Art & Culture 05 November 2026

Film Animasi The Cat in the Hat: Sinopsis, Pemain, dan Jadwal Tayang

ByAfrida Damayanti

Warner Bros. Pictures Animation memulai kisahnya tepat ketika buku Dr. Seuss berakhir, dengan sang Kucing sebagai agen yang bertugas menghibur anak-anak.


Warner Bros. Pictures Animation, yang menjadikan film The Cat in the Hat sebagai karya panjang pertamanya. Film ini tayang di bioskop dan IMAX® Amerika Utara pada 6 November 2026, dan secara internasional mulai 4 November, dengan Warner Bros. Pictures sebagai distributor di seluruh dunia.

Di film ini, sang Kucing adalah karyawan. Ia bekerja untuk I.I.I.I., singkatan dari Institute for the Institution of Imagination and Inspiration, LLC, lembaga yang mengirim agen ke rumah-rumah untuk menghibur anak-anak yang sedang membutuhkannya. Kantornya dihuni sosok-sosok yang tak kalah ganjil, mulai dari Sherrie dari HR, sahabat yang paling percaya pada potensinya, Gary si anak magang yang menjaga lemari perlengkapan, hingga Mr. Hoogeboom, atasan yang berbentuk pipih seperti pancake. Persoalannya, metode sang Kucing selalu berujung pada kekacauan. Mr. Hoogeboom mengancam mengambil pekerjaan sekaligus topi ajaibnya bila ia tak membenahi cara kerjanya.

Ujian itu datang lewat Gabby dan Sebastian. Bersama ibu mereka, Carmen, keduanya baru pindah ke kota lain karena sang ibu menerima pekerjaan baru. Gabby kehilangan teman-teman dan grup marching band yang sangat berarti baginya, sedangkan Sebastian yang periang hanya ingin kakaknya kembali mau bermain bersama. Sang Kucing tiba saat keduanya sedang membongkar kardus pindahan. Rumah baru itu dikelola Patty, pemilik kontrakan yang memegang aturan dengan ketat dan melarang hewan peliharaan. Padahal Sebastian membawa ikan mas bernama Waffles, yang berkat sihir sang Kucing mendadak bisa bicara.

Kardus-kardus itu kemudian menjadi pintu menuju dunia lain. Setiap kotak membuka lanskap yang dibentuk oleh kepribadian dan kenangan pemiliknya. Dunia Sebastian dipenuhi mainan dan ciptaannya, dunia Gabby tersusun dari kabut nostalgia yang terus berubah, dan dunia sang ibu dirancang sebagai perjalanan bertahap menuju sosok yang sebenarnya. Dalam perjalanan itu mereka bertemu Narwhal Peramal yang baru bisa melihat masa depan bila semua orang cukup bahagia, juga ratusan Thing yang berkomunikasi lewat tepukan dan hentakan.

Sutradara Erica Rivinoja dan Alessandro Carloni, yang menulis naskahnya bersama berdasarkan cerita layar Caroline Williams, menyebut bukunya sangat ringkas sehingga ada ruang luas untuk bertanya apa yang terjadi sesudahnya. Carloni mulai dari pengamatan sederhana. Di buku, anak-anak tampak murung di awal, tetapi duduk lebih tegak dan lebih percaya diri ketika ibu mereka pulang. Dari situ lahir gagasan bahwa sang Kucing mungkin semacam psikolog anak yang menyamarkan pertolongannya sebagai hari penuh pelanggaran aturan. Ini debut penyutradaraan bagi Rivinoja, penulis yang pernah masuk nominasi Oscar. Carloni, yang sebelumnya menangani Kung Fu Panda dan How to Train Your Dragon, baru kali ini menulis film panjang.

Bill Hader menyuarakan sang Kucing dan menjadi produser eksekutif. Ia mengaku membacakan buku itu untuk ketiga anaknya, dan sebagian improvisasinya masuk ke naskah. Salah satunya adegan ketika sang Kucing menyebut kardus sebagai benda paling menakutkan di dunia, yang ia bawakan dengan suara narator film fiksi ilmiah era 1940-an. Quinta Brunson menyuarakan Sherrie, Matt Berry menjadi Waffles dengan nada sinis ala aktor panggung klasik, dan Giancarlo Esposito mengisi suara Mr. Hoogeboom. Bowen Yang memerankan Gary, Xochitl Gomez menjadi Gabby, Tiago Martinez menjadi Sebastian, dan America Ferrera menjadi Carmen. Tituss Burgess menyuarakan Narwhal Peramal, sementara Paula Pell menjadi Patty.

Secara visual, film ini tidak bertumpu pada satu gaya. Dunia Seuss digarap dengan garis tegas, warna berani, dan banyak ruang kosong yang merujuk pada ilustrasi asli sang pengarang. Dunia nyata memakai animasi 3D yang lebih membumi dan bertekstur, sedangkan dunia kardus memadukan tampilan grafis 2D dengan kedalaman ruang 3D. Animasinya dikerjakan bersama studio DNEG. Warna turut menopang cerita. Art director Amos Sussigan menjadikan merah sebagai penanda koneksi di masa kini. Film dibuka dengan palet yang nyaris hitam-putih, hanya merah dan empat warna dari buku aslinya, lalu bertambah kaya seiring eratnya hubungan antar tokoh.

Para Thing mendapat perlakuan khusus. Koreografer Christopher Scott bersama para penari dari beragam latar, termasuk veteran pertunjukan Stomp, menyusun kosakata gerak lengkap dengan kata dan kalimat, dan bila dua kata terlalu mirip, sudut tangan diubah hingga lahir kata baru. Dari sisi musik, Lorne Balfe merekam skor bersama 124 musisi di Abbey Road, yang disebut sebagai orkestra terbesar yang pernah direkam di studio itu. Nuansa big band yang nostalgik dipadukan dengan terompet, instrumen yang melekat pada latar belakang Gabby di band sekolah.

Para pembuatnya merumuskan inti film ini pada pertanyaan tentang arti rumah. Menurut Carloni, rumah adalah tempat orang-orang tercinta berada, tempat seseorang bisa hidup sepenuhnya pada saat ini. Bill Damaschke, Presiden dan Chief Creative Officer Warner Bros. Pictures Animation, berharap penonton pulang dengan keinginan untuk bermain dan berimajinasi lagi. Film ini diproduseri Daniela Mazzucato dan Jared Stern, disunting Dan Molina, dan dibuat bersama Seuss Enterprises yang CEO-nya, Susan Brandt, turut menjadi produser eksekutif. Ini kerja sama pertama Seuss Enterprises dengan Warner Bros. Pictures Animation.