Share
Google dan YouTube Ajak Orang Tua Bangun Ruang Digital yang Aman 
Hanna Christi Dwimei
08 June 2026

Seiring meningkatnya aktivitas anak di dunia digital, kebutuhan akan ruang digital yang aman menjadi hal utama. Menyadari hal itu, Google dan Youtube memperkenalkan berbagai fitur yang memberikan kendali kepada orang tua, sehingga membantu keluarga menciptakan kebiasaan digital yang baik.


Pada era digital yang semakin berkembang, menjadi tantangan bagi orang tua untuk memastikan pengalaman digital yang aman bagi anak. Berangkat dari kondisi tersebut, Google dan Youtube merilis berbagai fitur yang memberikan kendali kepada orang tua untuk mengontrol segala yang dikonsumsi anak di dunia digital. Berbagai fitur yang dirilis meliputi Shorts Timer, Take a Break Reminder, Bedtime Reminder, pengaturan konten, serta Family Center.

Sebagai bagian dari komitmennya dalam melindungi anak di ruang digital, Google Indonesia melalui Dora Songco, selaku Product Marketing Manager, Brand and Reputation menegaskan pentingnya keamanan anak dalam pengembangan produk dan layanannya.

“Sebuah janji dari kami untuk mengutamakan keamanan di platform kami. Bahwa prinsip kami adalah melindungi anak dan remaja di dunia digital, bukan membatasi mereka dari dunia digital,” jelasnya.

Namun perlu diketahui bahwa perlindungan terhadap anak tetap membutuhkan orang tua sebagai fondasi utama dalam membantu anak membangun hubungan yang sehat dengan dunia digital.

Aksi Digital Google dan YouTube

Marsha Tengker, seorang psikolog klinis, menjelaskan bahwa internet seharusnya menjadi sarana belajar bagi anak. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan teladan dalam menggunakan internet secara bijak, serta memenuhi kebutuhan anak secara emosional.

“Karena pada dasarnya ketika anak sudah tahu kebutuhannya sendiri, anak akan mencari sesuai dengan porsinya. Jadi kalau kebutuhan akan kehangatan sudah didapat dari orang tua, anak tidak akan mencari dari internet. Tapi memang internet menjadi tempat belajar dan menyalurkan kreativitasnya, namun untuk hal-hal yang berhubungan dengan interaksi antarmanusia sudah terpenuhi di dunia nyata,” tuturnya.

Marsha turut berpendapat bahwa kunci dari mendidik anak di era digital terletak pada keseimbangan antara perlindungan dan kepercayaan. Orang tua perlu memberikan batas yang sesuai dengan usia anak, namun tetap membangun hubungan yang membuat anak merasa didengar dan dipercaya.

“Kalau kita ngomongin memberikan perlindungan dan juga kepercayaan, perlu diseimbangkan sesuai umurnya dan memberikan pengertian. Kalau anak sudah percaya sama kita, kita kasih peraturan apa saja, anak akan dengar. Tapi kalau anak tidak percaya sama kita, anak juga tidak mau mengikuti peraturan kita. Karena melindungi tanpa kepercayaan itu menghasilkan ketakutan, sedangkan kepercayaan tanpa perlindungan menghasilkan kerentanan,” ujar Marsha.

Di sisi lain, kekhawatiran orang tua terhadap kemampuan anak untuk beradaptasi di era yang terus berkembang kerap menimbulkan kebimbangan antara memberikan akses atau membatasi penggunaannya. Namun, Nanda Yurani, seorang guru dan kreator konten, menjelaskan bahwa kemampuan adaptasi bukanlah persoalan utama. Menurutnya tantangan sesungguhnya adalah memastikan kemampuan tersebut diimbangi dengan kematangan emosional dan critical thinking.

“Jangan khawatir anak-anaknya tidak bisa beradaptasi, justru mereka sangat amat mudah beradaptasi dengan teknologi. Yang mengkhawatirkan adalah anak adaptasi teknologi dengan cepat tapi tidak diimbangi dengan kematangan emosional dan critical thinking-nya,” jelas Nanda.

Oleh karena itu, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, berbagai fitur yang dikeluarkan oleh Google dan Youtube menjadi mitra bagi orang tua dalam mendampingi anak di dunia digital. Sehingga ketika perlindungan digital berjalan beriringan dengan peran orang tua, anak akan memiliki bekal yang lebih baik untuk mengeksplorasi dunia digital.