Dalam era digital yang menuntut berbagai hal baru, Ditha Amalia menemukan makna dalam hal-hal yang ia cintai. Ini adalah filosofi yang ia bawa, baik melalui kecantikan maupun persepsi dirinya sendiri.
Terdapat paradoks yang menarik dalam dunia kecantikan akhir-akhir ini. Semakin banyak produk yang diciptakan untuk meningkatkan rasa percaya diri, namun semakin banyak pula orang yang merasa dirinya belum cukup. Dalam algoritma media sosial yang terasa dikuasai dan dikendalikan, mereka mulai menciptakan standarisasi kecantikan yang dianggap ideal, kulit putih, riasan sempurna tanpa tekstur, hingga berbagai rutinitas kecantikan yang semakin rumit dan panjang.
Di tengah arus tersebut, Ditha Amalia mengambil posisi yang nyaris berlawanan. Ia tetap melihat tren dan setiap produk baru yang bermunculan. Namun dengan mengenal karakteristik dan kebutuhan dirinya, Ditha tidak menganggap semuanya harus dimiliki.
“Saya memang mengikuti tren makeup, namun tidak saya aplikasikan ke diri saya. Saya ingin memberi tahu audiens bahwa kita tidak perlu FOMO membeli produk yang memang tidak sesuai dengan kebutuhan,” ujar Ditha.
Pernyataan yang diberikan Ditha memang terdengar sederhana. Namun di dalam industri yang hidup dari rasa ingin memiliki, imbauan tersebut menjadi sesuatu yang cukup radikal, tentunya dalam hal perubahan yang lebih baik.
Lebih jauh, cara pandang tersebut tidak hadir begitu saja. Sebelum menjadi content creator, Ditha memang sudah menjadikan kecantikan sebagai bagian dari dunianya. Hal itu tumbuh ketika ia menyaksikan ibunya yang turut berirama dengan dunia kecantikan dalam rutinitas hidupnya. Mungkin karena itulah hubungan Ditha dengan makeup terasa berbeda. Ia tidak membicarakan bagaimana make-up sebagai sesuatu yang dapat mengubah seseorang. Baginya, makeup hanyalah media untuk mempertegas karakter yang sudah ada di dalam dirinya.

Namun sama seperti perempuan lain, perkembangan diri Ditha turut dimulai dari fase yang tidak mudah. Untuk sampai di titik ini dan berdamai dengan dirinya, ia turut terbawa arus standarisasi kecantikan yang mendominasi media sosial pada awal karirnya. Estetika kecantikan yang seragam membuat Ditha sempat kehilangan makna kecantikan itu sendiri.
“Saya dulu ingin sekali sama seperti beauty content creator lain yang kulitnya putih bagus. Tapi akhirnya saya sadar, saya tidak bisa seperti itu,” tuturnya.
Kesadaran itu perlahan mengubah arah seluruh kontennya. Alih-alih menciptakan karya dengan standar yang sama, ia memilih berbicara kepada perempuan yang mungkin tidak terwakili selama ini.
“Saya ingin memberitahu bahwa tidak apa memiliki kulit gelap. Kita tetap bisa membuat make up kita stand out,” jelas Ditha.
Di sinilah benang merah dari seluruh pemikiran Ditha mulai terlihat dengan jelas. Apa yang ia yakini tentang kecantikan turut diterapkan dalam caranya berbusana. Keduanya tidak pernah diposisikan sebagai instrumen mengejar pengakuan dan nilai dari dirinya, melainkan sebagai cara berkomunikasi dengan sesuatu yang lebih personal. Oleh karena itu, di tengah algoritma yang mengarahkan kita untuk bersikap konsumtif, Ditha justru menjelaskan konsekuensi alami dari hubungan yang lebih sadar dengan apa yang sudah kita miliki.
“Saya memang suka pakai outfit berulang. Saya juga ingin memberi pesan jika tidak apa-apa memakai baju yang sama. Kita tetap bisa stand out.”
Pada akhirnya, dalam dialog ini, Ditha tidak hanya berbicara perihal makeup dan busana. Ia menyampaikan tentang berbagai pilihan yang dapat kita pilih. Pilihan untuk tidak mengikuti setiap tren, pilihan untuk tidak membandingkan diri dengan standar dikendalikan, hingga pilihan untuk mengenal diri sendiri sebagai wujud dari kecantikan yang sebenarnya.





