri saya sendiri. Tapi saya merasa itu membuka mata internasional bahwa Indonesia mampu mencetak pemain tenis dan juga membuka dunia profesionalisme di Indonesia sendiri,” ungkap Yayuk.

Dalam perjalanan profesionalnya, Yayuk tentu pernah berpikir mengenai berbagai kemungkinan jika ia memilih pilihan lain dalam perjalanannya, salah satunya memulai karir profesional lebih awal.
“Bukan penyesalan, tapi second thoughts. Coba saya mulai lebih muda untuk terjun ke profesional, karena saya terjun profesional di usia 20 tahun, sebetulnya relatif terlambat. Mungkin kalau saya terjun profesional di usia 16 tahun, barangkali mungkin saya sudah di top 10 dunia. Jadi itu lebih ke kesempatan, kesempatannya lebih panjang yang saya miliki,” cerita Yayuk.
Namun seperti yang diungkapkan oleh Yayuk, ia tidak pernah menjadikan hal tersebut sebagai penyesalan. Ia menjadikan pengalaman tersebut sebagai pesan kepada atlet-atlet muda untuk tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang dimiliki, barangkali kesempatan hanya datang sekali seumur hidup.
Bertahun-tahun perjalanan Yayuk, berbagai pilihan terus hadir dalam persimpangan penentu karirnya. Hal ini terjadi ketika Yayuk memutuskan untuk memilih mewakili Yogyakarta dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) dan merelakan salah satu pertandingannya di US Open meski tetap mengikuti pertandingan sampai akhir. Namun dalam hal ini, Yayuk menganggap momen tersebut merupakan salah satu momen yang membentuk mentalnya sebagai atlet.
“Tetap main sampai akhir, tapi tidak fight, karena akhirnya memilih pulang untuk bermain di PON, karena sebuah komitmen. Komitmen itu tidak bisa hanya sekadar janji. Tapi saya hidup dengan itu, komitmen terhadap waktu, disiplin terhadap waktu. Itu juga yang akhirnya menjadikan kita lebih tough, menjadikan kita atlet yang lebih kuat dan mentally strong,” ujarnya.
Namun sedari awal karirnya sebagai atlet tenis hingga saat ini, yang sudah pasti mengalami pasang surut, Yayuk tidak pernah mengubah pandangannya. Ia tetap meyakini bahwa profesinya sebagai atlet tenis merupakan profesi yang ideal baginya.
“Pandangan saya tidak pernah berubah, saya tetap yakin bahwa tenis ini bisa dijadikan profesi,” tegas Yayuk.

Di masa tuanya, Yayuk tetap aktif sebagai pelatih tenis dan mengikuti berbagai agenda tenis lain, salah satunya sebagai Legend Brand Ambassador Singapore Tennis Open (STO) yang akan dilaksanakan pada 21—27 September 2026.





