Share
AARO: Pameran Perdana Empat Seniman di CAN’S Gallery, Jakarta
Regina Olivia Arismunandar
27 April 2026

Pameran tahunan ketiga belas dari program inkubasi seni Atreyu Moniaga Project menampilkan lebih dari empat puluh lukisan karya seniman pendatang baru yang mengeksplorasi tema seputar pencarian jati diri dan observasi keseharian di lingkungan urban.


Atreyu Moniaga Project (AMP) dengan bangga mempersembahkan ‘AARO’, sebuah pameran karya Ada Khansa, Ansn Martin, Red Maerra, dan Oddyendry di CAN’S Gallery, Jakarta Pusat. Ini merupakan pameran perdana para seniman, baik secara individu maupun sebagai kolektif, yang menandai selesainya program inkubasi seniman Atreyu Moniaga Project angkatan ke-13 yang telah berlangsung selama sembilan belas bulan sejak September 2024.

Nama ‘AARO’ diambil dari inisial keempat seniman. Judul ini juga terinspirasi dari istilah yang berarti “kekuatan gunung.” Menurut Ada Khansa, nama tersebut berfungsi sebagai doa dan pengingat penuh harapan untuk tetap tegar saat keempat seniman memulai babak baru dalam praktik kreatif mereka.

Pameran ‘AARO’ menampilkan lebih dari empat puluh karya seni dengan berbagai media di atas kanvas. Refleksi pribadi tentang pengalaman tumbuh dewasa dan pengamatan sosial menjadi benang merah yang menghubungkan empat seri lukisan, masing-masing dengan bahasa visual dan karakteristik khas sang seniman. Ada Khansa mempersembahkan ‘Sandbox’, dengan 10 lukisan yang menggambarkan pergulatan batinnya sejak masa kanak-kanak. Renungan tentang persepsi diri dan nilai-nilai yang berubah seiring waktu menjadi tema sentral dalam 10 lukisan seri ‘WOY!’ karya Ansn Martin. Red Maerra, melalui ‘ASLPLS’, menghadirkan 15 lukisan yang mengkaji paradoks keterasingan di tengah dunia yang terus-menerus terhubung ini. Sebelas lukisan dalam seri ‘Tungkal’ karya Oddyendry mengeksplorasi perjalanan pulang ke kampung halamannya dan proses menerima masa lalu apa adanya.

Pameran Seni AARO

Dalam mempersiapkan ‘AARO’, keempat seniman ini tidak hanya mengasah kemampuan teknis penciptaan karya tetapi juga terlibat langsung dalam penggalangan dana pameran, perancangan publikasi dan pengarsipan, hingga koordinasi produksi pameran dan berjejaring dengan pelaku ekosistem seni rupa.

Atreyu Moniaga, selaku penggagas dan mentor utama AMP menekankan pentingnya seniman muda peserta inkubasi ini untuk memahami praktik berkesenian seniman sebagai proses menyeluruh. “Seringkali kita menganggap menjadi seniman adalah kehidupan yang selalu glamor dan menyenangkan—berkarya tanpa beban, berpesta, tampil stylish setiap saat. Kita mungkin lupa atau luput melihat sisi lain yang membosankan, melelahkan, bahkan menyakitkan—revisi, deadline, kritik, konflik dengan tim, dan segala jatuh-bangun dalam proses persiapan pameran. Saya salut dengan komitmen AARO: mereka bekerja dengan sangat keras sehingga hasilnya terlihat begitu mudah untuk digapai. Padahal seperti mendaki gunung, prosesnya tidak gampang,” ujar Atreyu.

Program inkubasi dan pameran ‘AARO’ kembali melibatkan kolaborator AMP yaitu Wilhemus Willy sebagai Perancang Grafis, Joshua Agustinus sebagai Perancang Pameran, dan Nin Djani sebagai Penulis. Keseluruhan proses inkubasi dan karya pameran juga diarsipkan dalam buku ‘AARO’ yang dicetak secara mandiri dan terbatas. CAN’S Gallery menjadi mitra pendukung ‘AARO’. “Selama lebih dari dua dekade, CAN’S selalu berkomitmen untuk memberi ruang tumbuh bagi seniman, kurator, kolektor dan institusi seni rupa Indonesia. Kami sangat bangga bisa terlibat dalam perjalanan awal para seniman AARO,” ujar Inge Santoso, direktur dari CAN’S Gallery.

Pameran ‘AARO’ dibuka untuk publik selama 18 April hingga 11 Mei 2026.

Photos by Atreyu Moniaga